Senin, 05 Mei 2014

We're simply never that free


Transcendence dan Her adalah dua film terbaru yang bercerita tentang pengaruh teknologi dalam hidup manusia. Dua film tersebut sama-sama mereka-reka dunia masa depan (yang tampaknya sudah tidak terlalu jauh lagi) di mana artificial intelligence (AI) mencapai tingkatan yang semakin menyamai natural intelligence. Bahkan bukan lagi sekadar kecerdasan otak, AI tersebut memiliki perasaan. Mereka punya hati, punya pacar, punya teman, punya emosi. Banyak yang menganggap film-film semacam ini sebagai peringatan terhadap perkembangan teknologi yang bisa menjadi bumerang bagi manusia. Untuk konteks hari ini, teknologi yang kerap dianggap sebagai bumerang adalah internet.

Individualisme yang semakin tinggi, narsisme yang makin punya panggung (#selfie!), dan kedangkalan informasi adalah beberapa poin umum tentang akibat buruk penggunaan internet yang sering dibahas. Semuanya mengarah pada akibat yang personal dan tidak struktural. Masalah manusianya, bukan teknologinya. Teknologi nggak maksa manusia buat nunduk terus di meja makan waktu bersama teman, bukan teknologi juga yang mengharuskan kita sering-sering foto muka sendiri, dan teknologi nggak membakar toko buku (malah menambah pilihan untuk download gratis e-book). Ketiga masalah tersebut adalah masalah pilihan. Kita bisa pilih untuk mengobrol daripada maenin smartphone (padahal di smartphone juga bisa aja lagi ngobrol), kita juga bisa pilih untuk buka buku daripada buka Path.

Ironisnya, justru permasalahan lebih penting yang dibawa teknologi informasi sekarang ini datang bersama kenyamanan-kenyamanan teknologi yang kita anggap positif dan membantu. Search engine dengan personalized search result-nya adalah salah satunya. Kita mencari apa pun di Google. Yang kita cari dan yang teman kita cari akan berbeda, algoritma Google di setiap browser pun akan berbeda. Akhirnya, ketika kebetulan kita dan teman kita melakukan pencarian yang persis sama, hasilnya belum tentu sama. Segala keyword yang kita ketik sebelum tekan enter pun direkam, didata, dikategorikan. Begitu juga segala aktivitas di sosial media. Data ini begitu empuk. Buat siapa? Buat para penjual iklan sampai buat pemerintahan yang terlalu insecure kayak AS dan NSA-nya.

Internet yang digembar-gemborkan menjadi salah satu penyokong kebebasan berekspresi dalam masyarakat pun nyatanya di belahan dunia lain sudah berhasil dijadikan alat pengokoh suatu rezim otoriter. Internet yang memang mampu menggratiskan pengetahuan, namun di sisi lain, sensor juga bisa dilakukan terhadap pengetahuan apa saja yang bisa didapat. Inilah dampak dari teknologi yang lebih jelas. Bukan narsisme berlebih yang bisa mengekang kebebasan berekspresi suatu masyarakat. Bukan juga ribuan anak muda #selfie yang memata-matai aktivitas kita. Internet nggak jauh beda sama poster. Oleh suatu kelompok anak muda poster bisa digunakan sebagai media untuk berekspresi. Namun, di saat yang sama, penguasa juga bisa menggunakan poster untuk mengumumkan peraturan baru bahwa poster hanya bisa digunakan untuk mendukung pemerintahan. It’s not a gun that kills people, it people kill people. But who hold the power to rule the use of a gun? Masyarakatnya sendirikah? Rezim otoriter? Pemerintah prodemokrasi yang overinsecure? Prabowo?

Ini masalah internet yang lebih mengancam. Bukan #selfie, generasi narsis, generasi too much information, or whatever those enlightened people ever said.

1 komentar:

markesot mengatakan...

Serius. Menohok!