Jumat, 23 Juli 2010

Ambisi dan Sol Sepatu yang Terlalu Tipis

am·bi·si n keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (spt pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu: ia mempunyai -- untuk menjadi duta besar; pengabdiannya penuh dedikasi, tanpa -- pribadi;

Saya sedikit punya masalah dengan kata ini. Entah kenapa saya sering merasa tidak berambisi.

ber·am·bi·si
v berkeinginan keras mencapai sesuatu (cita-cita dsb); mempunyai ambisi: regu bulu tangkis lawan merupakan tim yg sangat ~ dan perlu diperhitungkan

Topik ini sedang asyik-asyiknya nangkring di kepala saya. Mungkin penyakit pasca jadi sarjana yang baru beberapa minggu. Masalahnya sekarang adalah saya ngerasa nggak punya cita-cita yang spesifik. Waktu kecil sih punya, arsitek dan psikiater. Seiring perjalanan akademis yang tanpa tekanan dari orangtua, waktu membuktikan dengan bijaknya bahwa otak saya kurang IPA, oke, tidak IPA sama sekali. Satu-satunya pelajaran IPA yang saya kuasai hanya biologi (karena tidak mengandung angka ataupun rumus yang entah kenapa tidak pernah ramah bagi otak saya). Jadilah cita-cita menjadi arsitek dan psikiater yang brengseknya harus lewat jalur IPA sudah saya teriaki "adios!" sejak dulu. Untuk arsitek diperkuat dengan kemampuan gambar saya yang jongkok. Kenapa nggak psikologi yang bisa lewat jalur IPS? Hmm...entah kenapa saya lebih tertarik psikiatri, padahal nggak ngerti-ngerti amat juga dua-duanya.


Akhirnya sejak SMP, cita-cita saya blur. Seperti es skrim lezat yang meleleh dan tidak menarik untuk dinikmati kembali. Untungnya, meskipun nggak ada cita-cita spesifik, saya tahu apa yang saya suka, tulis-menulis. Akhirnya jurnalis menjadi cita-cita yang lain, karena berhubungan dengan tulis-tulisan, agak dangkal sih alasannya. Dengan pemikiran tersebut, terdamparlah saya di jurusan komunikasi dengan peminatan jurnalisme. Mejik pun terjadi lagi, semakin saya belajar jurnalisme, semakin nggak terlalu ingin jadi jurnalis. Bukan nggak ingin sama sekali sih, keinginan masih sangat ada. Cuma passion-nya nggak sebesar dulu. Jadilah saya nggak punya bentuk karier spesifik yang dikejar.

Pemikiran paling oke yang pernah saya baca di blog ini, cari satu hobi atau minatmu, lalu jadikan hal tersebut pekerjaanmu. Menulis. Ya, ini yang paling dekat dengan saya. Konkritnya? Bisa kerja di majalah, dan sebagainya. Tapi lagi-lagi, tiba-tiba ada passion yang sedikit pudar. Mungkin seperti nafsu makan yang menggebu-gebu di bulan puasa yang menyusut ketika hendak berbuka. Tapi, menulis tetap akan menjadi aktivitas favorit jari-jari saya, berhubungan atau tidaknya itu dengan pekerjaan saya kelak. Blog ini salah satu buktinya.

Sampailah di beberapa hari yang lalu ketika mengobrol agak serius (ini superjarang terjadi) dengan seorang teman lewat YM. Dia yang sedang jenuh dengan pekerjaannya yang menurut saya sangat menjadi passion-nya. Intinya, obrolan tersebut mengingatkan saya kembali pada keinginan saya, yang menurut saya sih cukup tinggi dan sempat terlupakan karena tertimbun pikiran-pikiran sok ruwet lain. Kami menemukan benang merah tebal tentang keinginan yang paling menyenangkan bagi kami, yaitu: suatu saat ingin punya sekolah alternatif gratis. Terdengar terlalu idealis dan sok mulia? Haha...biarin!



Obrolan pun berlanjut kepada karier apa yang paling menyenangkan. Akhirnya sampailah pada kesimpulan (ini kesimpulan saya sih), pekerjaan paling menyenangkan, selain yang sangat sesuai dengan minat kita, adalah pekerjaan yang masih memungkinkan kita mengerjakan banyak hal kesukaan kita. Buat saya: menonton film, baca buku, ngobrol dengan teman, nikmatin musik, menulis (yang satu ini syukur-syukur kalau bisa jadi kerjaan sambilan). Ternyata hidup memang lebih menyenangkan jika kita punya sesuatu yang membuat kita ingin meneruskan perjalanan meski kaki sudah lecet ataupun sol sepatu terlalu tipis.

gambar:
http://www.explodingdog.com/
http://photo.net/

Minggu, 04 Juli 2010

Yang Baru Masalah Baru

Kelahiran hal baru akan selalu sepaket dengan masalah baru juga. Paling tidak menurut saya begitu. Jelas teknologi komunikasi sekarang sudah menjadi salah satu kebutuhan primer. Potongan kue pie yang kini ukurannya sudah berubah dan bertambah. Misalnya dulu jaman kakak saya kuliah, punya HP itu bukan hal penting. Mungkin baru 10% mahasiswa yang pake HP, itu pun mungkin bawa punya bapaknya atau ibunya yang lagi nggak dipake hari itu. Tapi sekarang? Mahasiswa yang nggak punya HP seperti mahasiswa yang nggak pake alas kaki. Begitu pun laptop. Jaman saya baru masuk kuliah, yang bawa laptop ke kampus sangat jarang. Kalau pun ada, yah paling kalau emang bener-bener ada tugas yang mendesak dan sebagainya. Tapi sekarang, laptop seperti buku catatan yang umum ditenteng mahasiswa. Ya, jaman bergeser. Pola hidup ikut-ikutan geser seperti orang di angkot yang juga ikutan geser jika orang sebelahnya geser.

Yang saya maksud dengan kalimat di awal tulisan ini adalah sebenarnya masalah-masalah dulunya tidak pernah ada sekarang menjadi ada seiring perkembangan dan penemuan-penemuan terbaru. Balik lagi ke HP. Jaman dulu, kalau orang janjian misalnya. Nggak mungkin tempat janjian berubah-ubah. Misalnya janjian di depan halte warna biru jam 10. Walaupun masalah ngaret tetep ada, tapi konsep 'janjian' merupakan sebuah konsep yang sangat sederhana: "Lo dateng, gua dateng". Ketika ada yang tidak datang, berarti ada masalah besar biasanya. Tapi setelah HP menjadi satu identitas juga, konsep ‘janjian’ menjadi lebih cair. Bisa saja orang yang janjian dengan anda tiba-tiba mengirim SMS “Sori, nggak jadi datang, tiba-tiba nggak enak badan” atau orang yang sudah menunggu bilang lewat telpon “Gw tunggu di warung seberang yah”. Tempat janjian bisa diubah karena bisa segera mengabari. Jadi kini, ketika seseorang tidak ber-HP, menjadi agak bermasalah. Susah mengabari, janjian tidak fleksibel. Padahal masalah-masalah ini tidak ada sebelum HP juga ada atau lebih tepatnya menjadi sebuah identitas primer juga.

Laptop. Dulu mahasiswa cukup berpuas diri mengerjakan tugas ketak-ketik dengan PC di rumah atau rental. Paling tidak sesampai kampus, tugas sudah pasti selesai. Sekarang? Mungkin beberapa menit sebelum kelas mulai tugas masih diketik di laptop di depan kelas.

Jejaring sosial. Facebook dan Twitter. Sebelum Facebook seramai sekarang dan kicauan Twitter seberisik ini, orang tidak begitu bermasalah tanpa tahu status orang lain ataupun memberi tahu status dirinya. Tapi kini, sehari saja tidak membuka rentetan akun-akun di jejaring sosial seperti belum makan dengan nasi. Lagi-lagi masalah itu tidak pernah terlintas dan tidak pernah menjadi masalah jika tidak terpenuhi, dulunya. Baiklah, sudah umum memang hal-hal baru akan selalu menggeser pola-pola yang ada sebelumnya. Tapi kadang rasanya, saya ingin menjadi mahasiswa di jaman kakak saya yang tidak perlu membawa-bawa HP ataupun serbatahu tentang yang dikerjakan teman-temannya ketika tidak sedang bersama-sama di kampus. Tapi toh, kini sekarang saya akan sangat bermasalah jika HP tidak ada dan seperti ada yang kurang jika tidak sesekali mengintip kicauan kawan-kawan di Twitter. Jadi sebenarnya kalimat “kelahiran hal baru akan selalu sepaket dengan masalah baru juga” menjadi kurang begitu tepat, tapi saya suka dengan kalimat itu. Jadi maaf jika tulisan ini tidak memberi pencerahan apa pun. Karena memang bukan itu tujuannya.