Jumat, 06 Juni 2014

Sendu di Mangkuk

Kesenduan selalu punya caranya sendiri untuk mengalir. Habis dan berlalu atau sekadar menggenang tak jauh. Tak peduli seberapa banyak tawa yang kausiram dan kata-kata kasar yang kauselundupkan lewat cotton bud lembut ke telinga. Pada akhirnya, mata akan selalu menghianati kata, jeda lebih berteriak, dan hening melolong tanpa akhir.

Sudah lama ia tak kehilangan nafsu makannya, sampai malam itu. Ketika sendu mengunyah lapar sampai habis. Menyisakan mangkuk dengan makanan yang hanya dimakan seperempatnya. Kesenduan selalu punya caranya sendiri untuk mengalir. Pada jumat malam itu, ia memilih untuk mengalir ke mangkuk makan.

Pintu yang sendu di kota tua Semarang

Tidak ada komentar: