Sabtu, 08 September 2012

Internet Diet: It's Not About ACCESS

Sekitar enam bulan yang lalu, saya membuat keputusan lumayan besar. Berhenti pakai modem atau segala devices untuk akses internet di laptop pribadi (kecuali wi-fi kalau butuh banget). Memagari diri dari akses internet di luar jam kerja. Maunya sih, selain untuk kerjaan, internet hanya bisa diakses lewat HP seadanya. Selain di waktu kerja, akses internet saya sunat habis dan saya dedikasikan diri untuk akses informasi/hiburan dari media lain: film, buku, majalah, dsb. Sederhananya sih ingin lebih nikmati hidup secara offline. Lebih sering melakukan real face to face conversation daripada obrolan qwerty yang bikin jari pegel dan lebih sering ketawa meledak-ledak sampai sakit perut daripada sekedar LOL dan ROFL. 

Lalu, apakah dengan membatasi akses internet pribadi cuma dari HP bisa bikin diet internet jalan?

Nggak! *buat saya*


Nggak, kalau komitmennya cuma segede debu. Rencana yang jalan pun nggak sampe 50%. Keadaan plus komitmen yang emang jauh lebih tipis dari tisu murah bikin rencana ini malah belok dari prinsip awalnya. Akses internet pribadi yang di-stop memang tetep jalan. Tapi bukannya jadi maksimalin konsumsi produk budaya lain, malah lebih maksimal pakai akses internet HP. Thanks to WhatsApp, Twitter Apps, push-mail, mobile browser, and others apps with poor and full-stars reviews!

Selain efek yang salah, saya pun ngerasa lebih nggak produkif tanpa akses internet di laptop. Terutama, produktif nulis karena otomatis tanpa koneksi internet, laptop pun jarang dibuka kecuali kalau perlu banget. 

Jadi, minggu ini saya putuskan untuk kembali menghubungkan tali kasih yang sempat terputus antara laptop saya dan koneksi internet. Pada akhirnya, bukan akses yang diputus supaya bisa kendaliin diri, tapi N-I-A-T. Jadi, bukan devices-nya yang disunat, tapi niat dan nilainya yang dipertajam. So, welcome back, access!

Tidak ada komentar: