Rabu, 09 September 2015

Kebas

Ada yang salah ketika semua hal yang saya suka tiba-tiba terasa hambar. Ketika hal-hal yang bisa buat saya lupa makan tidak lagi menarik. Serial dan film yang bisa buat saya tenggelam sampai mata layu dan sel-sel tubuh teriak minta tidur menumpuk di folder "nonton". Habis satu episod atau satu judul saja sudah syukur. Kadang musik cukup membantu meski dalam dua bulan harus bermusuhan dengan earphone. Tapi ternyata buku lebih bersahabat baik dengan sendu. Yang menurut saya parah, hal tersebut sudah lama terjadi namun baru disadari. Seperti kanker yang sudah lama ada namun baru terdiagnosis kemarin sore. Isi kepala bergulung-gulung mengalir deras. Namun mentok di ubun-ubun kepala, di ujung lidah dan gemeretak gigi, di antara jari dan keyboard, di jeda-jeda umpatan dan kelakar yang keluar tanpa mampir di kepala, di dada. Seperti dinamit yang sudah tersulut namun tak juga meledak. 

Tak bisakah isi kepala menyublim saja seperti kapur barus? Entah kenapa tiba-tiba potongan puisi Ursula K. Le Guin berjudul The Skin berikut ini begitu menggoda.
If we were skinless, like a cloud,
would we not mingle with the crowd?
Would not our little bodies be
more boundless even than the sea,
and gaseous as the atmosphere?
Would we be there as well as here?