Senin, 08 Desember 2014

5 Best Escape-Pills 2014

Efek baca-baca sekilas lagi Hunger Games setelah agak dropped sama versi film Mockingjay part. 1, manusia itu dipikir-pikir tak ubahnya tribut-tribut Hunger Games yang dilempar begitu saja ke arena tanpa bisa menolak (pilihan lainnya hanya bunuh diri). Kita pun tak ubahnya Andy Dufresne di Shawshank Redemption dan Piper Chapman di Orange is The New Black. Dunia ini pun hanyalah Shawshank State atau Litchfield Penitentiary (atau LP Cipinang!) dengan kunci-kunci dan sipir tak kasat mata. Kita nggak bisa kabur. Pilihannya hanya terus bernafas atau stop (ada yang mau kasih tahu pilihan lain?). Maka, masih beruntunglah manusia punya kepala yang di dalamnya terdapat imajinasi yang bisa membawa kita melarikan diri ke mana saja kita mau. Terpujilah para seniman, penulis, pembuat musik, animasi, film, games, dan apa pun yang mampu membawa kabur barang sebentar para tahanan ini.

Terpujilah pula para muzakki torrent, pengunggah serial di berbagai sudut pirate bays dan kickass. Serial yang episodnya banyak ini setahunan sudah jadi kendaraan melarikan diri paling ampuh buat saya. Binge-watching pun sudah menjadi escape-pills yang tak kenal overdosis (hanya efek samping kurang tidur dan kurang bersosialisasi). Setelah iseng-iseng membuat daftar serial yang saya tonton tahun ini (dan karena sekarang sudah bulan Desember), maka berikut ini lima judul serial terbaik yang saya tonton tahun ini.

#5 Les Revenants
Atau judul Inggrisnya The Returned. Serial Perancis ini punya opening title yang bikin merinding tapi keren (dengan soundtrack Mogwai satu album). Ini semacam Walking Dead versi cakep. Drama zombie minus make up darah-darah atau kejar-kejaran mengunyah manusia. Cerita dimulai dengan kemunculan sejumlah orang yang sudah mati di sebuah kota kecil Perancis. Tidak seperti hantu atau zombie, mereka kembali dalam bentuk manusia utuh. Nuansanya yang kadang aneh bikin saya beberapa kali malas lanjut nonton, tapi lama-lama bikin penasaran. Kabarnya musim keduanya baru akan keluar tahun depan (musim pertamanya sudah tayang dari 2012).


#4 Fargo
Fargo season 1 ini punya dua pemeran utama yang ngeselin. Yang satu loser parah (Lester Nygaard diperankan oleh Martin Freeman pemeran Hobbit dan Dr. Watson di Sherlock), yang satu lagi pembunuh berdarah dingin (Lorne Malvo diperankan oleh Billy Bob Thornton yang tega tapi susah kita benci). Pertemuan Lester dan Malvo menjadi pemantik sederetan pembunuhan yang terjadi di Bemidji, Minnesota. Sepanjang season kita akan dibuat gemas oleh Sheriff yang sotoy tapi goblok (diperankan oleh Bob Odenkirk si Saul Goodman di Breaking Bad), polisi-polisi muda yang di-underestimate (Molly Solverson yang diperankan oleh Allison Tolman dengan begitu manis), dan semua tingkah Lester yang sebelas dari sepuluhnya salah. Serial ini diadaptasi dari film berjudul sama yang keluar tahun 1996.



#3 Orphan Black
Adegan awal dari serial Kanada yang agak underrated ini memperlihatkan seorang con artist yang melihat orang yang persis berwajah dan berbadan sama seperti dirinya sedang melompat bunuh diri di subway. Orphan Black adalah serial science fiction tentang kloning manusia. Premis yang menarik ini jadi lengkap karena pemeran utamanya (Tatiana Maslany) berhasil memainkan belasan karakter dengan gestur, sifat, dan aksen Inggris yang berbeda-beda dengan sukses. Bahkan saya pun sering lupa bahwa karakter-karaker tersebut dimainkan oleh satu aktris yang sama. Cerita makin seru ketika ternyata kloning ini tahu bahwa mereka akan dipatenkan oleh sebuah korporasi biotech, Dyad Institute.


#2 Orange is The New Black
Kehadiran Netflix mengubah cara menonton serial di AS dan sejumlah negara lainnya. Kini serial nggak lagi selalu harus ditonton di televisi. Kita bisa buat akun di Netflix dan pilih serial mana yang mau kita tonton dengan membayar. Awalnya, Netflix hanya menyediakan ulang serial-serial dan juga film yang sudah ada. Nah, barulah sekitar tahun 2012, Netflix pun mulai mempunyai original series-nya sendiri. Dan OINTB menjadi ledakannya (mengalahkan House of Cards). Dark comedy tentang kehidupan di penjara perempuan New York ini sangat menghibur dan cerdas tanpa sok cerdas. Isu rasisme (white, latin, black, sampai asian), gender, sampai korupsi ditampilkan dengan humor sarkas renyah di serial based on true story ini.



#1 Breaking Bad
Kalau yang satu ini serial yang awalnya lumayan saya underestimate. Ditambah lagi di awal-awal plotnya rada lamban (apalagi saat itu saya lagi nonton Game of Thrones yang serunya tak kenal titik). Tapi sehabis nonton, Breaking Bad pun menjadi serial antihero paling bagus yang pernah saya tonton. Seorang guru kimia SMA yang menjadi koki sabu nomor satu se-Amerika bersama mantan muridnya. Sepanjang lima musim, serial ini menceritakan perkembangan dua karakter utama dengan begitu gila. Bagaimana Walter White dan Jesse Pinkman menjadi karakter yang bisa kita suka dan benci secara bersamaan. Belum lagi drama-drama drug cartel Amerika Latin yang menyumbang paling banyak darah di serial ini.



Honorable mention:
Game of Thrones, Sherlock, Homeland, Please Like Me.

Jumat, 24 Oktober 2014

ˈkeɪ.ɒs

Kaos, tak tertata, kacau, disorder, anxious, fucked up. Apa pun yang berlawanan dengan kondisi yang kosmos. Kabarnya, kosmos ini lawan katanya kaos. (Chaos) yang dalam bibel atau mitologi Yunani merupakan keadaan sebelum terciptanya jagat raya.

Tapi kaos tidak eksklusif milik alam semesta. Ia juga terjadi pada isinya isi alam semesta, manusia. Lebih spesifiknya lagi, kepala manusia. Kekacauan ini bisa merambat, merembes, menyublim, meledak, meleleh, apa pun, yang pasti tidak menghilang. Manusia-manusia yang berhasil mengubah rupa kekacauan tersebut dalam bentuk yang baik: coping katanya. Sementara yang sebaliknya: fucked up. Di meja-meja psikolog sebagian akan disebut disorder. Dan di meja-meja psikiater akan di-order-kan oleh sejumlah telanan pil.

Saya percaya bahwa semua (atau nyaris semua) manusia menyimpan potensi kekacauannya masing-masing. Tinggal apakah potensi tersebut terwujud atau tidak. Jika terwujud, bentuknya apa? Jejaknya seperti apa? How chaos is it? Bagi saya, kaos menjelma berupa jari kuku yang selalu pendek sejak kecil, kulit-kulit di sekitarnya yang terasa perih ketika mandi, hentakan di kepala, dan penekanan huruf konsonan. Hal-hal yang harus dilakukan sampai terjadi momen "Ini dia!". Berbagai tuntutan motorik dan fonetik untuk mengejar sebuah just right moment yang tak berkesudahan.

Bertahun-tahun melewati, thanks to Internet, akhirnya saya mengerti bahwa seharusnya orangtua saya tidak perlu memarahi ketika saya secara impulsif menyuarakan konsonan. I'm copingWe're copingThough it turns out that some people should cope with their ways to cope with... cha·os noun /ˈkeɪ.ɒs/.

Minggu, 12 Oktober 2014

Sedikit Mau Itu Baik

Memang 2014 masih punya dua bulan lagi. Tapi apa yang sudah terjadi di delapanpersepuluhnya begitu berdesakan. Tahun ini bisa jadi merupakan plot arahan sutradara paling plin-plan. Skrip digonta-ganti menjelang menit akhir seperti sinetron kejar-tayang. Perubahan besar-besaran di kantor samping pasar itu, meninggalkan kamar kos sekaligus kehidupan kosan, mencoba bekerja di perusahaan IT yang hanya bertahan tiga bulan, beberapa percobaan kecil pada jaringan dalam kepala, satu bulan penuh menganggur yang menenangkan, mulai merealisasikan keinginan lama bersama seorang kawan baru, dan kini kembali menjadi komuter untuk bekerja. Singkatnya, begitu banyak yang berubah di tahun ini yang hanya bisa saya tonton tanpa popcorn.

Saya jadi ingat perjumpaan dengan seorang teman yang juga bekas rekan kerja, seorang psikolog yang jago main flute dan suka menulis. Jarang sekali kami bertemu, mungkin dalam setahun bisa jadi hanya satu kali, tapi setiap bertemu, tanpa disengaja obrolan seperti perlahan berubah menjadi sesi konsultasi gratis. Saat itu tema obrolan yang begitu kental adalah soal apa yang kita mau. Hmmm, topik ini bisa jadi adalah topik yang paling saya hindari untuk dipikirkan (apalagi dibicarakan). Tiga tahun lalu saja saya pernah tulis soal saya yang merasa tak punya tujuan hidup. Saya sering merasa kesulitan untuk menentukan mau kemana, walaupun sebenarnya tahu ingin seperti apa di akhir nanti. Tak masuk akal memang. Seperti ingin pindah ke bulan tapi tak mau menentukan akan naik kereta, bus, pesawat, ulang-alik, atau ojek.

Di waktu lainnya, obrolan soal ini pun muncul kembali bersama teman-teman lain. Tak tahu mau apa, tapi tahu tak mau apa. Kira-kira begitu yang dimaksud oleh seorang kawan yang mudah terharu di sebuah kereta commuter line yang nyaris tak berpenumpang. Hal yang juga sudah bertahun-tahun sadar-tak-sadar menjadi rumus saya dalam menentukan banyak langkah. Karena mungkin lebih banyak hal yang tidak saya inginkan. Seperti ketika saya lebih sering menekan tanda 'next' ketika mendengarkan lagu dalam shuffle mode. Karena sesungguhnya hal-hal yang saya inginkan begitu sederhana. Tidak banyak, tapi hal-hal yang saya mau tak punya pentunjuk arah di Google Maps dan tak memiliki halaman manual di wikiHow.

Saya pun kembali tenang setelah beberapa hari berkubang bersama Sylvia Plath. "Perhaps when we find ourselves wanting everything, it is because we are dangerously close to wanting nothing.”  Menurut penulis yang cuma hidup selama tiga puluh tahun ini, sedikit mau itu baik. Seperti sore ini, saya cuma mau Teh Prendjak dan Nina Simone.

Rabu, 03 September 2014

Mau Jadi Apa di Kehidupan Lain?

Buat saya, penulis adalah sebuah profesi (jika bisa dibilang begitu) yang begitu keren, seru, dan seksi. Di antara sederetan cita-cita saya lainnya—psikiater dan arsitek—penulis pun menjadi cita-cita terakhir yang berkelanjutan (selain menjadi lebih realistis karena psikiater dan arsitek brengseknya harus melalui jalur IPA sementara otak IPA saya hanya ramah pada pelajaran biologi). Tapi sebenarnya, ada satu profesi (atau keahlian) yang paling saya kagumi, paling bikin saya iri, dan paling zen menurut saya pribadi. Diam-diam dari dulu saya selalu mengagumi penari, atau (paling nggak) orang yang jago menari (karena rupanya di negara kita nggak semua orang yang jago menari berakhir menjadi penari).

Buat saya, kemampuan menguasai tubuh sendiri dan mengekspresikan sesuatu melaluinya adalah keahlian yang gila! Beda dengan penulis atau musisi yang mengekspresikan perasaan lewat kata-kata, lirik, atau komposisi; penari mengekspresikan kemarahan, kegembiraan, semangat, kesedihan, kepahitan, dan sebut saja jutaan ekspresi lainnya, lewat gerakan tubuhnya. Mungkin menari satu-satunya cara mengekspresikan diri di dunia yang melibatkan kepala sampai ujung kaki. Kalau kata Pina Bausch (penari yang mempengaruhi dunia modern dance pada 1970-an), "Dance begins where words end."  Itulah juga kenapa saya dari dulu selalu menyukai acara kompetisi menari yang ada di tv; semacam Wade Robson Project (jaman MTV dulu), So You Think You Can Dance, atau Got to Dance UK (dan dulu juga ada beberapa kompetisi dance di televisi nasional yang bagus).

Sayangnya, dari kecil saya nggak ikut kegiatan tari. Badan saya pun cenderung canggung kalau menari. Baru waktu SMP lah saya pertama kali menari. Itu pun terpaksa karena muatan lokal Seni Tari yang wajib diambil kalau mau lulus. Untungnya, tariannya tari kijang. Tarian yang kalau badan kita nggak gemulai-gemulai amat, nggak akan terlalu kelihatan jeleknya. Karena tari kijang ini tarian Sunda yang mengikuti gerakan kijang, jadi kebayang lah gerakannya kayak kijang yang banyak lompat. Sialnya, pas kelas 1 SMA! Saya lagi-lagi kena wajib menari buat ujian Kesenian dan kelompok saya memilih tarian Bali. Tarian Bali ini mirip tarian Jawa yang lembut dan menekankan pada detail. Waktu itu kami belajar di sebuah wisma Bali menyenangkan di seberang kebun raya yang penuh pepohonan besar dan kalau malam menjadi bar buat turis (yang kebanyakan) bule. Yang mengajar kami adalah seorang ibu Bali berusia di atas 60 tahun yang pose badannya seperti tak berubah sejak usianya 17 tahun. Jujur saja, saat itu saya cukup tersiksa karena badan saya kaku dan nggak tahan harus gerak-gerak gemulai dengan begitu banyak pose setengah jongkok. Sialnya lagi, saya satu kelompok sama cewek-cewek angkatan saya yang pentolan nari (sebagian dari mereka ke depannya adalah anggota dance SMA yang jadi salah satu dance crew SMA paling kece se-Bogor pada jamannya, serius!). Untungnya, ada dua teman lain di kelompok itu yang juga kaku kalau nari. Paling nggak, kekurangan nilai kelompok kami nggak hanya tanggung jawab saya.

Setelah sedikit mengalami betapa sulitnya menari, maka setiap melihat orang yang jago menari saya bisa membayangkan kedisiplinan tubuh macam apa yang sudah mereka lalui sebelumnya. Belum lagi kalau menonton film-film soal menari; FootloosePina, Billy Elliot, Black Swan, Saturday Night FeverStep Up, Happy FeetHoney, Bring it On, bahkan dokumenter latihan konser terakhir Michael Jackson, This is It. Di situ saya bisa lihat proses latihan menari yang sama sekali tidak main-main. Nggak hanya jenis tarian yang terkesan sulit dan klasik, tapi tarian hiphop yang terkesan slengean sama sekali nggak lebih mudah. Maka dari itu, saya paling suka kalau So You Think You Can Dance mulai menukar-nukar jenis tarian dengan latar belakang genre tarian para pesertanya. Seperti penari balet yang harus menari hiphop atau street dancer yang harus menari kontemporer.

Oleh karena itulah, kalau ada pertanyaan: “Mau menjadi apa di kehidupan lain?”, saya nggak akan kasih jawaban klise “mau jadi diri saya aja”, tapi saya akan jawab “menjadi penari!”.

Rabu, 06 Agustus 2014

The villains are your average neighbors

Perkenalkan dua penjahat favorit saya dari (currently number 1 serial based on IMDB) Breaking Bad: Gustavo Fring dan Lydia Rodarte-Quayle. Keduanya merupakan tangan-tangan “atas” dalam kartel sabu di New Mexico, AS. Keduanya sama-sama not your typical villains. Keduanya adalah orang-orang yang tampak ngantor 9-5 setelah sebelumnya mengantar anak-anak ke sekolah, yang di jalan pulang mampir sebentar ke supermarket membeli isi kulkas yang sudah habis, dan sampai rumah untuk kembali berebut remote tv bersama keluarga.

Gustavo Fring
Gustavo Fring adalah Colonel Sanders versi Latin, KFC-nya bernama Los Pollos Hermanos (bahasa Spanyolnya The Brothers Chickens). Los Pollos Hermanos ini yang jadi salah satu kedok dari drug cartel-nya (sabunya diangkut di dalam adonan ayam). Gaya pakaiannya bankir dan cara ngomongnya seperti guru (sopannya super). Gus juga dekat dengan DEA (BNN-nya Amrik, badan pembasmi narkoba) dengan menjadi penyokong dana untuk kegiatan sosialnya. Cara kerja Gus sangat apik, total, dan dingin. Dia tipe businessman yang prinsipnya “We should do the best or we do nothing”.


Bisa dibilang Gus sangat berperan dalam proses metamorfosis karakter dan cara kerja Walter White (koki sabu yang merupakan tokoh utamanya). "You are a wealthy man now. One must learn to be rich. To be poor, anyone can manage”, salah satu petuahnya buat Walt. Yang paling gila menurut saya adalah ekspresinya yang selalu datar dan caranya senyum tampak tulus tapi seolah-olah bilang “I can kill you anytime I want”. Dan memang anytime he wants, Gus dapat membunuh siapa pun yang menurutnya pantas mati demi membersihkan jalur bisnis sabunya. "If you try to interfere, this becomes a much simpler matter. I will kill your wife. I will kill your son. I will kill your infant daughter." Lagi-lagi ini diucapkan untuk Walt si Heisenberg penemu the pure blue-meth.


Lydia Rodarte-Quayle
Lydia adalah eksekutif yang bisa kita lihat lagi mimpin rapat di Sudirman dan berlalu-lalang dengan kacamata hitam untuk numpang lewat beli kopi decaf di Plaza Senayan. Tapi siapa sangka ternyata bahan utama sabu-sabu yang beredar di Jalan Biak situ disuplai olehnya. Nama dan tampilannya seperti eksekutif perusahaan besar yang workaholic yang mendapatkan penghargaan Outstanding Leadership in Business. Yang memang benar. Akan tetapi ia juga berperan sebagai pemasok methylamine untuk Gustavo Fring yang akhirnya selepas kematian Gus juga turut mendistribusikan blue meth, bahkan sampai ke luar negeri.


Kebalikannya Gus yang supertenang, Lydia adalah tipe yang bisa kena serangan stroke kapan saja. terlampau tegang dan selalu gugup. Karakter yang merugikan bagi seorang kriminal, sekaligus membuatnya semakin berbahaya (adegan pertama kemunculannya saja ketika Lydia menyerahkan daftar orang-orang Gus yang akan dia bunuh karena kewaspadaannya yang jauh mengalahkan kehati-hatiannya). Baru muncul di season finale, Lydia memang satu-satunya karakter perempuan di lingkaran drug cartel (selama 4 season semuanya laki-laki). Meskipun begitu, penampilannya bukan sekadar Smurfette Principle (satu-satunya karakter cewek di antara semua karakter cowok). Hal ini dijelaskan lewat percakapan Mike dengan Jesse, "And now you're being sexist. Trust me, this woman deserves to die as much as any man I've ever met." Di balik pembawaannya yang kaku, ambisi Lydia dalam membesarkan blue-meth tak bisa disepelekan. Seperti ucapannya saat nyawanya terancam dan berniat menukarnya dengan pasokan bahan tak terbatas, "Who said anything about barrels? I'm talking about an ocean of the stuff."


Sumber foto:
http://hushcomics.com/
http://carboncostume.com/

Kamis, 10 Juli 2014

Pintu

Janus adalah dewa dengan dua wajah. Ia melambangkan awal, transisi, peralihan, di antara. Dalam mitos asalnya di Romawi, ia kerap dihubungkan dengan awal dan akhir dari sebuah konflik, perang dan damai. Oleh karena itu juga, kita menyebut bulan paling awal dalam satu tahun dengan 'Januari'. Kata 'lanus' dalam Latin yang berarti 'pintu' juga kabarnya berakar dari sini.

Janus, lebih dari sekadar papan persegi, besi, baja, atau bata pelindung suatu ruang; namun ia juga lah yang memegang kuasa untuk membuka atau menutupnya. Semacam penjaga gerbang dengan segala pertimbangan politisnya. Tak hanya bangsa Romawi yang menanam magis dalam konsep pintu, ménshén (semoga nggak salah sebut) adalah dewa pintu bagi bangsa Cina. Ialah yang memberhentikan roh-roh jahat hanya sampai di depan pintu. Di Indonesia sendiri, negeri penuh pamali ini, juga punya magi yang berhubungan dengan pintu. Siapa sih yang tidak familiar dengan nasihat "Jangan menghalangi pintu nanti seret jodo'!" atau "Jangan duduk di depan pintu nanti sakit".

Begitulah kira-kira pintu di kepala saya. Ia punya keluasan di baliknya, tepat ketika kuncinya diputar, password diterima, atau kartu magnetik disentuhkan. Lebih dari sekadar konsep keamanan dan arsitektur. Kurang lebih, sadar nggak sadar, ini yang membuat saya bikin proyek iseng dua tahun yang lalu, Proyek Pintu. Sebuah tumblr-based blog yang isinya foto-foto pintu (menarik atau nggak menarik) di mana saja saya melihat pintu dan tertarik buat ambil fotonya. Beberapa foto juga ada hasil jepret dari beberapa teman (jadi kalau ada yang mau sumbang foto pintu, dengan senang hati). Jarang di-update sih. Nah, ini foto pintu pertama yang diunggah pada tahun 2012.



Suatu hari, teman saya Maesy pernah tanya soal Proyek Pintu. Saya tiga perempat bercanda menjawab (bukan verbatim), "Proyeknya bakal berenti kalau udah nemu pintu surga".

Senin, 23 Juni 2014

Pertanyaan-Pertanyaan

Apakah takut akan kesibukan sama dengan malas? Apakah salah takmau apa-apa dan taktahu mau apa? Kenapa saya lama-lama kecanduan baca wikihow? Oh ya, kenapa tidak ada wikiwhy? Apakah tidak adanya wikiwhy menjelaskan bahwa alasan itu personal sehingga takbisa dibuat standarnya? Kapan obsessive-around-nail-skin-picking ini berakhir? Satu lagi, mengapa bulan Juni terasa seperti laba-laba berlengan satu yang menyulam sarang taktampak?

Jumat, 06 Juni 2014

Sendu di Mangkuk

Kesenduan selalu punya caranya sendiri untuk mengalir. Habis dan berlalu atau sekadar menggenang tak jauh. Tak peduli seberapa banyak tawa yang kausiram dan kata-kata kasar yang kauselundupkan lewat cotton bud lembut ke telinga. Pada akhirnya, mata akan selalu menghianati kata, jeda lebih berteriak, dan hening melolong tanpa akhir.

Sudah lama ia tak kehilangan nafsu makannya, sampai malam itu. Ketika sendu mengunyah lapar sampai habis. Menyisakan mangkuk dengan makanan yang hanya dimakan seperempatnya. Kesenduan selalu punya caranya sendiri untuk mengalir. Pada jumat malam itu, ia memilih untuk mengalir ke mangkuk makan.

Pintu yang sendu di kota tua Semarang

Senin, 05 Mei 2014

We're simply never that free


Transcendence dan Her adalah dua film terbaru yang bercerita tentang pengaruh teknologi dalam hidup manusia. Dua film tersebut sama-sama mereka-reka dunia masa depan (yang tampaknya sudah tidak terlalu jauh lagi) di mana artificial intelligence (AI) mencapai tingkatan yang semakin menyamai natural intelligence. Bahkan bukan lagi sekadar kecerdasan otak, AI tersebut memiliki perasaan. Mereka punya hati, punya pacar, punya teman, punya emosi. Banyak yang menganggap film-film semacam ini sebagai peringatan terhadap perkembangan teknologi yang bisa menjadi bumerang bagi manusia. Untuk konteks hari ini, teknologi yang kerap dianggap sebagai bumerang adalah internet.

Individualisme yang semakin tinggi, narsisme yang makin punya panggung (#selfie!), dan kedangkalan informasi adalah beberapa poin umum tentang akibat buruk penggunaan internet yang sering dibahas. Semuanya mengarah pada akibat yang personal dan tidak struktural. Masalah manusianya, bukan teknologinya. Teknologi nggak maksa manusia buat nunduk terus di meja makan waktu bersama teman, bukan teknologi juga yang mengharuskan kita sering-sering foto muka sendiri, dan teknologi nggak membakar toko buku (malah menambah pilihan untuk download gratis e-book). Ketiga masalah tersebut adalah masalah pilihan. Kita bisa pilih untuk mengobrol daripada maenin smartphone (padahal di smartphone juga bisa aja lagi ngobrol), kita juga bisa pilih untuk buka buku daripada buka Path.

Ironisnya, justru permasalahan lebih penting yang dibawa teknologi informasi sekarang ini datang bersama kenyamanan-kenyamanan teknologi yang kita anggap positif dan membantu. Search engine dengan personalized search result-nya adalah salah satunya. Kita mencari apa pun di Google. Yang kita cari dan yang teman kita cari akan berbeda, algoritma Google di setiap browser pun akan berbeda. Akhirnya, ketika kebetulan kita dan teman kita melakukan pencarian yang persis sama, hasilnya belum tentu sama. Segala keyword yang kita ketik sebelum tekan enter pun direkam, didata, dikategorikan. Begitu juga segala aktivitas di sosial media. Data ini begitu empuk. Buat siapa? Buat para penjual iklan sampai buat pemerintahan yang terlalu insecure kayak AS dan NSA-nya.

Internet yang digembar-gemborkan menjadi salah satu penyokong kebebasan berekspresi dalam masyarakat pun nyatanya di belahan dunia lain sudah berhasil dijadikan alat pengokoh suatu rezim otoriter. Internet yang memang mampu menggratiskan pengetahuan, namun di sisi lain, sensor juga bisa dilakukan terhadap pengetahuan apa saja yang bisa didapat. Inilah dampak dari teknologi yang lebih jelas. Bukan narsisme berlebih yang bisa mengekang kebebasan berekspresi suatu masyarakat. Bukan juga ribuan anak muda #selfie yang memata-matai aktivitas kita. Internet nggak jauh beda sama poster. Oleh suatu kelompok anak muda poster bisa digunakan sebagai media untuk berekspresi. Namun, di saat yang sama, penguasa juga bisa menggunakan poster untuk mengumumkan peraturan baru bahwa poster hanya bisa digunakan untuk mendukung pemerintahan. It’s not a gun that kills people, it people kill people. But who hold the power to rule the use of a gun? Masyarakatnya sendirikah? Rezim otoriter? Pemerintah prodemokrasi yang overinsecure? Prabowo?

Ini masalah internet yang lebih mengancam. Bukan #selfie, generasi narsis, generasi too much information, or whatever those enlightened people ever said.

Senin, 14 April 2014

Keinginan-keinginan yang menjadi sederhana di rumahsakit


Ada masjid lain dimana doa-doa terlempar lebih keras
dan sujud-sujud terdampar tanpa batas
Ada ketakutan tipis-tipis nyaris tak terlihat
tentang ego yang sering tertukar
serta keinginan yang selalu terbakar

Berhari-hari tersebut ia mengerti
Bahwa obrolan bisa lebih penting dari udara

Tabung obrolan
Transfusi obrolan
Pil obrolan
Mandi obrolan
Obralan obrolan

Seharusnya hidup bisa sederhana saja
Sarapan telur dan mandi dua kali
Sayang, hidup bukan rumah makan padang
Kita butuh koprol ratusan kali untuk bilang salam
ke tetangga sebelah

Seharusnya semua bisa sederhana saja
Tapi prosedur asuransi kesehatan tak pernah sederhana
Sekarat kini operasi nanti
Usia di tangan tuhan

dan uang tunai


dan kartu kredit

Kamis, 27 Maret 2014

Minggu yang Kental




Semingguan ini kamar kost saya terasa seperti kamp pengungsian. Empat tumpukan baju, sisa buku, dan barang-barang tak penting (seperti sebuah djembe yang jarang saya mainkan di kosan karena takut disangka markas grup orkes melayu sama tetangga kos). Niatan awal untuk menyicil bawa barang-barang tadi sedikit demi sedikit ke Bogor setiap minggunya (dengan kereta super dengan kartu commet super yang sering habis saldonya akhir-akhir ini) pun lenyap ditelan malas yang ikut menumpuk. Plan B pun harus dipilih, menggunakan hubungan darah (yaitu menghubungi kakak untuk minta bawain barang dengan mobilnya). 

Tumpukan barang-barang tersebut sesak dan acak-acakan. Persis perasaan dan isi kepala saya saat itu. Entah saya yang sebenarnya unconsciously attached sama kosan ini atau memang saya saja yang terlalu (dan hampir selalu) sentimental, tapi semingguan ini memang perasaan begitu numpuk dan sesak tanpa sebab yang jelas. Bukannya tanpa sebab, tapi tanpa sebab yang jelas. Kadang saya suka berharap saya jadi orang yang nggak perlu terlalu menyerap perasaan/emosi orang di sekitar. Sampai dua hari berturut-turut saya googling “how to not absorb others emotions”. Jawaban dari Wikihow pun langsung saya lupa tanpa sempat diikuti. Jadi, saya pun tetap menyerap emosi buruk (karena jenis emosi ini yang sedang banyak tersedia di sekitar) dan membawanya sampai ke bantal sebelum tidur. Kadang saya ingin seperti Chris di serial Skins yang nggak banyak mikir: just do it, have fun, fuck it, terus dieee (tapi yang ini jangan dulu). 

Di awal minggu, penerbit buku grup di kantor ultah dan buku pun berpesta. Di pesta buku itu paling sedikit buku didiskon 50%. Apa yang lebih menyedihkan dari harga yang diturunkan tanpa kemampuan beli yang naik? Bahkan istilah dompet tipis sudah nggak cocok. Dompet udara lebih pas. Sialnya, waktu gajian kantor saya baru hari Jumat alias akhir pekan. Untungnya, seorang teman membayar utangnya di tengah minggu dan keesokan paginya saya pun langsung semangat ke kantor (bukan buat kerja) tapi ngorek-ngorek bazaar yang masih sepi di pagi hari. Mengingat lebih siang sedikit bazaar tersebut sudah dipenuhi pemburu-pemburu kompetitif.

Malam sebelumnya, di dalam sebuah angkot di atas pukul sebelas. Di jam seperti itu, semua orang cuma ingin pulang. Begitu pun dengan bapak gemuk 40-50an tahun yang bajunya terlalu lelah nampung keringat. Apalagi yang pakai, duduk di pinggir karena rupanya kegerahan duduk di sebelah saya yang harus tutup jendela karena nggak bisa kena angin malam terlalu kencang. Kena angin, kepalanya pun tertunduk naik-turun, ketiduran. Saat itu, seolah-olah tak ada yang lebih melankolis dari malam dingin di Jakarta Barat bronx city dengan Nina Simone mengaji di telinga dan seorang bapak yang terlalu mengantuk untuk menikmati rasa ingin pulangnya.

Semoga minggu yang terasa kental ini ditutup dengan manis. Seperti susu.

Rabu, 05 Maret 2014

#selfie & Pseudo-Enlightened Opinions



Sudah terlalu banyak ego-driven opinions yang bilang kalau internet membawa petaka bagi peradaban. Khususnya yang berisik sejak tahun lalu adalah soal #selfie. Jarang sekali ada pandangan yang segar, nyaris semuanya sebasi ketupat lebaran tahun 2001. Segala cemooh (yang kebanyakan) pointless.

Kenapa ego-driven?
Karena kebanyakan komentar tersebut nggak lebih dari proses menempatkan para komentator lebih tinggi dari para obyek komentarnya. Dia selfie, saya nggak, dia norak, saya nggak, dia lebay, saya bijak, dia selfie, saya ketawain aja deh. Orang-orang yang menyinyiri #selfie pun seolah lebih mulia, lebih manusia.

Inilah yang disebut dengan ego traps. Ketika kita merasa lebih "spiritual" atau "mulia" ketika kita lebih memilih berjalan kaki daripada naik mobil, tidak menonton YKS di TV, dan menjadi vegetarian; namun kita bersikap judgemental terhadap orang yang membawa mobil, menonton YKS di TV, dan mengunyah daging dengan lahap.


Berdasarkan hasil pengamatan melalui googling dan akhirnya sampai ke sejumlah artikel juga blog yang membahas selfie, sejumlah penilaian pseudo-enlightened yang umum soal para pelaku #selfie adalah bahwa mereka:

#1 Narsis tak terbendung
Memang kurang narsis apa lagi sih orang yang merasa dirinya adalah manusia yang lebih baik karena tidak pernah selfie?

#2 Lonely crowd
Saya adalah subyek sekaligus obyek dari sebuah judgement: the lonely crowd. Sampai akhirnya saya menyadari, orang-orang yang menunduk menghadap layar sentuh di kereta bisa saja sedang menebus rasa kangen dengan orangtuanya di kota lain, bisa saja pria yang asik menyentuh-nyentuh layar di pojok kantin sedang melihat-lihat foto anaknya yang belum bisa ia temui hari ini. Ini berlaku juga untuk selfie, bisa saja foto muka supercloseup yang mereka upload di instagram menjadi pelipur sepi seseorang di ruang lain.

#3 Bodoh
Penilaian seperti ini cuma menunjukkan tiga kemungkinan tentang penilainya: pemalas, sempitnya kosakata, dan refleksi diri.

Masih banyak penilaian lain lagi terhadap #selfie. Saya terlalu malas untuk googling dan nyatet lagi. Intinya, menurut saya, selfie itu fine-fine aja lah. It won't make any next world war. Menurut Clive Thompson, penulis teknologi dan buku Smarter Than You Think: How Technology is Changing Our Minds for the Better, “Taking a photograph is a way of trying to understand how people see you, who you are and what you look like, and there’s nothing wrong with that.”

Walaupun #selfie memang bisa menganggu timeline Instagram, Path, atau FB kita. Lagi-lagi itu masalah pilihan dalam menggunakan teknologi aja. Seperti yang pernah saya tulis di sini. Jadi, sebelum punya point of view yang di luar opini-opini pseudo-enlightened soal #selfie, mendingan pakai waktunya buat ambil foto #selfie. Kayak monyet di Sulawesi yang ngambil kamera seorang fotografer dan menjepret wajahnya sendiri. Smile!

 


Sumber foto monyet selfie: Wikipedia

Minggu, 23 Februari 2014

Melambat

Yang menyenangkan selama dua tahun ini adalah gerakan yang melompat-lompat dan tahu kapan harus melambat (untuk sesekali duduk santai sambil terbahak-bahak). Pelajaran dari semuanya, kegagalan yang sesungguhnya adalah ketakutan untuk bersenang-senang dan terlihat bodoh. Juga ketakutan menjadi (dianggap) gila. Tak ada lagi pelajaran dari kaki yang lecet karena nekat nyebur ke sungai dangkal penuh batu. Adrenalin yang diubah pelan-pelan menjadi kepatuhan robotik dan faux-communal-pride.

Masalahnya adalah rasa lapar dan lidah mengajarkan kita bahwa roti paling lezat nggak dibuat pakai cetakan di pabrik, tapi di dapur (with a brutal love if you have to).

Stasiun Karet. Tempat yang cocok buat melambat di tengah kota yang (maunya) cepat

Minggu, 26 Januari 2014

Mama Dedeh vs. Soimah vs. Mario Teguh


Saya masih ingat bagaimana sengitnya perebutan remote control televisi di rumah antara saya dan kakak-kakak. Dulu, waktu program-program TV nasional masih worth that war. Zamannya MTV masih di ANTV, keluarga cemara masih narik becak dan jualan opak, minggu pagi masih penuh kartun, sinetron belum kejar tayang, dan uya kuya belum punya anak bernama cinta.

Jatuhnya memang seperti menabur garam di lautan kalau saya bahas kacaunya sebagian besar program televisi nasional sekarang. Seperti mengatakan kalau bumi itu bulat. Kritik-kritik soal TV nasional sudah bisa jadi lautan kalau digabung. Mulai dari kritik akademisi sampai kritik sipil di berbagai social media. Kritik di sosmed juga macam-macam: mulai dari yang kocak, yang pintar, sampai yang sebasi ketupat lebaran tahun lalu juga ada. Jadi, saya sih maunya nggak menabur garam lagi, tapi mungkin merica, biar lebih berbumbu. Biar nggak terlalu asin dan semembosankan keluhan soal berisiknya toa masjid yang juga ramai di sosmed (namanya toa ya berisik, kecuali masjid itu pakainya earphone).

Suatu sore di hari Minggu, saya baru tahu ternyata acara YKS di trans tv sudah mulai dari magrib. Ternyata MUI menegur YKS karena membiarkan masyarakat menonton goyang caesar dan oplosan di kala orang-orang seharusnya solat magrib. Tapi MUI nggak pernah negur tv yang membiarkan masyarakat menonton debat sampah ruhut sitompul dan farhat abbas di saat magrib (apa karena acara tersebut membuat orang yang nggak pernah solat pun lebih rela ambil wudhu dan cari sajadah?). Yang kocak adalah saat tahu kalau indosiar kemudian menayangkan acara ceramah Islam di waktu yang bersamaan dengan YKS. Masyarakat pun dihadapkan pada dua pilihan sulit: Mama Dedeh atau Soimah? Sulit karena dua-duanya sepertinya punya jumlah fans yang tidak jauh berbeda dan mungkin orang-orang yang suka mama dedeh juga suka sama soimah. Seperti menyuruh anak kecil memilih antara cokelat dan es krim. Tega sekali.

Tak lama kemudian, terdengar suara acara lain di televisi. Suaranya Mario Teguh di metro tv, golden way by the way. Di jam yang sama, TV nasional kita seperti memberi penontonnya pilihan: mau jadi orang soleh, orang sukses, apa tukang ngoplos? Komodifikasi agama, industri motivasi, dan creativity dead end. Ternyata pada akhirnya saya nabur garam juga.