Selasa, 02 Juni 2015

Keresahan yang Tidak Hambar

Puisi yang saya suka adalah yang saya rasa dekat. Tidak dipaksa, bukan ikut-ikut belaka, bukan juga budak dari aturan what not-how to. Keresahannya sampai. Kesedihan yang bikin rusuh hati saat dibaca. Makanya, saya tidak begitu menikmati puisi-puisi beats, misalnya, bukan karena puisinya tidak bagus, tapi memang simply saya tak pernah relate dengan struggle dalam tulisan-tulisan mereka. Saya tidak merasa dekat dengan tema-tema khas beats yang biasanya soal pelarian dari sistem lama, pencarian spiritual (barat-timur), psikadelik, dan eksplorasi seksual; sejauh saya membaca sejumlahnya (siapa tahu suatu hari saya baca puisi beats yang relate buat saya). Mungkin karena saya bukan anak muda Amrik pasca-Perang Dunia II dan masalah saya belum sampai penolakan ekstrim terhadap materialism, melainkan masih mentok di angkot busuk dan kereta mogok. Buat saya, masalah-masalah mereka nggak lebih dari white people first world problem.

Perasaan tidak relate ini sama halnya dengan perasaan kosong saya setelah nonton Eat, Pray, Love. Lagi-lagi ini mungkin karena saya bukan white with privileged yang tinggal di negara dunia pertama yang dengan tiket “unhappiness” dan “emptiness” bisa tinggalin semua: makan di Italy, main di ashram, dan bercinta di Bali. Maka kesedihan semacam itu jadi keliru buat saya. Seperti juga keharuan yang hambar buat saya ketika menonton McCandless meninggalkan keluarga dan mobilnya di tengah jalan dan membakar uangnya. Mungkin karena buat saya ibu-ibu di Pasar Minggu yang jual kue tiap subuh dan petang cari nasi buat anaknya jauh lebih deep ketimbang Candless yang menerjang alam sambil baca buku.

Sebaliknya, saya menemukan keresahan dan kesedihan yang relevan juga dalam di puisi-puisi seperti milik Wiji Thukul, Afrizal Malna, Charles Bukowski, juga Rashid Hussein yang mau saya kutip di bawah ini. Keresahan tersebut tak harus selalu langsung saya alami. Namun saat baca puisinya, dada saya ikutan sakit.
Setelah sewa rumah habis
Kami harus pergi
Terus nyewa lagi
Terus nyewa lagi
Alamat rumah kami punya
Tapi sayang
Kami butuh tanah

("Sajak Tapi Sayang", Wiji Thukul, 1991)

Afrizal Malna tak pakai cara puitis pandangan kebanyakan orang. Bahkan kadang kata-katanya tampak tak beraturan. Tapi puisi-puisinya adalah hari-hari kita. Hari-hari orang Indonesia. Setidaknya orang Jawa.
“...tetapi lihat anak-anak muda di sudut cafĂ© itu, dengan gaji 2000 dollar per bulan, mereka tak mengubah apa-apa. hanya mendesak tanahmu jadi kantong-kantong plastik.”
("cafe dan malam 2000 dollar", Afrizal Malna, 1995)

Bukowski, meski tinggal di Amrik, tapi banyak puisinya bertema unprivileged. Mungkin ini karena ia tinggal di lingkungan imigran Meksiko. Ketidakberadaan adalah kesehariannya, bukan hal yang ia kejar.
"I feel sad for
everybody, for all the struggling people
everywhere, trying to get the rent paid on time,
trying to get enough food, trying to get
an easy night’s sleep."
("the Mexican fighters", Charles Bukowski)

Rashid Hussein adalah penyair Palestina. Oh, kurang nyata dan kurang menggetarkan apalagi keresahan (ketidakadilan) yang dialami orang-orang Palestina?
"I was born without a passport
I grew up
and saw my country
become prisons"
"I came to you
and revolted against you
so slaughter me
perhaps I will then feel that I am dying
without a passport"
("Without a Passport", Rashid Hussein, 1990)


Tidak ada komentar: