Sabtu, 31 Oktober 2015

Sometimes I Want to be The Open Ending

"If there had been a door within reach that led straight to death, he wouldn’t have hesitated to push it open, without a second thought, as if it were just a part of ordinary life. For better or for worse, though, there was no such door nearby."

Ada jeda sebentar waktu saya membaca halaman awal dari Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage karya Haruki Murakami di atas. Saya kaget karena saya pernah membayangkan hal yang sama: andai kematian bisa berupa sebuah pintu (secara harfiah) yang bisa kita masuki begitu saja. Tak butuh tambang, puluhan pil, atau pun silet yang kesemuanya terdengar menyakitkan. Hanya perlu buka pintu dan langkahkan kaki layaknya masuk ke kamar mandi. Namun sayangnya, seperti yang juga ia tulis, there was no such door nearby. Yah nggak ada pintu macam itu.

Kata Hayao Mizayaki.
Seorang kawan pernah bilang dia tak mau lagi baca apa pun dari Murakami. Dia bosan dengan ketidakjelasannya, dengan karakter-karakter dan kegelapan yang sama di banyak buku. Saya setuju. Banyak novelnya tak punya akhir yang jelas (selalu open-ending), karakter-karakternya begitu lagi, dikelilingi oleh kerumunan masalah yang itu lagi, dibayangi oleh kedepresian yang serupa. Namun bedanya, saya belum bosan juga. Rupanya yang saya nikmati dari Murakami bukan hanya cerita. Yang saya nikmati dari buku-bukunya adalah bagaimana perasaan-perasaan buntu, gelap, dan kalah muncul dengan begitu wajar, begitu normal. Bagaimana keinginan untuk mati pun menjadi biasa saja ketika kita pelan-pelan berkenalan dengan si tokoh utama yang menjelaskannya sambil mencuci pakaian, menjemurnya, menunggunya kering sambil mendengarkan radio, dan menyeterikanya. Bahwa orang yang ingin mati masih mengurusi baju kotornya.

Murakami mewakili perasaan kita (paling nggak saya) yang merasa hidup ini kadang terasa sesempit kakus umum di stasiun-stasiun Jabodetabek dengan tingkat oksigen setipis di gerbong saat rush hour. Ketika sampai di stasiun tujuan, pintu pun terbuka, oksigen berhamburan, lega, menyiapkan kartu untuk ditepuk, centang hijau-berhasil, tapi tetap,

tak ada pintu semacam itu.

Minggu, 18 Oktober 2015

Bukan Selfie

Akhir-akhir ini lagi senang ambil gambar muka-muka orang nggak dikenal secara acak. Muka-muka orang yang nggak niat berfoto.

Lokasi foto: Ciamis & Pasuruan (Juli & Oktober 2015)