Rabu, 19 Juni 2013

Semakin Praktis = Semakin Dangkal?

Di konteks warga Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hmm sebenarnya saya tidak bisa membulatkan seluruh warga kota yang dalam jarak 1meter saja sudah seperti dunia yang jauh berbeda. Sudah sering saya melihat dalam satu foto yang sama menunjukkan dua kelas masyarakat yang bertolak belakang. Seperti gambar apartemen mewah dengan latar depan/samping/belakang perumahan kumuh, dll. Di gambar/video saja bikin merinding, tapi nyatanya ngalamin gradasi perubahan brutal secara nyata dalam waktu nggak sampai 30 detik rasanya kurang pas disebut merinding. Apa ya? Hmm, kayak pindah frekuensi? Berasa di film science fiction yang memungkinkan teleport? (minggu lalu saya ngalamin ini saat naik ojek di daerah kuningan).

Bagi generasi touch screen, lebih tepatnya bagi warga Jakarta yang selalu terhubung lewat smartphone/tablet/laptop, kebutuhan primer selain udara dan airbersih adalah sinyal internet atau wifi. Udara dan airbersih jelas merupakan kebutuhan utama, nggak bisa hidup lah tanpa dua hal itu. Internet? Smartphone? Nyaris begitu juga sebenarnya. Cuma alasan dari kebutuhannya dibentuk dan dibuat, alias tidak alami. Dan kita sebagai manusia yang jago konsumsi cuma bisa nurut saja dan pada akhirnya ikutan butuh juga.

Kalau menurut Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media: The Extension of Man (1964), medium atau teknologi merupakan "the extension of ourselves" atau "perpanjangan diri kita". Sementara yang ada sekarang menurut saya lebih tepat disebut "the excess of the extension of ourselves".


Smartphone beranak-pinak tanpa kontrasepsi

Sekarang adalah masanya baby boom bagi teknologi komunikasi. Smartphone dan kerabat-kerabatnya seperti tablet, note, dll, beranak-pinak tanpa henti. Bukti gampangnya sih smartphone canggih abis hari ini nggak nyampe tahun depan udah jadi smartphone saja dan harganya merosot. Saking cepatnya ritme kelahiran yang baru.

Kita "dibuat" butuh. Seolah-olah setiap ada yang baru, entah model, teknologi, dan fitur, kita menjadi butuh. Floating touch screen contohnya yang baru-baru ini populer lewat samsung galaxy S4 dan sony xperia. Di android device satu ini kita bisa mengontrol smartphone kita bukan lagi hanya dengan menyentuh, tapi cukup bergerak-gerak 20mm di atas layar. Nggak perlu disentuh! Bukan karena nggak muhrim pastinya.

Connected 24jam sehari 7hari seminggu

Nggak terlalu lebay mungkin kalo bilang sekarang lebih sulit cari kafe tanpa wifi daripada yang ber-wifi. Karena ini daya jual tinggi memang buat kafe-kafe tersebut. Sampai suatu hari saya bertemu dengan Pak Joko yang dulunya bikin BagelBagel dan sekarang bikin kedai taco di jalan benda kemang, Taco Express. Di Taco Express nggak ada wifi. Saya dan satu teman saya pun bertanya kenapa nggak pake wifi? Dia bilang dia ingin orang yang datang ke tempatnya memang cuma untuk makan tanpa gadget. Nggak berlebihan keinginannya, cuma mau orang kesini untuk makan, tok. Bukan kunyah-kunyah taco sambil liat teman kita ngomong apa di twitter, ngepost apa di path, atau main games online.

Kita bukan Durga dan nggak perlu jadi Durga

Buat saya nggak berlebihan sih konsep makan tok makan, ngobrol tok ngobrol. Mengerjakan hal satu per satu secara berurutan. Multitasking terbukti tidak baik bagi manusia (googling aja yak penelitiannya, hehe pemalas). Sayangnya, kebanyakan yang diunggulkan oleh berbagai turunan teknologi komunikasi tersebut, langsung dan tidak langsung, membawa manusia semakin candu pada multitasking.

Masalahnya bukanlah romantisme analog seperti yang sudah terlampau menyebar lewat social media (meskipun agak ironis fakta bahwa romantisme analog disebarkan secara digital). Bukan sebatas "aku rindu baca tulisan tangan, bukan ketikan qwerty". Masalahnya, kemubaziran tadi. Ketidakbutuhan kita yang dialihkan menjadi kebutuhan semu. Bukankan hubungan antarmanusia kita baik-baik saja saat kita masih mengetik kata-kata dengan 10 tombol nokia yang cuma punya permainan snake?

Bukan sekadar romantisme analog

Kemubaziran, kemudahan, kepraktisan membawa kita kepada kelemahan mengapresiasi. Terbukti dengan semakin mudahnya kita terhubung dan berkomunikasi, semakin rendahnya apresiasi kita terhadap komunikasi tersebut. Untuk generasi 90-an, coba ingat-ingat seberapa erat kalian menjaga koin-koin seratusan atau limaratusan untuk menelepon di telepon koin ujung jalan. Berapa lama kita menulis surat dan menyimpannya baik-baik di lemari untuk dibaca lagi berkali-kali. Bahkan siapa yang pernah punya satu folder inbox SMS dari nama yang sama di HP-nya. Dulu sebegitunya kita mengapresiasi bentuk koneksi dan komunikasi kita.

Sederhana sih, karena tingkat usaha terhadap akses semakin tinggi, maka semakin tinggi pula apresiasi. Mungkin seperti itu. Seperti cara kita mendengarkan musik. Kini kita bisa mendengarkan musik yang diciptakan pada ratusan tahun lalu. Bedanya, orang yang hidup di masa ratusan tahun lalu itu tidak bisa mendengarkan musik tersebut semudah kita mendengarkannya lewat CD, mp3, dll. Kesempatan mendengarkannya secara utuh begitu langka bagi mereka. Seperti yang ditulis oleh Haruki Murakami lewat novel 1Q84, "Karena kita hidup di dunia yang begini praktis, kemampuan kita untuk mencerap berbagai hal pasti kehilangan ketajaman. Walaupun bulan yang ada di langit adalah bulan yang sama, barangkali kita melihat benda yang beda."

Kepraktisan membuat kita kehilangan kedalaman, ketajaman.


Angry Bird before touchscreen

Kamis, 13 Juni 2013

Kartinian Bales-Bales Surat Kartini

Hari Kartini-an lalu, saya bareng beberapa teman dari Pamflet diajak untuk ngeramein acara yang diadakan di Coffeewar. Acaranya berisi pembacaan surat-surat Kartini dan sekalian "membalas" surat-suratnya. Lalu, kami pun memutuskan untuk membalas surat Kartini dengan membawakan 1 puisi tulisan Ninies dan 1 surat Kartini yang kami "balas" setiap baitnya dengan headline dari cuplikan-cuplikan berita di kompas.com.

Oh ya, biar lebih gaya, muda, dan "kekinian" :p, kami membawakannya dengan gonjrengan gitar dari Afra-Rukita dan semprotan harmonika raba-raba dari saya. Yang begaya tampil: Moli, Rukita, Afra, Fani.

Berikut mash up surat Kartini+twitter kompas.com. Baris pertama adalah surat Kartini, baris kedua yang hurufnya miring itu tweet-tweet kompas.com.


"Saya menginginkan lebih jauh. Bukan perayaan, bukan bersenang-senang yang menjadi tujuan saya akan kebebasan. Saya ingin bebas agar bisa mandiri, tidak perlu tergantung pada orang lain, agar... tidak harus menikah."
1.004 Pasangan mengikuti Nikah Massal di Probolinggo

"Akan tetapi, kami memang harus menikah. Tidak menikah merupakan dosa terbesar bagi seorang perempuan Islam. Aib terbesar yang bakal ditanggung gadis bumiputera dan keluarganya."
Karena takut dicap sebagai perawan tua, maka orangtua pun menjodohkan dan menikahkan putrinya begitu beranjak remaja.

"Mengenai pernikahan itu sendiri, aduh, azab sengsara adalah ungkapan yang terlampau halus untuk menggambarkannya. Bagaimana pernikahan dapat membawa kebahagiaan, jika hukumnya dibuat untuk semua lelaki dan tidak ada untuk perempuan?"
Undang-Undang Perkawinan sampai saat ini masih memperbolehkan poligami, sementara undang-undang pornografi masih memuat pasal-pasal yang mengkriminalkan perempuan.

"Kalau hukum dan pendidikan hanya untuk lelaki? Apakah itu berarti ia boleh melakukan segala sesuatunya?"
14 pria diduga terlibat dalam tindakan pemerkosaan terhadap gadis berinisial N 15 di Jakarta Timur

"Cinta. Apa yang kami pahami dari cinta? Bagaimana kami bisa mencintai seorang lelaki dan seorang lelaki mencintai kami, tanpa mengenal satu sama lain? Bahkan, di antara kami tidak boleh melihat satu sama lain."
Seperti diberitakan sebelumnya, Mawar (nama samaran) bunuh diri setelah meminum racun rumput di kamarnya.

"Anak gadis dan anak muda dipisahkan?"
Dia bunuh diri setelah diperkosa secara bergilir oleh tiga pemuda sedesanya.


 Gaya pas "bales" surat Kartini