Rabu, 05 Maret 2014

#selfie & Pseudo-Enlightened Opinions



Sudah terlalu banyak ego-driven opinions yang bilang kalau internet membawa petaka bagi peradaban. Khususnya yang berisik sejak tahun lalu adalah soal #selfie. Jarang sekali ada pandangan yang segar, nyaris semuanya sebasi ketupat lebaran tahun 2001. Segala cemooh (yang kebanyakan) pointless.

Kenapa ego-driven?
Karena kebanyakan komentar tersebut nggak lebih dari proses menempatkan para komentator lebih tinggi dari para obyek komentarnya. Dia selfie, saya nggak, dia norak, saya nggak, dia lebay, saya bijak, dia selfie, saya ketawain aja deh. Orang-orang yang menyinyiri #selfie pun seolah lebih mulia, lebih manusia.

Inilah yang disebut dengan ego traps. Ketika kita merasa lebih "spiritual" atau "mulia" ketika kita lebih memilih berjalan kaki daripada naik mobil, tidak menonton YKS di TV, dan menjadi vegetarian; namun kita bersikap judgemental terhadap orang yang membawa mobil, menonton YKS di TV, dan mengunyah daging dengan lahap.


Berdasarkan hasil pengamatan melalui googling dan akhirnya sampai ke sejumlah artikel juga blog yang membahas selfie, sejumlah penilaian pseudo-enlightened yang umum soal para pelaku #selfie adalah bahwa mereka:

#1 Narsis tak terbendung
Memang kurang narsis apa lagi sih orang yang merasa dirinya adalah manusia yang lebih baik karena tidak pernah selfie?

#2 Lonely crowd
Saya adalah subyek sekaligus obyek dari sebuah judgement: the lonely crowd. Sampai akhirnya saya menyadari, orang-orang yang menunduk menghadap layar sentuh di kereta bisa saja sedang menebus rasa kangen dengan orangtuanya di kota lain, bisa saja pria yang asik menyentuh-nyentuh layar di pojok kantin sedang melihat-lihat foto anaknya yang belum bisa ia temui hari ini. Ini berlaku juga untuk selfie, bisa saja foto muka supercloseup yang mereka upload di instagram menjadi pelipur sepi seseorang di ruang lain.

#3 Bodoh
Penilaian seperti ini cuma menunjukkan tiga kemungkinan tentang penilainya: pemalas, sempitnya kosakata, dan refleksi diri.

Masih banyak penilaian lain lagi terhadap #selfie. Saya terlalu malas untuk googling dan nyatet lagi. Intinya, menurut saya, selfie itu fine-fine aja lah. It won't make any next world war. Menurut Clive Thompson, penulis teknologi dan buku Smarter Than You Think: How Technology is Changing Our Minds for the Better, “Taking a photograph is a way of trying to understand how people see you, who you are and what you look like, and there’s nothing wrong with that.”

Walaupun #selfie memang bisa menganggu timeline Instagram, Path, atau FB kita. Lagi-lagi itu masalah pilihan dalam menggunakan teknologi aja. Seperti yang pernah saya tulis di sini. Jadi, sebelum punya point of view yang di luar opini-opini pseudo-enlightened soal #selfie, mendingan pakai waktunya buat ambil foto #selfie. Kayak monyet di Sulawesi yang ngambil kamera seorang fotografer dan menjepret wajahnya sendiri. Smile!

 


Sumber foto monyet selfie: Wikipedia

Tidak ada komentar: