Kamis, 27 Maret 2014

Minggu yang Kental




Semingguan ini kamar kost saya terasa seperti kamp pengungsian. Empat tumpukan baju, sisa buku, dan barang-barang tak penting (seperti sebuah djembe yang jarang saya mainkan di kosan karena takut disangka markas grup orkes melayu sama tetangga kos). Niatan awal untuk menyicil bawa barang-barang tadi sedikit demi sedikit ke Bogor setiap minggunya (dengan kereta super dengan kartu commet super yang sering habis saldonya akhir-akhir ini) pun lenyap ditelan malas yang ikut menumpuk. Plan B pun harus dipilih, menggunakan hubungan darah (yaitu menghubungi kakak untuk minta bawain barang dengan mobilnya). 

Tumpukan barang-barang tersebut sesak dan acak-acakan. Persis perasaan dan isi kepala saya saat itu. Entah saya yang sebenarnya unconsciously attached sama kosan ini atau memang saya saja yang terlalu (dan hampir selalu) sentimental, tapi semingguan ini memang perasaan begitu numpuk dan sesak tanpa sebab yang jelas. Bukannya tanpa sebab, tapi tanpa sebab yang jelas. Kadang saya suka berharap saya jadi orang yang nggak perlu terlalu menyerap perasaan/emosi orang di sekitar. Sampai dua hari berturut-turut saya googling “how to not absorb others emotions”. Jawaban dari Wikihow pun langsung saya lupa tanpa sempat diikuti. Jadi, saya pun tetap menyerap emosi buruk (karena jenis emosi ini yang sedang banyak tersedia di sekitar) dan membawanya sampai ke bantal sebelum tidur. Kadang saya ingin seperti Chris di serial Skins yang nggak banyak mikir: just do it, have fun, fuck it, terus dieee (tapi yang ini jangan dulu). 

Di awal minggu, penerbit buku grup di kantor ultah dan buku pun berpesta. Di pesta buku itu paling sedikit buku didiskon 50%. Apa yang lebih menyedihkan dari harga yang diturunkan tanpa kemampuan beli yang naik? Bahkan istilah dompet tipis sudah nggak cocok. Dompet udara lebih pas. Sialnya, waktu gajian kantor saya baru hari Jumat alias akhir pekan. Untungnya, seorang teman membayar utangnya di tengah minggu dan keesokan paginya saya pun langsung semangat ke kantor (bukan buat kerja) tapi ngorek-ngorek bazaar yang masih sepi di pagi hari. Mengingat lebih siang sedikit bazaar tersebut sudah dipenuhi pemburu-pemburu kompetitif.

Malam sebelumnya, di dalam sebuah angkot di atas pukul sebelas. Di jam seperti itu, semua orang cuma ingin pulang. Begitu pun dengan bapak gemuk 40-50an tahun yang bajunya terlalu lelah nampung keringat. Apalagi yang pakai, duduk di pinggir karena rupanya kegerahan duduk di sebelah saya yang harus tutup jendela karena nggak bisa kena angin malam terlalu kencang. Kena angin, kepalanya pun tertunduk naik-turun, ketiduran. Saat itu, seolah-olah tak ada yang lebih melankolis dari malam dingin di Jakarta Barat bronx city dengan Nina Simone mengaji di telinga dan seorang bapak yang terlalu mengantuk untuk menikmati rasa ingin pulangnya.

Semoga minggu yang terasa kental ini ditutup dengan manis. Seperti susu.

Rabu, 05 Maret 2014

#selfie & Pseudo-Enlightened Opinions



Sudah terlalu banyak ego-driven opinions yang bilang kalau internet membawa petaka bagi peradaban. Khususnya yang berisik sejak tahun lalu adalah soal #selfie. Jarang sekali ada pandangan yang segar, nyaris semuanya sebasi ketupat lebaran tahun 2001. Segala cemooh (yang kebanyakan) pointless.

Kenapa ego-driven?
Karena kebanyakan komentar tersebut nggak lebih dari proses menempatkan para komentator lebih tinggi dari para obyek komentarnya. Dia selfie, saya nggak, dia norak, saya nggak, dia lebay, saya bijak, dia selfie, saya ketawain aja deh. Orang-orang yang menyinyiri #selfie pun seolah lebih mulia, lebih manusia.

Inilah yang disebut dengan ego traps. Ketika kita merasa lebih "spiritual" atau "mulia" ketika kita lebih memilih berjalan kaki daripada naik mobil, tidak menonton YKS di TV, dan menjadi vegetarian; namun kita bersikap judgemental terhadap orang yang membawa mobil, menonton YKS di TV, dan mengunyah daging dengan lahap.


Berdasarkan hasil pengamatan melalui googling dan akhirnya sampai ke sejumlah artikel juga blog yang membahas selfie, sejumlah penilaian pseudo-enlightened yang umum soal para pelaku #selfie adalah bahwa mereka:

#1 Narsis tak terbendung
Memang kurang narsis apa lagi sih orang yang merasa dirinya adalah manusia yang lebih baik karena tidak pernah selfie?

#2 Lonely crowd
Saya adalah subyek sekaligus obyek dari sebuah judgement: the lonely crowd. Sampai akhirnya saya menyadari, orang-orang yang menunduk menghadap layar sentuh di kereta bisa saja sedang menebus rasa kangen dengan orangtuanya di kota lain, bisa saja pria yang asik menyentuh-nyentuh layar di pojok kantin sedang melihat-lihat foto anaknya yang belum bisa ia temui hari ini. Ini berlaku juga untuk selfie, bisa saja foto muka supercloseup yang mereka upload di instagram menjadi pelipur sepi seseorang di ruang lain.

#3 Bodoh
Penilaian seperti ini cuma menunjukkan tiga kemungkinan tentang penilainya: pemalas, sempitnya kosakata, dan refleksi diri.

Masih banyak penilaian lain lagi terhadap #selfie. Saya terlalu malas untuk googling dan nyatet lagi. Intinya, menurut saya, selfie itu fine-fine aja lah. It won't make any next world war. Menurut Clive Thompson, penulis teknologi dan buku Smarter Than You Think: How Technology is Changing Our Minds for the Better, “Taking a photograph is a way of trying to understand how people see you, who you are and what you look like, and there’s nothing wrong with that.”

Walaupun #selfie memang bisa menganggu timeline Instagram, Path, atau FB kita. Lagi-lagi itu masalah pilihan dalam menggunakan teknologi aja. Seperti yang pernah saya tulis di sini. Jadi, sebelum punya point of view yang di luar opini-opini pseudo-enlightened soal #selfie, mendingan pakai waktunya buat ambil foto #selfie. Kayak monyet di Sulawesi yang ngambil kamera seorang fotografer dan menjepret wajahnya sendiri. Smile!

 


Sumber foto monyet selfie: Wikipedia