Kamis, 10 Juli 2014

Pintu

Janus adalah dewa dengan dua wajah. Ia melambangkan awal, transisi, peralihan, di antara. Dalam mitos asalnya di Romawi, ia kerap dihubungkan dengan awal dan akhir dari sebuah konflik, perang dan damai. Oleh karena itu juga, kita menyebut bulan paling awal dalam satu tahun dengan 'Januari'. Kata 'lanus' dalam Latin yang berarti 'pintu' juga kabarnya berakar dari sini.

Janus, lebih dari sekadar papan persegi, besi, baja, atau bata pelindung suatu ruang; namun ia juga lah yang memegang kuasa untuk membuka atau menutupnya. Semacam penjaga gerbang dengan segala pertimbangan politisnya. Tak hanya bangsa Romawi yang menanam magis dalam konsep pintu, ménshén (semoga nggak salah sebut) adalah dewa pintu bagi bangsa Cina. Ialah yang memberhentikan roh-roh jahat hanya sampai di depan pintu. Di Indonesia sendiri, negeri penuh pamali ini, juga punya magi yang berhubungan dengan pintu. Siapa sih yang tidak familiar dengan nasihat "Jangan menghalangi pintu nanti seret jodo'!" atau "Jangan duduk di depan pintu nanti sakit".

Begitulah kira-kira pintu di kepala saya. Ia punya keluasan di baliknya, tepat ketika kuncinya diputar, password diterima, atau kartu magnetik disentuhkan. Lebih dari sekadar konsep keamanan dan arsitektur. Kurang lebih, sadar nggak sadar, ini yang membuat saya bikin proyek iseng dua tahun yang lalu, Proyek Pintu. Sebuah tumblr-based blog yang isinya foto-foto pintu (menarik atau nggak menarik) di mana saja saya melihat pintu dan tertarik buat ambil fotonya. Beberapa foto juga ada hasil jepret dari beberapa teman (jadi kalau ada yang mau sumbang foto pintu, dengan senang hati). Jarang di-update sih. Nah, ini foto pintu pertama yang diunggah pada tahun 2012.



Suatu hari, teman saya Maesy pernah tanya soal Proyek Pintu. Saya tiga perempat bercanda menjawab (bukan verbatim), "Proyeknya bakal berenti kalau udah nemu pintu surga".