Rabu, 03 September 2014

Mau Jadi Apa di Kehidupan Lain?

Buat saya, penulis adalah sebuah profesi (jika bisa dibilang begitu) yang begitu keren, seru, dan seksi. Di antara sederetan cita-cita saya lainnya—psikiater dan arsitek—penulis pun menjadi cita-cita terakhir yang berkelanjutan (selain menjadi lebih realistis karena psikiater dan arsitek brengseknya harus melalui jalur IPA sementara otak IPA saya hanya ramah pada pelajaran biologi). Tapi sebenarnya, ada satu profesi (atau keahlian) yang paling saya kagumi, paling bikin saya iri, dan paling zen menurut saya pribadi. Diam-diam dari dulu saya selalu mengagumi penari, atau (paling nggak) orang yang jago menari (karena rupanya di negara kita nggak semua orang yang jago menari berakhir menjadi penari).

Buat saya, kemampuan menguasai tubuh sendiri dan mengekspresikan sesuatu melaluinya adalah keahlian yang gila! Beda dengan penulis atau musisi yang mengekspresikan perasaan lewat kata-kata, lirik, atau komposisi; penari mengekspresikan kemarahan, kegembiraan, semangat, kesedihan, kepahitan, dan sebut saja jutaan ekspresi lainnya, lewat gerakan tubuhnya. Mungkin menari satu-satunya cara mengekspresikan diri di dunia yang melibatkan kepala sampai ujung kaki. Kalau kata Pina Bausch (penari yang mempengaruhi dunia modern dance pada 1970-an), "Dance begins where words end."  Itulah juga kenapa saya dari dulu selalu menyukai acara kompetisi menari yang ada di tv; semacam Wade Robson Project (jaman MTV dulu), So You Think You Can Dance, atau Got to Dance UK (dan dulu juga ada beberapa kompetisi dance di televisi nasional yang bagus).

Sayangnya, dari kecil saya nggak ikut kegiatan tari. Badan saya pun cenderung canggung kalau menari. Baru waktu SMP lah saya pertama kali menari. Itu pun terpaksa karena muatan lokal Seni Tari yang wajib diambil kalau mau lulus. Untungnya, tariannya tari kijang. Tarian yang kalau badan kita nggak gemulai-gemulai amat, nggak akan terlalu kelihatan jeleknya. Karena tari kijang ini tarian Sunda yang mengikuti gerakan kijang, jadi kebayang lah gerakannya kayak kijang yang banyak lompat. Sialnya, pas kelas 1 SMA! Saya lagi-lagi kena wajib menari buat ujian Kesenian dan kelompok saya memilih tarian Bali. Tarian Bali ini mirip tarian Jawa yang lembut dan menekankan pada detail. Waktu itu kami belajar di sebuah wisma Bali menyenangkan di seberang kebun raya yang penuh pepohonan besar dan kalau malam menjadi bar buat turis (yang kebanyakan) bule. Yang mengajar kami adalah seorang ibu Bali berusia di atas 60 tahun yang pose badannya seperti tak berubah sejak usianya 17 tahun. Jujur saja, saat itu saya cukup tersiksa karena badan saya kaku dan nggak tahan harus gerak-gerak gemulai dengan begitu banyak pose setengah jongkok. Sialnya lagi, saya satu kelompok sama cewek-cewek angkatan saya yang pentolan nari (sebagian dari mereka ke depannya adalah anggota dance SMA yang jadi salah satu dance crew SMA paling kece se-Bogor pada jamannya, serius!). Untungnya, ada dua teman lain di kelompok itu yang juga kaku kalau nari. Paling nggak, kekurangan nilai kelompok kami nggak hanya tanggung jawab saya.

Setelah sedikit mengalami betapa sulitnya menari, maka setiap melihat orang yang jago menari saya bisa membayangkan kedisiplinan tubuh macam apa yang sudah mereka lalui sebelumnya. Belum lagi kalau menonton film-film soal menari; FootloosePina, Billy Elliot, Black Swan, Saturday Night FeverStep Up, Happy FeetHoney, Bring it On, bahkan dokumenter latihan konser terakhir Michael Jackson, This is It. Di situ saya bisa lihat proses latihan menari yang sama sekali tidak main-main. Nggak hanya jenis tarian yang terkesan sulit dan klasik, tapi tarian hiphop yang terkesan slengean sama sekali nggak lebih mudah. Maka dari itu, saya paling suka kalau So You Think You Can Dance mulai menukar-nukar jenis tarian dengan latar belakang genre tarian para pesertanya. Seperti penari balet yang harus menari hiphop atau street dancer yang harus menari kontemporer.

Oleh karena itulah, kalau ada pertanyaan: “Mau menjadi apa di kehidupan lain?”, saya nggak akan kasih jawaban klise “mau jadi diri saya aja”, tapi saya akan jawab “menjadi penari!”.

Tidak ada komentar: