Kamis, 17 Mei 2012

Pendidikan Seperti Sidik Jari

"Don't go to college, go to work!"

Begitulah quote ngehe dari mantan director Saatchi and Saatchi sekaligus penulis buku tentang iklan, Paul Arden. Saya yang saat baca itu masih kuliah berasa didemotivasi. Maksudnya si Paul ini: udah lo kerja aja juga bisa dapet ilmu sebanyak di kuliah, kuliah itu buang-buang waktu aja, belum tentu juga ilmu yang lo pelajari di kampus kepake buat kerja nanti. Kampretnya si Paul.

Saya punya beberapa teman di usia muda yang sudah masuk ke dunia kerja meskipun sekolah maupun kuliahnya belum selesai. Dan mereka sama sekali nggak berjalan di belakang orang-orang yang sudah lulus. Bahkan mereka melakukan hal yang mereka kerjakan di atas rata-rata. Jelas, ini semakin mengamini fungsi pendidikan di negara kita yang kasarnya, hanya demi selembar ijazah yang bisa mempermudah dapat pekerjaan dan gaji. Menyedihkannya, sejauh ini memang begitu. Meskipun ada perusahaan, termasuk tempat saya bekerja, yang nggak menilai orang cuma dari ijazah sudah lulus atau belum. Tapi, ya sangat jarang.




pen·di·dik·an n proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.


Senada dengan definisi 'pendidikan' di Kamus Besar Bahas Indonesia, Bung Hatta pernah bilang bahwa "Pendidikan itu proses memanusiakan manusia", nyatanya, pendidikan kita selama ini masih sekedar mesin pencetak tenaga kerja. Jadi, jangan ngarep lah kamu yang punya minat sangat tinggi di bidang bahasa atau seni bisa dianggap murid yang bersinar. Gambaran sistem pendidikan kita seperti ini: selama kamu nggak ngerti logaritma, meski penulisan 'di' preposisi dan kata sambungmu selalu benar, kamu bodoh, titik. Tanpa peduli bahwa tiap orang punya minat dan kelebihan di bidang yang berbeda. Nggak aneh kenapa banyak orang tua lebih bangga anaknya masuk IPA daripada IPS. 



Pendidikan itu seperti fingerprint yang nggak akan sama untuk setiap orang.

Kalau buat saya pribadi, sekolah/kuliah itu tempat kita membentuk dasar pola pikir kita nantinya, apapun jurusannya. Tempat kita mungkin bakal menemukan kalau minat kita sebelumnya ternyata nggak semenarik minat baru kita. Tempat kita nemuin hal yang bukan kita cari. Dan kebanyakan proses itu nggak cuma terjadi di ruang kelas, tapi jauh dari itu, proses pendidikan buat saya terjadi juga di sela-sela obrolan ngalor ngidul di kantin, cerita-cerita di tengah mengerjakan tugas, saat pergi ke tempat penyewaan film bareng teman, ke rumah teman lalu 'ngerampok' buku-bukunya, dan sebagainya. Pada akhirnya, bukan salah Paul Arden kalau dia bilang nggak usah sekolah, karena ya memang selama ini the real education lebih banyak terjadi di luar kelas, selama sistem pendidikan kita masih cuma sekedar pabrik kayak sekarang. Selama mahasiswa lebih bangga masuk fakultas ekonomi atau kedokteran daripada sastra atau sosial.



Gambar 1: cover Change Magazine edisi 22 "Pendidikan Merobotkan Manusia" karya Zulfikar Arief.
Gambar 2: 9gag.com