Sabtu, 14 Januari 2012

'Pintar' Paket Instan

"...setidaknya di sini wajahnya pintar-pintar, tidak seperti penonton acara pagi itu.." [suara tawa yang palingan di-mix sama efek]

Itu kurang lebih sekilas kalimat yang saya dengar dari kilasan iklan program Stand Up Comedy Metro TV. Kalimat tersebut (kalo saya nggak salah lihat mukanya) diucapkan oleh Soleh Solihun, yang kalo saya nggak salah juga, dari majalah Rolling Stone. Saya asumsikan yang dimaksud 'acara pagi itu' adalah acara-acara musik semacam Dahsyat dan Inbox.

Oh poor you, orang-orang yang merasa pintar hanya karena mendengarkan The Smiths bukan Britney Spears, punya beralbum-album lagu Pink Floyd di laptopnya bukan Westlife, memakai kaos Belle and Sebastian bukan Justin Bieber, dan pergi menonton ERK bukan ST12.

Lagipula, tidakah kamu tahu penonton-penonton acara pagi itu dibayar? (CMIIW) Tidakkah kamu tahu bahwa mereka melakukan itu untuk cari uang? Mereka yang kausebut 'bodoh' atau 'tidak pintar' itu mungkin memang nggak ngerti siapa Morrissey karena memang nggak punya akses untuk tahu (dan nggak wajib fardhu ain juga kan ya). Jangkauan mereka mungkin memang sejauh Syahrini (dan nggak dosa juga loh). Mereka mungkin nggak punya akses internet supercepat seperti yang disediakan oleh papa-mamamu untuk tahu bahwa di negeri ini ada band-band lain di luar "acara pagi itu". Intinya, mereka nggak punya akses untuk menjadi 'pintar' versimu.

Tapi menurut pendapat saya, lawakan bilang mereka 'bodoh' sama sekali tidak menggelitik dan bikin saya ingin ketawa. Lawakan itu nggak lebih baik dari lawakan menghina fisik ala Tukul. Fenomenanya sekarang yang saya tangkap, orang-orang yang suka atau pura-pura suka standupcomedy itu punya pride lebih karena nggak suka Opera van Java dan merasa lebih pintar. Masalahnya, orang-orang kok merasa pintar hanya karena suka sesuatu padahal mereka sama sekali bukan kreatornya juga? Image 'pintar' paket instan.

Akhir kata, Sule (yang mungkin menurut kalian para 'orang pintar' kampungan) jauuuuuh lebih lucu buat saya. Yah, kalau menurut ukuran 'pintar' kalian saya 'bodoh' karena suka Sule, who cares? I don't need people to say that I'm smart just because I like that 'superfuckingsmart' stand up comedy.


#5 dari 365 di 2012

Jumat, 06 Januari 2012

Kenapa Saya Lebih Suka Versi Armada Daripada Marcell

Lagu "Mau Dibawa Kemana" punya Armada di-remake oleh Marcell Siahaan. Sejak dipopulerkan oleh Armada memang lagu ini heboh juga. Yang suka lagu ini kurang lebih kebagi tiga: yang bener-bener suka dan come out, suka diem-diem karena agak malu ngaku suka, sampai yang suka ironis (suka dan apal tapi nyanyiin cuma buat nyela).

Seperti lagu-lagu heboh lainnya, lagu ini pun sering dinyanyikan, mulai oleh pengamen, di tempat karaoke, sampai oleh penyanyi-penyanyi terkenal lainnya. Kebanyakan penyanyi yang menyanyikan ulang lagu ini menyanyikannya dengan gaya jazz atau swing, dsb lah. Salah satunya Marcell. Duh ganteng! Tapi saya nggak suka versi ini. Nggak tahu, menurut telinga saya yang bukan pemusik ini sih versi Marcell feel-nya nggak se-oke versi Armada. Mau Dibawa Kemana versi Marcell kerasa terlalu pretensius, hmm.. kayak bermaksud membuat lagu ini jadi 'lebih keren' dari yang asli dan dengan begitu berarti secara sangat terselubung membuat pernyataan yang saya tangkep dengan sangat suudzon bahwa lagu versi Armada menjadi 'kurang keren'. Dengan kata lain, versi Armada terasa lebih tulus. Paling nggak, buat saya.

Dan... sebenarnya kurang lebih hal semacam ini yang juga dilakukan oleh acara Harmoni di SCTV (masih ada nggak sih sekarang?). Lagu-lagu Wali, ST12, Kangen Band, dan band-band yang 'those cool people' sebut 'band alay' ditampilkan dengan iringan orkestra. Lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di ruang-ruang karaoke oleh muda-mudi jeukarda nan kewl dengan maksud mencela lagu tersebut dibawakan ulang dengan 'sangat apik' dan 'berkelas' seperti yang ditulis di website stasiun televisi tersebut seperti berikut:

"Mereka akan menghibur pemirsa dengan membawakan sajian lagu-lagu yang telah diaransemen dengan sangat apik dan berkelas."

Apakah itu berarti lagu tersebut 'tidak apik' dan 'tidak berkelas' sebelum diiringi biola dan dinyanyikan dengan jas licin? Atau paling tidak, lagu tersebut 'kurang apik' dan 'kurang berkelas' sebelum lagu tersebut nuansanya ngejazz, ngeswing, atau apa pun itu?


#2 dari 365 di 2012

Kamis, 05 Januari 2012

96 dari 365 tulisan di 2011

Widiw, tiba-tiba udah 2012 aja (semoga suku Maya salah, amin!). Mumpung masih awal 2012, mau review kegiatan tulis-menulis tahun lalu nih. Jadi, tahun lalu dapet info dari om yang satu ini tentang 365tulisan2011. Dari judulnya udah jelas, kegiatan ini buat nulis 365 tulisan di 2011. 365 emang jumlah hari dalam 1 tahun, tapi nulisnya nggak harus setiap hari, bebas, yang penting jumlahnya 365. Bebas di-upload dimana aja, biar makin seru bisa sekalian di-share juga di twitter: @365tulisan2011 (sekarang jadi @365tulisan2012). Waktu itu kepikiran, "Wah seru nih, menantang! Ikut aaah, kali aja bisa beneran sampe, atau paling nggak, lebih sering nulis".

Lalu bagaimana hasilnya?

Nggak nyampe setengahnya sih, tapi sepertinya ini rekor tulisan terbanyak yang saya upload dalam 1 tahun: 96 tulisan. Setelah dibaca-baca lagi, isinya kebanyakan puisi sama curcolan nggak jelas, biarin deh, nggak nulis di blog orang ini :p Di awal-awal tuh emang paling sering, malah karena ngejar setoran (karena mulainya rada telat juga bulannya), bahkan sehari bisa 2x nulis. Selanjutnya, tet to ret to ret.... bolong-bolong kayak net badminton (lebih banyak bolongnya). Oh ya, di-uploadnya tulisan2 itu sebagian besar di tumblr, yang di sini cuma beberapa aja.

Tahun ini ikutan lagi aaah! Semoga lebih banyak dari tahun lalu. Doakan saya yaaah!


#1 dari 365 tulisan di 2012