Kamis, 31 Maret 2016

Genre: Dystopia

Anggap saja kita telah tiba di hari-hari yang menggelap. Ketika oksigen tak mampu mencapai dada dan udara semurni apa pun akan berarti sesak. Matahari diselimuti debu tebal yang membuat sinarnya patah-patah. Bencana pernah terjadi ketika bahkan semangkuk indomie kuah nikmat di hari sehabis hujan tak sanggup dinikmati seperempatnya saja. Kiamat ketika itu terjadi berkala, kesenduan yang mengunyah nafsu makan dengan rakusnya. Atau menelannya bulat-bulat seperti raksasa yang menelan matahari dan bulan di waktu gerhana. Bedanya, raksasa memuntahkannya lagi setelah genderang ditabuh-tabuh, sedangkan kesenduan malah mencernanya menjadi kesenduan berikutnya.

Pada hari itu, kamu sudah tahu di mana koper daruratmu yang sengaja kamu kosongkan. Di perjalanan nanti terlalu banyak yang akan perlu kamu angkut dan bawa kabur. Jika nanti hari benar-benar menggelap, kakimu yang telah kaulatih jalan mundur akan membawamu keluar orbit, perlahan-lahan. Terdengar mudah, tapi dari jarak ribuan tahun pun ngilunya tak tahu diri.

Bagi sebagian orang, kelegaan didapat cuma-cuma. Bisa jadi itu yang disebut-sebut surga selama ini. Namun untuk sebagian orang lainnya, kelegaan harganya mahal. Kakimu harus patah, setidaknya lecet. Lehermu mau putus, minimal gatal-gatal. Mimpimu buruk lagi, buruk lagi, buruk lagi. Sampai nafasmu lompat-lompat, nyaris tandas.

Tapi pantas.