Jumat, 24 Oktober 2014

ˈkeɪ.ɒs

Kaos, tak tertata, kacau, disorder, anxious, fucked up. Apa pun yang berlawanan dengan kondisi yang kosmos. Kabarnya, kosmos ini lawan katanya kaos. (Chaos) yang dalam bibel atau mitologi Yunani merupakan keadaan sebelum terciptanya jagat raya.

Tapi kaos tidak eksklusif milik alam semesta. Ia juga terjadi pada isinya isi alam semesta, manusia. Lebih spesifiknya lagi, kepala manusia. Kekacauan ini bisa merambat, merembes, menyublim, meledak, meleleh, apa pun, yang pasti tidak menghilang. Manusia-manusia yang berhasil mengubah rupa kekacauan tersebut dalam bentuk yang baik: coping katanya. Sementara yang sebaliknya: fucked up. Di meja-meja psikolog sebagian akan disebut disorder. Dan di meja-meja psikiater akan di-order-kan oleh sejumlah telanan pil.

Saya percaya bahwa semua (atau nyaris semua) manusia menyimpan potensi kekacauannya masing-masing. Tinggal apakah potensi tersebut terwujud atau tidak. Jika terwujud, bentuknya apa? Jejaknya seperti apa? How chaos is it? Bagi saya, kaos menjelma berupa jari kuku yang selalu pendek sejak kecil, kulit-kulit di sekitarnya yang terasa perih ketika mandi, hentakan di kepala, dan penekanan huruf konsonan. Hal-hal yang harus dilakukan sampai terjadi momen "Ini dia!". Berbagai tuntutan motorik dan fonetik untuk mengejar sebuah just right moment yang tak berkesudahan.

Bertahun-tahun melewati, thanks to Internet, akhirnya saya mengerti bahwa seharusnya orangtua saya tidak perlu memarahi ketika saya secara impulsif menyuarakan konsonan. I'm copingWe're copingThough it turns out that some people should cope with their ways to cope with... cha·os noun /ˈkeɪ.ɒs/.

Tidak ada komentar: