Rabu, 31 Maret 2010

Nyebur, Melebur, Kabur, dan Terkubur

nyebur, melebur, kabur, dan terkubur

empat opsi di samping autopsi

sebab mereka bilang rumah sakit sudah terlalu sakit

dan klinik 24 jam sudah lama terpejam

sedangkan puskesmas terlalu banyak cemas

sekolah disesaki orang-orang yang kalah

kampus dipenuhi oleh otak-otak yang arogan mampus

dan kata-kata yang penuh dempul dan mudah-mudahan tidak tumpul

menyedihkan…


Orang-orang mendandani diri. Poles sana sini. Melupakan penyakit. Mungkin ini salah satu teknik paling mutakhir dalam dunia kedokteran. Bukan lagi placebo. Tebalkan make up-mu sementara penyakit menjangkiti tubuhmu, juga lingkunganmu. Taburi sebanyak mungkin vetsin pada kalimat-kalimatmu. Biar menarik, walaupun berpenyakit dan bikin mual. Alat ukurmu yang terlalu rendahan. Mistar yang centiannya salah. 2 cm yang sebenarnya 4 cm.

Sebenarnya aku pun terlalu sempit. Sebenarnya masih banyak orang-orang tulus di luar sana. Yang mampu membuat roti tawar berasa penuh keju, cokelat, stroberi, kacang. Dan air putih berasa soda, susu, teh, kopi.

Dan yang paling membuat terharu adalah ketika orang lain yang jauh lebih menderita darimu masih menyempatkan waktu dan tenaga untuk menghubungimu dan bertanya, "Apa kabarmu? sehat? sudah sembuh?" :')

Senin, 08 Maret 2010

Menghapus Label Tebal Di Luar Kotak

Minggu lalu saya menonton My Name is Khan. Ada satu kalimat yang tampaknya menjadi pesan utama di film itu. Kira-kira seperti ini: "There are two different peoples, a bad people and good people".

Kutipan tersebut membekas di pikiran saya. "Bener banget!", pikir saya. Kalimat tersebut meruntuhkan kotak-kotak yang ada. Kotak-kotak yang dibuat manusia sendiri untuk melabeli manusia lain dan dirinya sendiri. Mulai ras, agama, bangsa, juga segala isme-isme dari yang megah sampai yang dicemooh. Contoh paling sederhana adalah siapa pun yang membunuh anak kecil tak bersalah dengan sengaja, dia adalah orang jahat. Tak peduli Islam atau Nasrani, kulit putih atau berwarna, sosialis atau kapitalis. Hanya satu label: bad people. Begitu pun sebaliknya.

Nyatanya selama ini kebanyakan dari kita terjebak. Terjebak dalam kotak-kotak tadi. Terjebak pada label ber-font tebal di permukaan kotak-kotak tersebut. Ada yang merasa kotaknya paling hebat, sedangkan kotak-kotak lainnya tidak lebih pantas dari kotaknya. Tidak mau mengintip keadaan sebenarnya di kotak-kotak lain. Cuma puas pada label yang ada di permukaannya dan berkicau-kicau sampah seolah paling tahu tentang suatu kotak. Menyerah pada stigma. Menyedihkan.

Lompat pada pengalaman saya minggu lalu berbincang dengan seorang teman. Ia mengaku tidak lagi menyukai seorang musisi karena ternyata si musisi tersebut seorang gay. Pernyataan dengan kalimat-kalimat yang cukup tegas tersebut awalnya berusaha saya acuhkan, nyatanya memancing lidah usil saya untuk berkomentar. Ada satu kalimat spontan yang jelas saya ingat keluar dari mulutnya ketika saya berkomentar bahwa ia seorang homophobia yang berpikiran sempit, ia bilang "kalo perlu dibakar sih dibakar orang kayak gitu (maksudnya gay)!". Jujur saya agak kecewa, atau mungkin saya yang berharap terlalu tinggi terhadap si teman tersebut yang saya anggap cukup cerdas. Ia menjalankan agamanya dengan baik, cukup baik di antara teman-teman lainnya, dan yang paling ironis adalah jurusan kuliahnya yang pasti mempelajari tentang homoseksualitas (hmm kira-kira jurusan apa yah). Saya tidak bermaksud menyerang teman saya tersebut, apalagi ia salah satu teman baik saya. Pikiran saya saat itu adalah tidak ada hubungannya orientasi seksual seseorang dengan kualitas musiknya dan kita tidak berhak sama sekali membenci seseorang hanya karena ia gay. Jika ia memiliki keyakinan bahwa menjadi gay bukan hal yang baik, tetap saja ia tidak berhak untuk membenci.

Mana yang lebih baik: seorang heteroseksual yang korupsi dan seorang gay yang membuat sekolah-sekolah untuk desa miskin? Jika Anda masih menjawab pilihan pertama, semoga anak Anda kelak seorang heteroseksual.

..dan semoga kita tidak menjadi orang angkuh dalam kotak yang menyerah pada tulisan tebal di luar kotak-kotak orang lain. Sehingga sebelum menilai seseorang, kita mau berendah hati menghapus label-label tebal di luar kotak dan melihat dengan kepala terbuka. Karena seperti yang dikatakan ibu Rizvan Khan dalam film My Name is Khan, "There are two different peoples, a bad people and good people".