Jumat, 03 April 2015

Confuzzled #1

Suatu hari kita akan menganggap hidup sebagai kekosongan yang hanya perlu kita isi dengan teh hangat yang diseduh bersama sereh dan pisang keju di sore hari. Kita akan tinggal di sebuah rumah pedesaan yang pernah kita lihat di salah satu film Ghibli. Bersama sepeda kumbang dengan keranjang kayu di depannya persis ilustrasi Miyazaki. Yang kita kayuh untuk membeli susu segar setiap pagi. Di dapur, kita akan menggoreng telur untuk sarapan dan kemudian membagi dua surat kabar hari itu. Aku membaca bagian headline dan kau tajuk rencana. Atau hanya menonton berita di televisi dan meledeknya bersama-sama. Namun, rasa-rasanya kita akan lebih sering bertengkar soal musik apa yang akan diputar pagi itu.

Suatu hari kita akan menganggap hidup sebagai kekosongan yang hanya perlu kita isi dengan lelah dan kesal yang kita tumpahkan sambil menonton serial kesukaan untuk entah keberapa ratus kalinya. Adu argumen soal siapa yang lebih punya banyak alasan untuk mati di antara bintang-bintang film yang bunuh diri. Merapalkan ayat-ayat Bukowski sebagai pelampiasan kemarahan kita pada apa pun. Atau baris-baris suicidal Sylvia Plath untuk barang sebentar lebih mempertanyakan hidup.

Tidak ada komentar: