Rabu, 09 Februari 2011

Two Way Monologue

Di sebuah taman kota penuh galian kabel. Di setiap sisi jalan setapak taman ini tertanam bangku-bangku beton tanpa senderan yang setiap malam sepertiganya alih fungsi jadi ranjang penduduk-penduduk anonim dan alias. Ada danau mini yang airnya sudah kering, anak-anak jaman sekarang menyebutnya tempat sampah. Taman ini berada di kota yang hitam mendung di utara dan kuning cerah di selatan. Kadang perpaduan, tapi lebih sering tersekat. Itulah kenapa burung-burung yang terbang lewati kota ini selalu panik. Ada yang tiba-tiba stroke dan sayapnya kaku, menabrak genteng, tiang listrik, yang paling beruntung berhasil lewati kota dengan selamat tapi dengan bulu yang 60% rontok.

Di pojok utara taman berdiri dua pohon yang dari lebar batangnya tampak belum begitu tua, tapi bukan berarti muda. Jarak antara dua pohon ini enam puluh detik lagu. Jenis lagunya bebas. Dua pohon tidak pernah mementingkan jenis lagu selama lagu-lagu tersebut mampu menyampaikan pesan mereka. Begitulah cara mereka berhubungan. Mereka tidak peduli apakah mereka saling mengerti bahasa masing-masing. Meskipun usia mereka sama, mereka adalah dua jenis pohon yang berbeda. Monokotil dan dikotil. Terkadang sebelum sampai ke mereka, pesan dalam lagu enam puluh detik tersebut akan terhapus angin, tergigit nyamuk, terpeleset embun, termakan tikus got, terinjak gembel. Peduli setan.

Toh yang terjadi antara mereka pun two way monologue. Karena walaupun ini terjadi antara dua pihak, tak ada perdagangan di dalamnya, tak ada pertukaran yang lebih dari sekedar pesan lewat lagu enam puluh detik. Bodo amat, kata mereka. Mereka tak butuh pertukaran, tak butuh saling mengerti, tak butuh omong kosong yang lebih kosong dari kolong-kolong bangku taman dan otak undur-undur. Singkatnya, mereka tak butuh dialog. Lagipula "Untuk apa dialog ketika tanah yang becek bisa menjawabmu jauh lebih menarik daripada lawan bicaramu?", pikir mereka.



#32 dari 365 di 2011

Tidak ada komentar: