Minggu, 26 Januari 2014

Mama Dedeh vs. Soimah vs. Mario Teguh


Saya masih ingat bagaimana sengitnya perebutan remote control televisi di rumah antara saya dan kakak-kakak. Dulu, waktu program-program TV nasional masih worth that war. Zamannya MTV masih di ANTV, keluarga cemara masih narik becak dan jualan opak, minggu pagi masih penuh kartun, sinetron belum kejar tayang, dan uya kuya belum punya anak bernama cinta.

Jatuhnya memang seperti menabur garam di lautan kalau saya bahas kacaunya sebagian besar program televisi nasional sekarang. Seperti mengatakan kalau bumi itu bulat. Kritik-kritik soal TV nasional sudah bisa jadi lautan kalau digabung. Mulai dari kritik akademisi sampai kritik sipil di berbagai social media. Kritik di sosmed juga macam-macam: mulai dari yang kocak, yang pintar, sampai yang sebasi ketupat lebaran tahun lalu juga ada. Jadi, saya sih maunya nggak menabur garam lagi, tapi mungkin merica, biar lebih berbumbu. Biar nggak terlalu asin dan semembosankan keluhan soal berisiknya toa masjid yang juga ramai di sosmed (namanya toa ya berisik, kecuali masjid itu pakainya earphone).

Suatu sore di hari Minggu, saya baru tahu ternyata acara YKS di trans tv sudah mulai dari magrib. Ternyata MUI menegur YKS karena membiarkan masyarakat menonton goyang caesar dan oplosan di kala orang-orang seharusnya solat magrib. Tapi MUI nggak pernah negur tv yang membiarkan masyarakat menonton debat sampah ruhut sitompul dan farhat abbas di saat magrib (apa karena acara tersebut membuat orang yang nggak pernah solat pun lebih rela ambil wudhu dan cari sajadah?). Yang kocak adalah saat tahu kalau indosiar kemudian menayangkan acara ceramah Islam di waktu yang bersamaan dengan YKS. Masyarakat pun dihadapkan pada dua pilihan sulit: Mama Dedeh atau Soimah? Sulit karena dua-duanya sepertinya punya jumlah fans yang tidak jauh berbeda dan mungkin orang-orang yang suka mama dedeh juga suka sama soimah. Seperti menyuruh anak kecil memilih antara cokelat dan es krim. Tega sekali.

Tak lama kemudian, terdengar suara acara lain di televisi. Suaranya Mario Teguh di metro tv, golden way by the way. Di jam yang sama, TV nasional kita seperti memberi penontonnya pilihan: mau jadi orang soleh, orang sukses, apa tukang ngoplos? Komodifikasi agama, industri motivasi, dan creativity dead end. Ternyata pada akhirnya saya nabur garam juga.

4 komentar:

Ramadhona Saville mengatakan...

Hahaha
ikutan nabur garem ah
kritik acara tipi, menarik fan
acara tipi yang bagus udah sirnah sekarang di negara kita

farhanah mengatakan...

kalaupun ada, dikit dan biasanya ga panjang umurnya, don..hueheh

markesot mengatakan...

Oooh, jadi ini toh yang bikin jarang ngeblog? Pantes, sampe hafal gitu program-program TV nasional :p

farhanah mengatakan...

@marsekot: yah ketawan :p