Senin, 10 Mei 2010

Monolog Racun

Aku mulai berkata-kata sejak aku bosan menangis. Dulu kata-kataku susu bubuk yang diseduh tanpa gula. Tawar dan hangat. Euphoria kembang api saat lidah yang menabrak-nabrak gigi dan dinding mulut juga bibir yang saling tepuk berakhir kata. Lalu kata-kata itu kamu rebut lagi dari lidah dan telingaku. Kamu rebut lalu kamu lempar ke lembar kertas yang kamu bawa sepulang kerja. Kamu pindahkan kata yang kudapat dari tabrakan lidah, gigi, dan bibirku ke mata. Aku tak lagi berkata sebelum mata bekerja. Otak mengeja. Kata-kata itu menjadi susu bubuk dengan tanggal expired bertahun-tahun lalu. Yang tak lagi larut saat diseduh dan diaduk. Yang tak lagi tawar saat kau seruput. Memang masih hangat. Tapi kata-kataku sekejap mengucap menjadi racun. Kini aku mulai bernyanyi sejak aku muak berkata-kata.