Selasa, 11 Desember 2012

If Jakarta had A Tumor, We’d Call it 'Malls'



Yang mau tinggal di Jakarta itu gila.

Termasuk saya. Hampir setahun sudah saya ngekos dan beraktivitas di Jakarta. Di luar itu, bertahun-tahun sebelumnya pun saya menjadi komuter setia yang pagi dan malam dibawa kereta untuk melakukan ini-itu di ibukota. Rumah saya yang berada di kota sebelah Jakarta yang banyak angkotnya balapan sama hujan itu pun akhirnya cuma jadi tempat saya meringkuk lelah di kasur dan istirahat di akhir pekan. Bisa dipastikan, sebagian besar waktu produktif saya berlangsung di Jakarta. Terpaksa. Karena ngutip seorang following favorit saya di twitter, @mumualoha, “Jakarta itu bukan pilihan. Tapi ketiadaan pilihan”.

“Jakarta itu seperti istana disfungsi yang dibangun di antara septic tank.”

Orang-orang ke Jakarta untuk melakukan hal yang dia inginkan, mendapatkan yang dia mau, mengejar mimpinya. Dengan sedih hati, sayangnya, begitu banyak hal hanya bisa dilakukan di Jakarta. Jelas saja, Jakarta yang sudah ibukota pun sekaligus jadi kota pusat berbagai bidang. Mau kerja di media yang begini, adanya baru di Jakarta. Mau sekolah di sekolah yang anu dengan jurusan anu, adanya hanya di Jakarta. Jadi, kalau disebut “Jakarta itu ketiadaan pilihan”, yah memang persis begitu. Karena berbagai pilihan numpuknya di Jakarta. Sehingga orang-orang yang mau A sampai Z pun memutuskan untuk berbondong-bondong menjadi bagian dari kota asimetris ini, baik yang menetap maupun komuter. Bayangkan, teman saya yang komuter bisa menghabiskan waktu 3 jam untuk berangkat dan 3 jam untuk pulang, jadi total waktu di jalan 6 jam, jadi dia habiskan hidupnya ¼ hari di jalan. Seperti mengamalkan secara harfiah kalimat “hidup itu perjalanan”. Itu baru yang komuter. Teman saya yang memang tinggal di Jakarta dan kerja di Jakarta pun nasibnya nggak jauh beda dan mengamalkan prinsip “hidup itu perjalanan” setiap harinya. 


“Penuh twit rasa macet, tambal ban, dan jawaban “no, thanks””

Semingguan yang lalu, saya ngobrol dengan seorang teman, sebut saja Afra (memang nama sebenarnya). Intinya, dia bilang orang yang setiap hari naik mobil di Jakarta itu masokis karena bawa mobil di Jakarta itu superstressful. Sementara seorang teman saya yang sehari-harinya bawa mobil bilang pilih naik mobil pribadi karena transportasi umum yang ada nggak nyaman dan aman. Jika transportasinya nyaman dan aman, dia mau transportasi umum. Nah, pas ngobrol itu, kata temen saya yang supertaurus ini :p, justru demand terhadap transportasi umum harus datang dan dimulai dari kita biar fasilitasnya nanti dibuat nyaman dan aman. Caranya, yah pakai transportasi umum yang sekarang ada. Nantinya, ketika pengguna transportasi umum meningkat, si yang berwajib ngurusin hal ini mau tidak mau akan menyediakannya. Sayang disayang semilyar sayang, orang yang ingin nyaman dan aman-aman saja ke tempat tujuan dengan full AC dan sambil ngetweet basi “macet gila” jauh-jauh lebih banyak daripada orang yang rela pakai fasilitas umum ngehe untuk naikin demand.

“If Jakarta had a tumor, we’d call it malls”

Berapa sih jumlah mall yang dibutuhin suatu kota? Ada nggak sih yang bangga karena Jakarta disebut-sebut sebagai kota dengan mall terbanyak? Mall itu mungkin kayak darah putih. Dibutuhin tubuh, tapi kalau kebanyakan jadi penyakit. Dan kalau mall itu tumor atau kanker, Jakarta menderita kanker stadium 4. Alih-alih mall, ini kota butuh ruang publik lebih banyak: taman, alun-alun, apalah. Kalau kata sebuah gerakan Park(ing) Day Reclaim Your City! yang mendunia sejak 2005, “..how public space is created and allocated, and to improve the quality of urban human habitat..”. Kesimpulannya, sebanyak apapun mall yang dibangun nggak akan mampu meningkatkan kualitas warganya. Jadi, sudah saatnya kota ini bilang “enough is enough” buat pembangunan mall kalau nggak mau kesehatan jiwa warganya semakin menurun.

Acara Park(ing) Day 2012 di Jakarta sebagai simbol "Reclaim Your City!" 'mencaplok' private space untuk dijadikan 'public space'
Doa saya sih semoga desentralisasi berbagai bidang bisa terjadi. Jadi, nggak semua-mua hal harus terjadi di Jakarta. Menurut saya, industri yang mungkin banget untuk eksodus dari Jakarta itu sebenarnya banyak, salah satunya online/digital industry. Mungkin nantinya bisa ada semacam Silicon Valley versi Indonesia? Begitu juga dengan bidang-bidang lain yang nantinya bisa dipusatkan di daerah tertentu. Pasti nggak mudah sih, tapi ngarep boleh lah.

Sehingga suatu saat nanti, Jakarta bukan lagi pusat orang-orang mengejar mimpinya.

Minggu, 09 September 2012

Reaffirming Young People Roles

By the end of 2011, I and a friend wrote an article for ARROW's for Change bulletin volume 17. ARROW is Asian-Pacific Resource & Research Centre for Women. The article was based on our project last year about Sexual and Reproductive Health and Rights among young people.

Assisted by expert and humble friends in this field and a very nice editor, I hope this writing can give a nice insight and initial awareness towards this niche yet important issue. In this article, we talked about how significant young people in cutting the gender-based violence cycle and how young men should be engaged in this very long process, as early as possible. Kindly read the full article by clicking the link in this pic below for PDF version:


(page 5 for this title and don't forget to read the whole bulletin for other larger views about this issue from other countries in Asia-Pacific region)


Sabtu, 08 September 2012

Internet Diet: It's Not About ACCESS

Sekitar enam bulan yang lalu, saya membuat keputusan lumayan besar. Berhenti pakai modem atau segala devices untuk akses internet di laptop pribadi (kecuali wi-fi kalau butuh banget). Memagari diri dari akses internet di luar jam kerja. Maunya sih, selain untuk kerjaan, internet hanya bisa diakses lewat HP seadanya. Selain di waktu kerja, akses internet saya sunat habis dan saya dedikasikan diri untuk akses informasi/hiburan dari media lain: film, buku, majalah, dsb. Sederhananya sih ingin lebih nikmati hidup secara offline. Lebih sering melakukan real face to face conversation daripada obrolan qwerty yang bikin jari pegel dan lebih sering ketawa meledak-ledak sampai sakit perut daripada sekedar LOL dan ROFL. 

Lalu, apakah dengan membatasi akses internet pribadi cuma dari HP bisa bikin diet internet jalan?

Nggak! *buat saya*


Nggak, kalau komitmennya cuma segede debu. Rencana yang jalan pun nggak sampe 50%. Keadaan plus komitmen yang emang jauh lebih tipis dari tisu murah bikin rencana ini malah belok dari prinsip awalnya. Akses internet pribadi yang di-stop memang tetep jalan. Tapi bukannya jadi maksimalin konsumsi produk budaya lain, malah lebih maksimal pakai akses internet HP. Thanks to WhatsApp, Twitter Apps, push-mail, mobile browser, and others apps with poor and full-stars reviews!

Selain efek yang salah, saya pun ngerasa lebih nggak produkif tanpa akses internet di laptop. Terutama, produktif nulis karena otomatis tanpa koneksi internet, laptop pun jarang dibuka kecuali kalau perlu banget. 

Jadi, minggu ini saya putuskan untuk kembali menghubungkan tali kasih yang sempat terputus antara laptop saya dan koneksi internet. Pada akhirnya, bukan akses yang diputus supaya bisa kendaliin diri, tapi N-I-A-T. Jadi, bukan devices-nya yang disunat, tapi niat dan nilainya yang dipertajam. So, welcome back, access!

Kamis, 17 Mei 2012

Pendidikan Seperti Sidik Jari

"Don't go to college, go to work!"

Begitulah quote ngehe dari mantan director Saatchi and Saatchi sekaligus penulis buku tentang iklan, Paul Arden. Saya yang saat baca itu masih kuliah berasa didemotivasi. Maksudnya si Paul ini: udah lo kerja aja juga bisa dapet ilmu sebanyak di kuliah, kuliah itu buang-buang waktu aja, belum tentu juga ilmu yang lo pelajari di kampus kepake buat kerja nanti. Kampretnya si Paul.

Saya punya beberapa teman di usia muda yang sudah masuk ke dunia kerja meskipun sekolah maupun kuliahnya belum selesai. Dan mereka sama sekali nggak berjalan di belakang orang-orang yang sudah lulus. Bahkan mereka melakukan hal yang mereka kerjakan di atas rata-rata. Jelas, ini semakin mengamini fungsi pendidikan di negara kita yang kasarnya, hanya demi selembar ijazah yang bisa mempermudah dapat pekerjaan dan gaji. Menyedihkannya, sejauh ini memang begitu. Meskipun ada perusahaan, termasuk tempat saya bekerja, yang nggak menilai orang cuma dari ijazah sudah lulus atau belum. Tapi, ya sangat jarang.




pen·di·dik·an n proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.


Senada dengan definisi 'pendidikan' di Kamus Besar Bahas Indonesia, Bung Hatta pernah bilang bahwa "Pendidikan itu proses memanusiakan manusia", nyatanya, pendidikan kita selama ini masih sekedar mesin pencetak tenaga kerja. Jadi, jangan ngarep lah kamu yang punya minat sangat tinggi di bidang bahasa atau seni bisa dianggap murid yang bersinar. Gambaran sistem pendidikan kita seperti ini: selama kamu nggak ngerti logaritma, meski penulisan 'di' preposisi dan kata sambungmu selalu benar, kamu bodoh, titik. Tanpa peduli bahwa tiap orang punya minat dan kelebihan di bidang yang berbeda. Nggak aneh kenapa banyak orang tua lebih bangga anaknya masuk IPA daripada IPS. 



Pendidikan itu seperti fingerprint yang nggak akan sama untuk setiap orang.

Kalau buat saya pribadi, sekolah/kuliah itu tempat kita membentuk dasar pola pikir kita nantinya, apapun jurusannya. Tempat kita mungkin bakal menemukan kalau minat kita sebelumnya ternyata nggak semenarik minat baru kita. Tempat kita nemuin hal yang bukan kita cari. Dan kebanyakan proses itu nggak cuma terjadi di ruang kelas, tapi jauh dari itu, proses pendidikan buat saya terjadi juga di sela-sela obrolan ngalor ngidul di kantin, cerita-cerita di tengah mengerjakan tugas, saat pergi ke tempat penyewaan film bareng teman, ke rumah teman lalu 'ngerampok' buku-bukunya, dan sebagainya. Pada akhirnya, bukan salah Paul Arden kalau dia bilang nggak usah sekolah, karena ya memang selama ini the real education lebih banyak terjadi di luar kelas, selama sistem pendidikan kita masih cuma sekedar pabrik kayak sekarang. Selama mahasiswa lebih bangga masuk fakultas ekonomi atau kedokteran daripada sastra atau sosial.



Gambar 1: cover Change Magazine edisi 22 "Pendidikan Merobotkan Manusia" karya Zulfikar Arief.
Gambar 2: 9gag.com


Sabtu, 14 Januari 2012

'Pintar' Paket Instan

"...setidaknya di sini wajahnya pintar-pintar, tidak seperti penonton acara pagi itu.." [suara tawa yang palingan di-mix sama efek]

Itu kurang lebih sekilas kalimat yang saya dengar dari kilasan iklan program Stand Up Comedy Metro TV. Kalimat tersebut (kalo saya nggak salah lihat mukanya) diucapkan oleh Soleh Solihun, yang kalo saya nggak salah juga, dari majalah Rolling Stone. Saya asumsikan yang dimaksud 'acara pagi itu' adalah acara-acara musik semacam Dahsyat dan Inbox.

Oh poor you, orang-orang yang merasa pintar hanya karena mendengarkan The Smiths bukan Britney Spears, punya beralbum-album lagu Pink Floyd di laptopnya bukan Westlife, memakai kaos Belle and Sebastian bukan Justin Bieber, dan pergi menonton ERK bukan ST12.

Lagipula, tidakah kamu tahu penonton-penonton acara pagi itu dibayar? (CMIIW) Tidakkah kamu tahu bahwa mereka melakukan itu untuk cari uang? Mereka yang kausebut 'bodoh' atau 'tidak pintar' itu mungkin memang nggak ngerti siapa Morrissey karena memang nggak punya akses untuk tahu (dan nggak wajib fardhu ain juga kan ya). Jangkauan mereka mungkin memang sejauh Syahrini (dan nggak dosa juga loh). Mereka mungkin nggak punya akses internet supercepat seperti yang disediakan oleh papa-mamamu untuk tahu bahwa di negeri ini ada band-band lain di luar "acara pagi itu". Intinya, mereka nggak punya akses untuk menjadi 'pintar' versimu.

Tapi menurut pendapat saya, lawakan bilang mereka 'bodoh' sama sekali tidak menggelitik dan bikin saya ingin ketawa. Lawakan itu nggak lebih baik dari lawakan menghina fisik ala Tukul. Fenomenanya sekarang yang saya tangkap, orang-orang yang suka atau pura-pura suka standupcomedy itu punya pride lebih karena nggak suka Opera van Java dan merasa lebih pintar. Masalahnya, orang-orang kok merasa pintar hanya karena suka sesuatu padahal mereka sama sekali bukan kreatornya juga? Image 'pintar' paket instan.

Akhir kata, Sule (yang mungkin menurut kalian para 'orang pintar' kampungan) jauuuuuh lebih lucu buat saya. Yah, kalau menurut ukuran 'pintar' kalian saya 'bodoh' karena suka Sule, who cares? I don't need people to say that I'm smart just because I like that 'superfuckingsmart' stand up comedy.


#5 dari 365 di 2012

Jumat, 06 Januari 2012

Kenapa Saya Lebih Suka Versi Armada Daripada Marcell

Lagu "Mau Dibawa Kemana" punya Armada di-remake oleh Marcell Siahaan. Sejak dipopulerkan oleh Armada memang lagu ini heboh juga. Yang suka lagu ini kurang lebih kebagi tiga: yang bener-bener suka dan come out, suka diem-diem karena agak malu ngaku suka, sampai yang suka ironis (suka dan apal tapi nyanyiin cuma buat nyela).

Seperti lagu-lagu heboh lainnya, lagu ini pun sering dinyanyikan, mulai oleh pengamen, di tempat karaoke, sampai oleh penyanyi-penyanyi terkenal lainnya. Kebanyakan penyanyi yang menyanyikan ulang lagu ini menyanyikannya dengan gaya jazz atau swing, dsb lah. Salah satunya Marcell. Duh ganteng! Tapi saya nggak suka versi ini. Nggak tahu, menurut telinga saya yang bukan pemusik ini sih versi Marcell feel-nya nggak se-oke versi Armada. Mau Dibawa Kemana versi Marcell kerasa terlalu pretensius, hmm.. kayak bermaksud membuat lagu ini jadi 'lebih keren' dari yang asli dan dengan begitu berarti secara sangat terselubung membuat pernyataan yang saya tangkep dengan sangat suudzon bahwa lagu versi Armada menjadi 'kurang keren'. Dengan kata lain, versi Armada terasa lebih tulus. Paling nggak, buat saya.

Dan... sebenarnya kurang lebih hal semacam ini yang juga dilakukan oleh acara Harmoni di SCTV (masih ada nggak sih sekarang?). Lagu-lagu Wali, ST12, Kangen Band, dan band-band yang 'those cool people' sebut 'band alay' ditampilkan dengan iringan orkestra. Lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di ruang-ruang karaoke oleh muda-mudi jeukarda nan kewl dengan maksud mencela lagu tersebut dibawakan ulang dengan 'sangat apik' dan 'berkelas' seperti yang ditulis di website stasiun televisi tersebut seperti berikut:

"Mereka akan menghibur pemirsa dengan membawakan sajian lagu-lagu yang telah diaransemen dengan sangat apik dan berkelas."

Apakah itu berarti lagu tersebut 'tidak apik' dan 'tidak berkelas' sebelum diiringi biola dan dinyanyikan dengan jas licin? Atau paling tidak, lagu tersebut 'kurang apik' dan 'kurang berkelas' sebelum lagu tersebut nuansanya ngejazz, ngeswing, atau apa pun itu?


#2 dari 365 di 2012

Kamis, 05 Januari 2012

96 dari 365 tulisan di 2011

Widiw, tiba-tiba udah 2012 aja (semoga suku Maya salah, amin!). Mumpung masih awal 2012, mau review kegiatan tulis-menulis tahun lalu nih. Jadi, tahun lalu dapet info dari om yang satu ini tentang 365tulisan2011. Dari judulnya udah jelas, kegiatan ini buat nulis 365 tulisan di 2011. 365 emang jumlah hari dalam 1 tahun, tapi nulisnya nggak harus setiap hari, bebas, yang penting jumlahnya 365. Bebas di-upload dimana aja, biar makin seru bisa sekalian di-share juga di twitter: @365tulisan2011 (sekarang jadi @365tulisan2012). Waktu itu kepikiran, "Wah seru nih, menantang! Ikut aaah, kali aja bisa beneran sampe, atau paling nggak, lebih sering nulis".

Lalu bagaimana hasilnya?

Nggak nyampe setengahnya sih, tapi sepertinya ini rekor tulisan terbanyak yang saya upload dalam 1 tahun: 96 tulisan. Setelah dibaca-baca lagi, isinya kebanyakan puisi sama curcolan nggak jelas, biarin deh, nggak nulis di blog orang ini :p Di awal-awal tuh emang paling sering, malah karena ngejar setoran (karena mulainya rada telat juga bulannya), bahkan sehari bisa 2x nulis. Selanjutnya, tet to ret to ret.... bolong-bolong kayak net badminton (lebih banyak bolongnya). Oh ya, di-uploadnya tulisan2 itu sebagian besar di tumblr, yang di sini cuma beberapa aja.

Tahun ini ikutan lagi aaah! Semoga lebih banyak dari tahun lalu. Doakan saya yaaah!


#1 dari 365 tulisan di 2012