Selasa, 27 Desember 2011

Lompat Aja Sana!

Lebih dari setahun yang lalu saya nulis tentang ambisi di sini. Saat nulis itu, saya ngerasa ambisi saya lagi di titik nol, bahkan minus kayak mata saya.

Terus sekarang?

Nggak jauh beda! Saya sering iri campur salut sama orang-orang yang punya rencana dan target yang jelas dan sangat konkret dalam hidupnya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya, tahun depan mau jadi senior anu di kantornya, bulan depan harus punya mobil, tahun depannya lagi harus dapet penghargaan ono, tahun depannya lagi beli rumah, dan seterusnya. Mantap deh. Sementara saya, bisa dibilang, setahunan ini hidup pakai rumus yang terdiri dari dua kata: jalanin+aje. Kalaupun punya target, nggak sekonkret itu. Ngambang, melayang-layang, mengapung, tinggal disenggol dikit pake sendal juga tenggelam.


"Some of the most interesting people I know don’t know what to do with their lives". Yang bener!?

Apa itu cuma pembelaan diri tanpa statistik orang-orang yang nggak tahu mau apa ngapain dalam hidupnya? Kayak saya sekarang misalnya. *beli kaos tulisan I-N-T-E-R-E-S-T-I-N-G*

Yang jadi masalah adalah.....

Itu kan kalimatnya bukan ‘all the most interesting people’, tapi ‘some of the most interesting people’. Jadi, beberapa aja, nggak semua orang yang nggak tahu mau ngapain otomatis jadi 'most interesting people'. Bagaimana kalau ternyata saya memang termasuk orang yang ‘don’t know what to do with their lives’, tapi nggak termasuk ‘some of the most interesting people’? DANG!!

Udah nggak punya tujuan hidup, bukan orang yang menarik juga. Lompat aja sana!

#97 dari 365 di 2011


*gambar dari: http://stuffnoonetoldme.tumblr.com/


Sabtu, 19 November 2011

They Deserve It

Sebenernya saya bukan orang yang pemarah (ngakunya), tapi akhir-akhir ini sering negor-semi-marahin orang di tempat umum. Oh tidaaaaak! Apakah ini langkah lebih jauh saya menjadi makhluk anti-so(sial)!?

Saya sih percaya marahin orang itu bukan cara paling oke yang bisa kita ambil. Misalnya, ada anak nggak bisa ngitung, terus dimarahi, itu sama sekali bukan cara yang bisa diterima. Selain itu, marahin pelayan di tempat makan dengan cara keji juga nggak bisa diterima. Atau misalnya digangguin, marah tuh menurut saya pribadi sih nggak ada gunanya. Bener kata quote entah siapa yang isinya kayak gini "The best self-defense is jokes".

Tapi oh tapi!

Untuk beberapa hal, pada dasarnya, memang ada orang-orang yang simply pantas dimarahi. ADA BANGET. Kalo nggak, kenapa tuhan nyiptain konsep 'marah' *cari pembenaran :p. Di bawah ini beberapa orang yang menurut saya pantas dimarahi (atau ditegor deh).

Orang yang nyerobot antrian
Orang-orang semacam ini ada di level tinggi di daftar orang yang pantas dimarahi. Kecuali dia punya alasan superkuat, seperti dia bakal mati kalo nggak nyerobot, perilaku ini nggak bisa dimaafkan. Cara paling pas yah teriakin atau omongin aja langsung "Ih nyerobot" dengan nada jijik atau "antri kaleeeeee" dengan nada bebas. Yang pasti, harus didengar sama orang yang kita maksud dan kalo bisa orang lain. Mereka pikir hidup mie instan.

Petugas-petugas yang membiarkan terjadinya ketidakadilan
Oke, subjudulnya agak berlebihan, tapi kira-kira begitu. Ini paralel sama poin sebelumnya. Misalnya, petugas loket yang jual karcis dan malah membiarkan orang yang nyerobot buat beli karcis duluan. Ini situasinya kalo dia memang sadar si orang itu nyerobot dan dia tetap membiarkan yah. Karena biasanya ada petugas yang negor penyerobot. Ini baru saja kejadian sama saya. Pas lagi antri yang panjaaaaaaang di bagian bea cukai bandara soetta, saat itu saya sudah hampir di depan scanner, tiba-tiba ada 2 ibu yang datang gitu aja terus masukin tas-tasnya ke scanner, dan si petugas ini jelas banget tahu nih ibu-ibu ngeselin nyerobot, tapi dia malah bantuin nih ibu-ibu masukin tasnya. Entah takut atau males (takut sih kayaknya). Langsunglah, emosi saya yang hari itu emang sedang tidak stabil pun memberontak dan karena si ibu-ibunya sudah lolos lewat, saya tegor si petugas kacrut. Ngerasa nggak cukup, saya pun banting tas saya pas mau dimasukin ke scanner dan setelah dibanting baru nyadar di dalemnya ada...........laptop! :______(
Anger management yang buruk. Not recommended yah aksi yang terakhir itu.

Orang yang merokok di tempat umum/sempit/ada anak-anak
Saya bukan orang yang antirokok. Kadang suka juga malah sama aromanya. Tapi orang yang memutuskan untuk merokok di tempat umum itu pantes ditegor, kalau masih rese, marahin sekalian. Kejadian paling bikin gemes adalah waktu lihat orang ngerokok persis depan bayi (entah otaknya dijual dimana). Paling umum sih kejadian di kendaraan umum, entah bis, angkot, atau kereta. Biasanya, metode pertama adalah sok-sok batuk, ah tapi basi lama-lama, suka ada aja yang nggak nyadar, jadi mending ditegor aja langsung, misalnya, "Mas, matiin yah rokoknya sebelum saya matiin masnya" :p Walaupun saya nggak seterganggu itu sama asap rokok (makanya saya fine saja kalo teman-teman saya ngerokok depan saya), tapi rasanya sebel aja sama orang yang nggak pake etika pas ngerokok. Kan ada orang lain yang bisa aja nggak tahan sama asap rokok tapi nggak berani negor. Disclaimer lagi yah, saya nggak anti-rokok selama pake etika (soalnya banyak orang yang sensitif kalo udah ngomongin rokok).

Tiga tipe di atas adalah tipe yang paling mudah ditemui di tempat-tempat umum dan jangan ragu-ragu buat marahin, hahaha! :p

Ada tambahan?

Rabu, 03 Agustus 2011

Celana Pendek Kok Dipanjangin?


twitter
[n]
: jejaring sosial online dengan baca, tulis, dan klik 'enter' sebanyak 140 karakter saja

Singkatnya, twitter dibuat untuk orang yang ingin nulis tapi nggak sepanjang di blog. Yah nggak perlu ngomong panjang-lebar lagi lah ya tentang ini.

Sementara itu, ada juga....

twitlonger [n]: 140 karakter nggak cukup? bisa diakalin kaleeee...

Bagi yang terlalu malas untuk ngeblog dan terlalu cerewet untuk nge-tweet. Untuk membaca keseluruhan isi twit yang longer ini, kita diharuskan membuka terlebih dahulu link yang disediakan.

Oke, sah-sah aja sih mau pake twitlonger apa nggak. Yang nemuin twitter juga nggak protes. Tapi buat saya, jatuhnya, seaneh beli celana pendek terus dikasih bahan tambahan biar jadi celana panjang, paling nggak celana 3/4 atau 7/8. Celana pendek kok dipanjangin? Eh, apa emang lagi ngetren?!


#75 dari 365 di 2011

Senin, 16 Mei 2011

Saya dan Batu

Waktu saya SD, lupa kelas berapa, saya punya batu kecil yang selalu stand by di depan pintu rumah. Batu biasa, seukuran jempol kaki kira-kira. Ngggg.... nggak, batunya nggak berpetuah. Nggak ada jinnya juga (kayaknya sih). Yang bikin spesial adalah si batu ini selalu saya tendang setiap jalan dari rumah ke suatu tempat dan sebaliknya, dari tempat itu kembali ke rumah. Tentunya, tempat-tempatnya yang deket dari rumah. Misalnya, kalo lagi jajan Anak Mas rasa keju ke warung Pak De atau Bu Sarmin, maen ke rumah tetangga, atau ngaji di rumah tetangga. Si batu ini bakal saya tendang sampai ke tempat tujuan sambil jalan, pas sampai tujuan akan saya taruh di tempat yang kira-kira aman dan nggak akan hilang atau bercampur dengan batu lain di sekitarnya. Nah, pas mau balik ke rumah, si batu ini bakal saya tendang lagi, dan begitu seterusnya. Kalo nggak salah sih bahkan si batu ini suka saya kantongin deh biar nggak ilang.

Masalahnya......

Sampai sekarang saya nggak tahu tujuan ngelakuin hal sebermanfaat itu. Dibilang seru juga yah nggak terlalu. Keren boro-boro. Asumsi paling gampang sih, mungkin itu salah satu varian OCD saya waktu kecil. Tapi ini emang rada menantang. Bayangkan, kita harus berjalan menggiring si batu yang nggak semenggelinding bola! (Biasa aja ya?) Kita harus pastiin si batu nggak terlalu jauh sama kita tapi nggak deket-deket amat juga. Ini biar kita nggak capek mesti nendang terlalu sering. Belum lagi, yang paling harus dihindari adalah..... (ini bisa disebut kiamat!) kalo si batu nyemplung ke selokan. Wah... ibarat ajal buat si batu. Saya pernah beberapa kali nyemplungin ke selokan dan harus segera nyari batu pengganti yang biasanya perlu beberapa saat untuk adaptasi bentuk dan tendangan lagi.

Saya lupa kebiasaan ini berlangsung berapa lama. Kayaknya sih lumayan lama. Lupa juga kapan berhentinya. Mungkin waktu saya mulai meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki pintu kedewasaan pintu kanak-kanak level berikutnya! Wooohooooo!

*Mungkin kalo jaman saya kecil udah ada cwider, saya nggak ngegiring batu pas jalan, tapi ngecek taimlain

#66 dari 365 di 2011

Jumat, 22 April 2011

Ke Kantor Polisi

Ketika kamar terlalu sempit
Mata menyipit
Sendal-sendal minta dijepit
Jari-jariku masih sakit
Setelah semalaman kaujahit

Aku melotot dan ngotot

Sampai subuh mencurimu
Lewat bajingan, lewat menara pemancar
Dan pagi menerkammu
Lewat parkiran dan kantuk yang menyebar
Lalu lupa menguburmu
Galian dan liang tanah yang melebar

Aku lupa tidur
Jantungku melacur

Ke kantor polisi aku
Laporkan puisi tentangmu


#59 dari 365 di 2011

Minggu, 13 Maret 2011

"Jangan Pedes yah, Bang...."

Begini akibatnya kalo teknologi nggak tepat guna. Gambarannya gini, saya pilih untuk beli smartphone dan saya marah-marah karena notif yang banyak dan masuk di jam tidur saya. Saya marah-marah sama orang yang ada di balik notif itu. Padahal, saya punya banyak pilihan.
  1. Saya bisa silent HP pas tidur. Ini jalan pintas sih.
  2. Kalo emang takut ada hal penting, atur pushmail di smartphone kita untuk email penting saja, nggak perlu tuh email notif jejaring sosial macem facebook/twitter/dsb masuk ke pushmail kita. Ini superpenting menurut saya kalo kita udah menceburkan diri untuk menggunakan smartphone yang pada akhirnya akan meniadakan tembok kamar kita, pagar rumah kita, bahkan perbatasan negara kita. Tinggal kita yang jadi filternya, mau sejauh mana. Mau sampai teras rumah, kota sebelah, seberang pulau, atau bahkan sampai benua eropah.
  3. ...dan banyak cara lain dan saya terlalu pemalas untuk nulis.

Teknologi itu seperti tuhan, sangat demokratis. Kita punya hak penuh untuk memilih. Semuanya ada di tangan kita. Kita yang menentukan. Kalo karena notif yang ganggu, terus protes sama yang bikin notif, hmm... itu egois namanya. Apalagi kalo nggak semua orang keganggu dan bahkan ada yang butuh sama notif itu. Belum lagi, jelas membuat kita tampak nggak siap sebagai pengguna teknologi. Ibaratnya saya beli nasi goreng pedas, terus saya marah-marah sama petani cabe karena bikin saya sakit perut, padahal saya punya pilihan untuk bilang "Jangan pedes yah, bang...!". Jatohnya yah komedi banget kalo saya marah-marah sama petani cabe. Karena ketika bicara teknologi, kita selalu punya pilihan. Sesederhana itu. We rule!

Jadi salah siapa?
Salah RIM yang berani-beraninya jual BB di negara yang sebagian besar pemakainya terlalu pintar untuk baca buku manual. Salah Zuckerberg yang bikin facebook yang bisa diakses oleh masyarakat yang terlalu males untuk sekedar atur sana-atur sini. Saya sotoy? Biarin, tapi paling nggak, saya nggak akan marah-marah sama petani cabe kalo perut saya sakit karena makan nasi goreng pedas.


#50 dari 365 di 2011

Minggu, 20 Februari 2011

Senja 11 Inci

Langit senja ini mirip warna langit di desktop background notebook-mu. Langit di desktop background notebook-mu yang berwarna biru muda campur jingga, dengan dua siluet burung yang sedang nongkrong di kabel. Mungkin itu kenapa senja ini kamu tidak merangkak ke dalam layar seperti senja biasanya. Pada senja-senja biasanya kamu akan menyalakan notebook Jepangmu, menunggunya sampai 100% bangun dari tidurnya, kemudian setelah muncul gambar yang sudah tiga tahun melebar di layarmu itu, kamu akan pelan-pelan merangkak dan masuk ke dalam sore dalam sebelas inci. Kamu seret bangku plastik dan duduk di sisi jalan aspal tepat di bawah lilitan kabel listrik dan telepon yang di atasnya ada dua siluet burung. Kamu duduk sambil memandangi langit biru yang juga jingga. Biru dan jingga yang tersekat, seperti warna kue lapis dan kue pelangi. Warna-warnanya tidak tercampur. Pada senja-senja biasanya itu kamu duduk diam di dalam layar sampai malam di luar layar turun. Saat itulah kamu akan keluar lagi dari layarmu dan tidur dengan nyenyak semalaman.

Tapi senja hari ini lain. Senja hari ini seperti versi empat dimensi dari desktop background-mu. Seolah-olah kamu memakai kacamata empat dimensi sambil memandangi layar notebook-mu. Senja kali ini, kamu tidak lagi merangkak ke dalam layar. Kamu lari keluar kamar dengan histeris, sampai-sampai lupa memakai sendal (tentu saja kamu tidak peduli), dan menikmati senja yang tidak sebelas inci.


#40 dari 365 di 2011

Rabu, 09 Februari 2011

Two Way Monologue

Di sebuah taman kota penuh galian kabel. Di setiap sisi jalan setapak taman ini tertanam bangku-bangku beton tanpa senderan yang setiap malam sepertiganya alih fungsi jadi ranjang penduduk-penduduk anonim dan alias. Ada danau mini yang airnya sudah kering, anak-anak jaman sekarang menyebutnya tempat sampah. Taman ini berada di kota yang hitam mendung di utara dan kuning cerah di selatan. Kadang perpaduan, tapi lebih sering tersekat. Itulah kenapa burung-burung yang terbang lewati kota ini selalu panik. Ada yang tiba-tiba stroke dan sayapnya kaku, menabrak genteng, tiang listrik, yang paling beruntung berhasil lewati kota dengan selamat tapi dengan bulu yang 60% rontok.

Di pojok utara taman berdiri dua pohon yang dari lebar batangnya tampak belum begitu tua, tapi bukan berarti muda. Jarak antara dua pohon ini enam puluh detik lagu. Jenis lagunya bebas. Dua pohon tidak pernah mementingkan jenis lagu selama lagu-lagu tersebut mampu menyampaikan pesan mereka. Begitulah cara mereka berhubungan. Mereka tidak peduli apakah mereka saling mengerti bahasa masing-masing. Meskipun usia mereka sama, mereka adalah dua jenis pohon yang berbeda. Monokotil dan dikotil. Terkadang sebelum sampai ke mereka, pesan dalam lagu enam puluh detik tersebut akan terhapus angin, tergigit nyamuk, terpeleset embun, termakan tikus got, terinjak gembel. Peduli setan.

Toh yang terjadi antara mereka pun two way monologue. Karena walaupun ini terjadi antara dua pihak, tak ada perdagangan di dalamnya, tak ada pertukaran yang lebih dari sekedar pesan lewat lagu enam puluh detik. Bodo amat, kata mereka. Mereka tak butuh pertukaran, tak butuh saling mengerti, tak butuh omong kosong yang lebih kosong dari kolong-kolong bangku taman dan otak undur-undur. Singkatnya, mereka tak butuh dialog. Lagipula "Untuk apa dialog ketika tanah yang becek bisa menjawabmu jauh lebih menarik daripada lawan bicaramu?", pikir mereka.



#32 dari 365 di 2011

Selasa, 08 Februari 2011

Four Clow Cards I Wish I Had

I'm not that into anime/manga, but I love this one!
Clow cards ini adalah magical cards yang diciptakan oleh Clow Reed dalam anime/manga Cardcaptor Sakura buatan CLAMP.
Di bawah ini 4 kartu clow yang pengen saya curi:

1. The Fly
the fly
Power: It can create wings for flying. When Sakura uses it, it puts wings on her sealing staff and she can ride on it.
[Aseeek aja nggak perlu macet-macetan, irit, ramah lingkungan. Siap jaket aja selalu biar nggak masuk angin. Jas hujan juga, namanya juga negara tropis]

2. The Rain
rain
Power: It can make rain and, if it interacts with Wood, the two can grow a forest.
[Karena saya suka hujan! Seru kalo lagi panas, tinggal aktifin kartu ini dan adem..]

3. The Illusion
illusion
Power: It shows the illusion of what the viewer wishes to see the most, or what its master wants it to show.
[Pengen liat James Franco, Johnny Depp, tempat-tempat keren yang jauh, liat surga sekalian juga kali yah]

4. The Time

time

Power: It can freely control the flow of time
[Siapa yang nggak mau!?]

Kamis, 27 Januari 2011

Lagu dan Anak-Anaknya

Biasanya kalo saya suka satu lagu, saya suka cari-cari cover version-nya. Kalo yang nyanyiin ulangnya terkenal, gampang dicari. Tapi kalo yang nyanyiin ulang nggak terkenal, jaman sekarang udah numplek di youtube, banyak yang bagus (yang nggak bagus juga nggak mau kalah banyaknya). Asal koneksi lagi cihuy aja. Kadang ada juga lagu yang saya suka karena cover version-nya, padahal lagu originalnya nggak suka. Hmm.. mungkin lagu-lagu yang dinyanyiin ulang ini kayak orang yang didandanin ulang. Misalnya yang rambutnya lurus dikeriting atau sebaliknya, gincu merah diubah jadi gincu item, bedaknya ada yang ditebelin atau ditipisin atau jadi nggak pake bedak, yang matanya polos ditambahin eyeliner, maskara, sama eyeshadow, bahkan pake softlens, gaunnya dirobek-robek, ditelanjangin, atau malah dipakein jilbab. Ngomong apa ini!!?

Contohnya lagu Creep. Lagu yang umurnya 4 tahun lebih muda dari saya ini tadi saya cari ulang di dokumen laptop dan nemu 6 versi anaknya.

1. Versi sesama band Inggris, Muse. Ini termasuk versi yang lebih sederhana make up-nya (cuma pake gitar tok) tapi lebih emosian vokalnya, si Matthew Bellamy nyanyinya berdesah-desah dan kayak lebih berkeringat dibanding Thom Yorke. Versi ini kayak cowok yang tadinya bergaya Britpop (jins, kaos, kemeja flannel) diubah jadi nggak pake baju, cuma pake jins. Kalo saya lebih suka versi asli dibanding yang ini.

2. Versinya Prince. Saya nggak ngikutin musiknya Prince, tapi menurut saya versi ini rada bosenin. Dan karena ini versi live, jadi ada tambahan berisik suara penonton sorak-sorak. Tapi kalo mau konsisten sama analogi orang yang didandanin ulang tadi, mungkin kalo versi Radiohead gincunya merah, versi ini gincunya ungu keitem-iteman kali yah.

3. Versi musisi dan DJ Amrik, Moby. Nah ini yang namanya versi tambah menor. Ini juga versi live. Selain full-band, juga ada tambahan musik elektroniknya, yah dia kan DJ. Jadi ini ibarat cowok dengan gaya Britpop yang dipakein jaket kulit, topi, sama kalung.

4. Versi Ingrid Michaelson. Di versi ini, anggaplah si cowok tadi operasi kelamin jadi cewek, terus si cewek ini pake dress katun putih, flat shoes, blush on dan eyeliner tipis, rambut diiket asal. Musiknya cuma gitar, sebenernya instrumen utamanya yah suaranya Ingrid yang kayak sambil niup balon pas nyanyi.

5. Versi koor, grup Scala & Kolacny Brothers. Ini lagu yang ada di trailer-nya The Social Networks. Dari suaranya sih kayak koor anak-anak. Cuma pake piano sama gitar elektrik tipis banget di belakang. Ini versi yang dipakein jilbab kali yah? hehe

6. Kayaknya ini versi yang terbaru, versinya Eliza Doolittle. Si cowok tadi di sini berubah jadi cewek Inggris muda yang suka pake mini-dress atau celana pendek+sneaker dengan nyaman kemana-mana. Selama setengah lagu, isinya cuma vokalnya Eliza sama dikit banget iringan bass gede yang berdiri itu apa namanya yah. Barulah di sisanya ada tambahan perkusi sama gitar. Ini versi favorit saya karena lagi suka-sukanya aja sama Eliza Doolittle, hehe.

Sekian ceracau musik alakadarnya saya.


#17 dari 365 di 2011

Jumat, 14 Januari 2011

Ulat Lapar

Sepotong ulat kelaparan di pojok laptop. Mencoba-coba meracik makanan. Bahan pokok di monitor kanan bawah. Berkejap-kejap angkuh. Bumbu-bumbu telentang sepanjang papan. qwertyuiopasdfghjklzxcvbnm. Ulat mulai memasak. Pilih racik bumbu. Rebus lalu goreng. Di pojok monitor kanan bawah. Kompor volume-based. Masakannya gagal. Si ulat menangis. Berjanji takkan pernah memasak lagi. Sampai kapan pun. Mungkin sampai lapar sebuas hutan kebakaran.


#8 dari 365 di 2011

Aroma XXI Cukup Mengganggu

Saya nggak terlalu suka sama bau khasnya XXI. Entah baunya emang kayak gini di semua XXI dari Sumatera sampai Papua atau cuma di XXI yang saya pernah datangi saja. Baunya itu kayak campuran bau pendingin ruangan campur karpet, atau ada yang bisa jelasin lebih tepat? Saya sempet beberapa kali nggak terlalu nikmatin filmnya karena bau yang buat saya cukup mengganggu.

Saya sebut 'cukup mengganggu' karena memang nggak 'tok mengganggu'. Tingkat 'mengganggu'-nya lemah. Karena saya ingat omongan teman saya yang jarang ngomong tapi sekalinya ngomong cukup berisi. Waktu itu lagi nonton berita di tv dan ada voxpop, "Yah menurut saya ini cukup baik blah blah blah". Lalu si kawan berinisial RM (ini nama panggilannya juga) nyeletuk, "Kenapa yah orang kebanyakan kalo nilai sesuatu selalu pake kata 'cukup'? Kalo baik kenapa nggak 'baik' aja?". Hmm..bener juga. Mungkin ini ada hubungannya sama karakter orang kita yang nggak to the point kalo ngomong. Sotoynya saya sih begitu.

X: "Nilai lo gimana?" Y: "Yah lumayan lah..cukup bagus".
Lalu si X lihat transkrip nilai si Y, ternyata A semua. Ini jelas penggunaan kata 'cukup' yang membangkitkan emosi! Kalo bagus yah bagus aja. Rendah hati? Nggak juga, menurut saya itu jatuhnya malah songong. Walaupun banyak juga yang menyalahgunakan kata 'cukup' sebelum kata sifat untuk rendah hati. "Alhamdulillah, anak saya cukup sukses", padahal anaknya pemilik 10 perusahaan dan kalimat yang lebih tepat mungkin "Anak saya sukses abesss!". Takut dibilang sombong kali yah kalo lebih pilih kalimat kedua. Seperti kata Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah. :p

Tapi kalo penggunaan 'cukup mengganggu' buat aroma XXI di awal tulisan ini nggak ada tujuan apa-apa. Takut pihak XXI marah? Geer amat pihak XXI ada yang baca ini. Mau pake kata 'mengganggu' tapi nggak sebegitunya. Jadi yah sekali lagi, memang aroma XXI buat saya hanya cukup mengganggu.


#7 dari 365 di 2011

Rabu, 12 Januari 2011

Obsessive Compulsive Disordah': Pengakuan

Bukan OCD tingkat parah yang menyusahkan sih, tapi kadang mengganggu.

1.Obsesif Konsonan (g/d/b/j)

Terutama waktu kecil, selalu dimarahi mama tiap mulai obsesif mengulang-ulang "eggg", "eddd", "ebbb", dan "ejjjj"; tanpa membuka mulut dan tanpa kenal tempat. Mungkin si mama malu. Seperti kekurangan oksigen dan kacau kalo belum melakukannya. Untungnya sekarang udah nggak terlalu. Cuma kalo inget dan ada yang ingetin, jadi mulai lagi, cuma untuk beberapa waktu dan nggak semenyiksa dulu. Waktu kecil mama bilangnya "Itu nanti kena sarap kalo terus-terusan, paur*!". Akhirnya pas nonton Oprah Winfrey Show tahu sendiri kalo itu namanya OCD. Nonton itu jadi sangat bersyukur karena yang saya alami itu nggak bahaya dan terlalu mengganggu. Apalagi di situ ada anak kecil yang OCD-nya teriak "coffee!" dan menggeleng-gelengkan leher tiba-tiba. Ngeri.

2. Lima-Lima-Lima!

Banyak hal kecil yang saya lakukan harus saya lipatgandakan jadi lima kali. Misalnya, saya nggak sengaja nyentuh tembok, saya harus sentuh tembok itu empat kali lagi, biar pas jadi lima. Atau kalo naek tangga atau ngelangkah biasanya sebisa mungkin pas lima kali dan kelipatannya. Kalo nggak, rasanya kayak dosa dan nggak adil. Ngok! Ternyata yang satu ini saya nggak sendiri. Temen saya yang ini juga begitu. Untungnya obsesif disorder yang ini nggak terlalu keliatan dan ketahuan sama orang. Nggak kayak si konsonan tadi yang sampe diancem "sarap" sama si mamah.

3. Pencet-Pencet

Kalo ada yang punya tombol dan nggak boleh dipencet, jauhkan dari saya. Gemes banget kalo liat tombol, baik itu komputer atau dimana pun, termasuk tuas. Sekarang misalnya, lagi ngetik seperti ada tombol-tombol yang minta dipencet agak keras. Random. Dan mau nggak mau harus saya pencet tanpa alasan yang jelas. Sekarang udah bisa dikontrol sih, kayak misalnya kalo gemes pengen pencet tombol 'off' di laptop, nggak saya lakukan. Rasa takut si laptop rusak mengalahkan obsesi mencet tombol 'off' tiba-tiba. Kejadian paling mengganggu: waktu kecil di rumah tetangga pernah gemes liat tuas yang saya nggak ngerti tuas apa, saya buka-tutup dan kena marah orang karena ternyata itu tuas gas alam. Kalo sekarang, paling saya cuma harus maklum kalo keyboard laptop bermasalah karena sering saya tekan keras-keras tanpa alasan.

Ada beberapa obsesif nggak penting-menyebalkan lainnya yang nggak berpola, tapi segitu aja pengakuan obsessive compulsive-disordah saya.


*paur: bahaya


#4 dari 365 di 2011