Minggu, 23 Februari 2014

Melambat

Yang menyenangkan selama dua tahun ini adalah gerakan yang melompat-lompat dan tahu kapan harus melambat (untuk sesekali duduk santai sambil terbahak-bahak). Pelajaran dari semuanya, kegagalan yang sesungguhnya adalah ketakutan untuk bersenang-senang dan terlihat bodoh. Juga ketakutan menjadi (dianggap) gila. Tak ada lagi pelajaran dari kaki yang lecet karena nekat nyebur ke sungai dangkal penuh batu. Adrenalin yang diubah pelan-pelan menjadi kepatuhan robotik dan faux-communal-pride.

Masalahnya adalah rasa lapar dan lidah mengajarkan kita bahwa roti paling lezat nggak dibuat pakai cetakan di pabrik, tapi di dapur (with a brutal love if you have to).

Stasiun Karet. Tempat yang cocok buat melambat di tengah kota yang (maunya) cepat