Sabtu, 05 Desember 2015

Lima Belas Menit Rapalan Tanpa Beat Jay Electronica

Awal tahun ini pertama kali saya dengar lagu rap paling puitis dari Jay Electronica berjudul "Act I: Eternal Sunshine (The Pledge)". Dengan begitu ambisius, dalam 15 menit Jay menggunakan potongan film, orasi, dan bentuk suara lain sebagai sampel di sela-sela rapalannya.

Di Sabtu sore itu, saya mendengarkan lagu ini sambil ketiduran. Di bagian keempat, sebelum part "Voodoo Man", terdengar suara anak-anak bicara bahasa yang saat itu saya ragu antara bahasa Persia atau Kurdi (cek ke menit 10:55 di SoundCloud). Saya yang setengah tidur sambil dininabobokan oleh lagu ini di earphone pun setengah memimpikan film yang sudah lama saya tonton, Turtles Can Fly (2004). Mungkin karena kebetulan (atau bukan) dan minimnya tontonan film berbahasa Kurdi saya, setelah saya cari tahu kemudian, ternyata memang sample yang digunakan oleh Jay Electronica di bagian tersebut berasal dari film Turtles Can Fly, sebuah film Kurdi tentang kehidupan anak-anak kamp pengungsi Kurdi di perbatasan Irak dan Turki.



Dari video YouTube di atas (cek menit ke:4.14), sampel dialog yang diambil dari film tersebut berasal dari adegan ketika seorang anak tunanetra berjalan mendekati ranjau dan sekumpulan anak-anak lainnya memberikan instruksi dari seberangnya. Bagian lagu yang bikin saya merinding setiap kali mendengarkannya ulang.

Bisa jadi Jay Electronica adalah salah satu rapper yang masih bisa diharapkan yang mampu masuk ke label dan jaringan besar saat ini (dikontrak oleh Roc Nation-nya Jay Z pada 2010). Kemampuannya memainkan kata, momentum, rima, jeda, dan penempatan elemen bunyi lainnya begitu cerdik dan tangkas. Lima belas menit "Act I: Eternal Sunshine (The Pledge)” diiringin oleh musik dari soundtrack film Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) dari Jon Brion. Lima belas menit rap tanpa drum dan beat.


“I took Eternal Sunshine and I looped it
No drums no hook just new shit”


 Musik asli dari Jon Brion – “Collecting Things”


Jay Electronica tampaknya pecinta film, selain film Turtles Can Fly dan menggunakan soundtrack sebagai pengiring liriknya, rapper bernama lahir Timothy Elpadaro Thedford ini juga menggunakan potongan film Willy Wonka & The Chocolate Factory (1971) dalam part ke-2, "...Because He Breaks the Rules".

Grandpa Joe: Wh-When does he get it?
Willy Wonka: He doesn't
Grandpa Joe: Why not?
Willy Wonka: Because he broke the rules
.....
Willy Wonka: It's all there, black and white, clear as crystal! You stole fizzy lifting drinks! You bumped into the ceiling which now has to be washed and sterilized, so you get nothing! You lose! Good day, sir!

Ia seperti ingin menganalogikan Charlie dalam film tersebut yang melanggar peraturan dengan cerita hubungan personalnya di mana kekasihnya bersama laki-laki lain.

"Because he break the rules"

bahwa...

"You stole fizzy lifting drinks! You bumped into the ceiling which now has to be washed and sterilized, so you get nothing! You lose!"

tampaknya menjadi analogi untuk rapalannya liriknya berikut:

The handling of a heart's a very delicate art cause it's paper thin
One irrelevant thought that started out as a spark could be a poisonous dart
But they was just chillin' and at that moment
The right brain says to the left just kill em


 Potongan film Willy Wonka & The Chocolate Factory yang dijadikan sample



Di bagian lagu lainnya, "FYI", Jay Electronica menggunakan sample dari suara Elijah Muhammad, ketua Nation of Islam, gerakan Islam di Detroit yang beranggotakan African-American yang sering dianggap sebagai gerakan separatis. Malcolm X, Muhammad Ali, Jay Electronica sendiri, bahkan Snoop Dogg kabarnya pernah menjadi anggota dari gerakan ini. Di bagian ini, ia seperti ingin bilang hal klise dengan cara yang tidak klise, bahwa manusia butuh lebih sadar terhadap hal-hal sekitar, bukan sekadar sadar materi.

While you was blowin' X amount of dollars on a bracelet
The sovereign nation of France was openin' they files on the UFO phenomenon: i.e. spaceships
It's just the facts, Jack may as well face it
Every rhyme I write the seal get cracked in the chapter of
Revelations
A atom get cracked in the blackness of meditation.

Lirik di atas seperti menyambut pidato dari Elijah Muhammad yang muncul di dalam lagu berikut ini:

“Don’t get me wrong now. Don’t make a mistake in thinking that I’m telling you this was the beginning of the man on the Earth. Fifty thousand years ago is like telling you thirty days ago or ten days ago or five days ago, to the age of the universe. We have no exact record of it but it runs way into the trillions.” 


Salah satu pidato Elijah Muhammad


Selain menegaskan pandangan politik personalnya yang begitu dekat dengan Nation of Islam (dikabarkan bergabung juga dalam Five-Percent Nation yang didirikan atas penolakan ide dasar Nation of Islam), Jay Electronica yang dikenal sebagai Muslim ini juga tampaknya menjalankan hubungan open relationship terhadap kepercayaan-kepercayaan lain. Tengok lirik-liriknya yang seperti merangkul tuhan-tuhan dan nabi-nabi lainnya.

“To the true nature of growth; the Christlike Buddha man”

Seperti belum cukup eclectic dengan Willy Wonka, anak-anak Kurdi, dan pidato ketua gerakan Nation of Islam dalam satu lagu; di part "Voodoo Man", Jay Electronica pun menggunting-tempel suara John Hilkevitch, yang setelah sejumlah pencarian instan ternyata adalah seorang kolumnis dari Chicago Tribune yang melaporkan penampakan UFO berbentuk disc di O'Hare International Airport pada tahun 2006.

"..on November 7th saw this disc-shaped object floating above the sea concourse of the United Airlines at O'Hare. Very low in the sky, it was still daylight, very distinct. Didn't look like an airplane, a helicopter, or anything else."


Video tentang  O'Hare International Airport UFO sighting


Sebelum selipan laporan tentang UFO di atas, lirik sempat menyinggung soal pesawat berbentuk disc. Dugaan saya ia mau bicara soal keyanikan atau musik, atau mungkin keyakinannya soal musik (hip-hop).

Voodoo man, tap dancing in the French Quarter
Walking on water with a scroll in my hand
The blueprints for a disc shaped-like vessel

“Walking on water” seperti sedang membicarakan Yesus dan “blueprints for a disc shaped like vessel” bisa saja bicara soal musik namun ia memainkan penangkapan makna pendengarnya dengan berita UFO yang berbentuk mirip disc.

Sambil sengaja menimpa laporan di atas sebelum fade out, ia menyambutnya dengan lirik berikut:

Voodoo man, civilize the savage
Criticize the parish
Spreading false doctrine
Terrorize the cleric for carrying on nonsense
Specialized lies to paralyze the conscience

Jelas, ia sedang mengkritik hip-hop. Mungkin ia mau bilang, please, stop your trash songs.

Let the wisdom of Elijah purify ya
Take a nigga higher

Ujung-ujungnya, ia pun tetap curhat soal kemuakannya pada lagu-lagu hip-hop yang tak jauh-jauh dari merapalkan rima soal tubuh perempuan,

“but y'all would much rather hear me rappin' bout tras, the size of Erykah's ass”

ngomongin narkoba,

“saying you sell crack”,

dan mobil-mobil mewah.

“now you're on the wire talking about two-foot tires”


Lagu ini seperti mau bilang bahwa rapper asal New Orleans ini tidak main-main dengan rimanya. Dengan lirik yang begitu kaya referensi dan guntingan-guntingan sample dengan timing yang pas, sebutan “hip-hop's Jack Kerouac” oleh media sama sekali tidak berlebihan.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Sometimes I Want to be The Open Ending

"If there had been a door within reach that led straight to death, he wouldn’t have hesitated to push it open, without a second thought, as if it were just a part of ordinary life. For better or for worse, though, there was no such door nearby."

Ada jeda sebentar waktu saya membaca halaman awal dari Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage karya Haruki Murakami di atas. Saya kaget karena saya pernah membayangkan hal yang sama: andai kematian bisa berupa sebuah pintu (secara harfiah) yang bisa kita masuki begitu saja. Tak butuh tambang, puluhan pil, atau pun silet yang kesemuanya terdengar menyakitkan. Hanya perlu buka pintu dan langkahkan kaki layaknya masuk ke kamar mandi. Namun sayangnya, seperti yang juga ia tulis, there was no such door nearby. Yah nggak ada pintu macam itu.

Kata Hayao Mizayaki.
Seorang kawan pernah bilang dia tak mau lagi baca apa pun dari Murakami. Dia bosan dengan ketidakjelasannya, dengan karakter-karakter dan kegelapan yang sama di banyak buku. Saya setuju. Banyak novelnya tak punya akhir yang jelas (selalu open-ending), karakter-karakternya begitu lagi, dikelilingi oleh kerumunan masalah yang itu lagi, dibayangi oleh kedepresian yang serupa. Namun bedanya, saya belum bosan juga. Rupanya yang saya nikmati dari Murakami bukan hanya cerita. Yang saya nikmati dari buku-bukunya adalah bagaimana perasaan-perasaan buntu, gelap, dan kalah muncul dengan begitu wajar, begitu normal. Bagaimana keinginan untuk mati pun menjadi biasa saja ketika kita pelan-pelan berkenalan dengan si tokoh utama yang menjelaskannya sambil mencuci pakaian, menjemurnya, menunggunya kering sambil mendengarkan radio, dan menyeterikanya. Bahwa orang yang ingin mati masih mengurusi baju kotornya.

Murakami mewakili perasaan kita (paling nggak saya) yang merasa hidup ini kadang terasa sesempit kakus umum di stasiun-stasiun Jabodetabek dengan tingkat oksigen setipis di gerbong saat rush hour. Ketika sampai di stasiun tujuan, pintu pun terbuka, oksigen berhamburan, lega, menyiapkan kartu untuk ditepuk, centang hijau-berhasil, tapi tetap,

tak ada pintu semacam itu.

Minggu, 18 Oktober 2015

Bukan Selfie

Akhir-akhir ini lagi senang ambil gambar muka-muka orang nggak dikenal secara acak. Muka-muka orang yang nggak niat berfoto.

Lokasi foto: Ciamis & Pasuruan (Juli & Oktober 2015)











Rabu, 09 September 2015

Kebas

Ada yang salah ketika semua hal yang saya suka tiba-tiba terasa hambar. Ketika hal-hal yang bisa buat saya lupa makan tidak lagi menarik. Serial dan film yang bisa buat saya tenggelam sampai mata layu dan sel-sel tubuh teriak minta tidur menumpuk di folder "nonton". Habis satu episod atau satu judul saja sudah syukur. Kadang musik cukup membantu meski dalam dua bulan harus bermusuhan dengan earphone. Tapi ternyata buku lebih bersahabat baik dengan sendu. Yang menurut saya parah, hal tersebut sudah lama terjadi namun baru disadari. Seperti kanker yang sudah lama ada namun baru terdiagnosis kemarin sore. Isi kepala bergulung-gulung mengalir deras. Namun mentok di ubun-ubun kepala, di ujung lidah dan gemeretak gigi, di antara jari dan keyboard, di jeda-jeda umpatan dan kelakar yang keluar tanpa mampir di kepala, di dada. Seperti dinamit yang sudah tersulut namun tak juga meledak. 

Tak bisakah isi kepala menyublim saja seperti kapur barus? Entah kenapa tiba-tiba potongan puisi Ursula K. Le Guin berjudul The Skin berikut ini begitu menggoda.
If we were skinless, like a cloud,
would we not mingle with the crowd?
Would not our little bodies be
more boundless even than the sea,
and gaseous as the atmosphere?
Would we be there as well as here?

Kamis, 13 Agustus 2015

2511 hours walking

There's one thing I've been fearing of. Following the gravity. It's supposed to be a cosmic matter. But human is the loneliest species after all. On earth, human survive by following the gravity. While on the moon, they simply don't. Instead, they survive by manipulating it. And some people have to manipulate it on earth, too. Cause the purity of science has been flawed since god-complexity plagued us.

It's been a long time since I sold my heart for extra reason, with some spicy topping on and ice cubes below. Been a long time since I sold the feelings until my satellite broke down and bounce me off. Up to the moment when antoine de saint-exupéry led my way out. But he never showed me way to home. Then I finally learned there never any way back home. A way back is a myth. By following the gravity, I'm willing to walk for 2511 hours. Just for a cup of tea and half cup of coffee. Perhaps a little dance, too. And surprisingly, it feels good to practice my clumsy English writing by confiding surreptitiously.

Selasa, 02 Juni 2015

Keresahan yang Tidak Hambar

Puisi yang saya suka adalah yang saya rasa dekat. Tidak dipaksa, bukan ikut-ikut belaka, bukan juga budak dari aturan what not-how to. Keresahannya sampai. Kesedihan yang bikin rusuh hati saat dibaca. Makanya, saya tidak begitu menikmati puisi-puisi beats, misalnya, bukan karena puisinya tidak bagus, tapi memang simply saya tak pernah relate dengan struggle dalam tulisan-tulisan mereka. Saya tidak merasa dekat dengan tema-tema khas beats yang biasanya soal pelarian dari sistem lama, pencarian spiritual (barat-timur), psikadelik, dan eksplorasi seksual; sejauh saya membaca sejumlahnya (siapa tahu suatu hari saya baca puisi beats yang relate buat saya). Mungkin karena saya bukan anak muda Amrik pasca-Perang Dunia II dan masalah saya belum sampai penolakan ekstrim terhadap materialism, melainkan masih mentok di angkot busuk dan kereta mogok. Buat saya, masalah-masalah mereka nggak lebih dari white people first world problem.

Perasaan tidak relate ini sama halnya dengan perasaan kosong saya setelah nonton Eat, Pray, Love. Lagi-lagi ini mungkin karena saya bukan white with privileged yang tinggal di negara dunia pertama yang dengan tiket “unhappiness” dan “emptiness” bisa tinggalin semua: makan di Italy, main di ashram, dan bercinta di Bali. Maka kesedihan semacam itu jadi keliru buat saya. Seperti juga keharuan yang hambar buat saya ketika menonton McCandless meninggalkan keluarga dan mobilnya di tengah jalan dan membakar uangnya. Mungkin karena buat saya ibu-ibu di Pasar Minggu yang jual kue tiap subuh dan petang cari nasi buat anaknya jauh lebih deep ketimbang Candless yang menerjang alam sambil baca buku.

Sebaliknya, saya menemukan keresahan dan kesedihan yang relevan juga dalam di puisi-puisi seperti milik Wiji Thukul, Afrizal Malna, Charles Bukowski, juga Rashid Hussein yang mau saya kutip di bawah ini. Keresahan tersebut tak harus selalu langsung saya alami. Namun saat baca puisinya, dada saya ikutan sakit.
Setelah sewa rumah habis
Kami harus pergi
Terus nyewa lagi
Terus nyewa lagi
Alamat rumah kami punya
Tapi sayang
Kami butuh tanah

("Sajak Tapi Sayang", Wiji Thukul, 1991)

Afrizal Malna tak pakai cara puitis pandangan kebanyakan orang. Bahkan kadang kata-katanya tampak tak beraturan. Tapi puisi-puisinya adalah hari-hari kita. Hari-hari orang Indonesia. Setidaknya orang Jawa.
“...tetapi lihat anak-anak muda di sudut café itu, dengan gaji 2000 dollar per bulan, mereka tak mengubah apa-apa. hanya mendesak tanahmu jadi kantong-kantong plastik.”
("cafe dan malam 2000 dollar", Afrizal Malna, 1995)

Bukowski, meski tinggal di Amrik, tapi banyak puisinya bertema unprivileged. Mungkin ini karena ia tinggal di lingkungan imigran Meksiko. Ketidakberadaan adalah kesehariannya, bukan hal yang ia kejar.
"I feel sad for
everybody, for all the struggling people
everywhere, trying to get the rent paid on time,
trying to get enough food, trying to get
an easy night’s sleep."
("the Mexican fighters", Charles Bukowski)

Rashid Hussein adalah penyair Palestina. Oh, kurang nyata dan kurang menggetarkan apalagi keresahan (ketidakadilan) yang dialami orang-orang Palestina?
"I was born without a passport
I grew up
and saw my country
become prisons"
"I came to you
and revolted against you
so slaughter me
perhaps I will then feel that I am dying
without a passport"
("Without a Passport", Rashid Hussein, 1990)


Jumat, 03 April 2015

Confuzzled #1

Suatu hari kita akan menganggap hidup sebagai kekosongan yang hanya perlu kita isi dengan teh hangat yang diseduh bersama sereh dan pisang keju di sore hari. Kita akan tinggal di sebuah rumah pedesaan yang pernah kita lihat di salah satu film Ghibli. Bersama sepeda kumbang dengan keranjang kayu di depannya persis ilustrasi Miyazaki. Yang kita kayuh untuk membeli susu segar setiap pagi. Di dapur, kita akan menggoreng telur untuk sarapan dan kemudian membagi dua surat kabar hari itu. Aku membaca bagian headline dan kau tajuk rencana. Atau hanya menonton berita di televisi dan meledeknya bersama-sama. Namun, rasa-rasanya kita akan lebih sering bertengkar soal musik apa yang akan diputar pagi itu.

Suatu hari kita akan menganggap hidup sebagai kekosongan yang hanya perlu kita isi dengan lelah dan kesal yang kita tumpahkan sambil menonton serial kesukaan untuk entah keberapa ratus kalinya. Adu argumen soal siapa yang lebih punya banyak alasan untuk mati di antara bintang-bintang film yang bunuh diri. Merapalkan ayat-ayat Bukowski sebagai pelampiasan kemarahan kita pada apa pun. Atau baris-baris suicidal Sylvia Plath untuk barang sebentar lebih mempertanyakan hidup.

Rabu, 25 Maret 2015

Screen Shopping

It's never been that easy for me to make some purchase. It has been almost two years I constantly do screen shopping for a camera without ever buying it (yet). I made lists, titled "5 best pocket cameras" and "5 reasonable mirrorless cameras". Too many considerations and comparisons, too much doubt, no decision.

That was exactly what I've been through for my bicycle too. It took about one-two years of thinking, hunting (online and offline, owed two good friends who've spent their weekend to accompany), and after too many mental check lists for what kind of bicycle I should buy. Oh, and added my current notebook to one of the longest process of buying, too.

I could defend it's all for the sake of smart buying and to avoid later regret, but actually this also made me sort of a screen shopper. While we've already familiar with the term 'window shopping' to explain going to the shop without buying anything, 'screen shopping' is a more accurate term for online shopping that doesn't required windows anymore, but a screen: computer, tablet, phone. Though I also do offline research (let’s call it research, too), I sometimes go to shop too to see the real products and compare the prices, but screen shopping could help you save the energy, cost, and time. And it never matter how I purchase it in the end.