Jumat, 05 November 2010

Kusut

Ada perbedaan supertipis antara menerima dan meyakinkan. Antara menerima kenyataan dan meyakinkan diri. Begitu tipisnya sampai saya sendiri kerap rancu mana yang sedang saya lakukan. Ketika badan saya terlalu lelah bertani (misalnya saya petani), lantas sakit karena kurang istirahat. Saya tetap meyakinkan diri bahwa saya sehat. Saya hanya meyakinkan diri bahwa saya baik-baik saja dan tetap pergi ke sawah untuk menanam padi. Saat keadaan semakin parah, akhirnya saya pun menerima kenyataan bahwa saya memang sakit karena toh tubuh saya pun sudah tidak mampu lagi bangun dari tempat tidur. Itu cuma satu contoh. Contoh termudah. Garis perbedaannya masih cukup tebal.

Sementara untuk beberapa keadaan lainnya, garis perbedaan ini semakin tipis. Setipis perbedaan lelah dan menyerah. Semirip Katy Perry dan Zoey Deschanel. Mirip tapi beda. Meskipun mirip, Katy kerap disandingkan dengan kata ‘naughty’, sedangkan Zoey lebih sering disebut ‘cute’. Kemiripan wajah antara keduanya dibedakan oleh perbedaan gaya berpakaian dan sikap. Begitu pun perbedaan antara ‘menerima kenyataan’ dan ‘meyakinkan diri’. Menerima kenyataan dan meyakinkan diri mempunyai perbedaan rasa, nilai, fungsi, konteks, dan hasil. Lagi-lagi ini cuma menurut saya.

Kasus lain misalnya. Saya tidak bisa mengerjakan soal-soal trigonometri. Lalu saya pun meyakinkan diri bahwa saya bisa mengerjakan trigonometri. Ini sah-sah saja. Semacam self-motivation. Lalu saya pun belajar mati-matian dengan keyakinan penuh bahwa saya pasti mampu menaklukan soal-soal sin-cos-tangen ini. Namun setelah mati-matian tadi, saya ternyata tetap tidak mampu beramah-tamah dengan trigonometri. Nah, jika saya tetap meyakinkan diri bahwa saya bisa mengerjakan trigonometri, ini bodoh. Yang paling layak dilakukan adalah menerima kenyataan bahwa otak saya memang tidak ramah terhadap soal-soal ini. Tahap terbijak selanjutnya adalah dengan mencari soal yang mampu saya kerjakan dan fokus di sana.

Jadi, menerima itu induktif, sedangkan meyakinkan itu deduktif. Menerima itu akibat, meyakinkan itu sebab. Menerima itu adalah hasil dari fakta-fakta yang telah ada. Meyakinkan itu awal dari yang mungkin (akan) terjadi. Karena saya meyakinkan diri bahwa saya pasti bisa trigonometri, maka saya pun belajar mati-matian. Setalah belajar mati-matian, mungkin saya memang akan bisa trigonometri seperti yang telah saya yakini di awal. Namun, jika tetap tidak bisa, maka saya pun menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa trigonometri.

Polanya mungkin seperti ini:

Menerima: pukul sembilan malam, makan terakhir saya pukul delapan pagi -> oleh karena itu, saya lapar.

Meyakinkan: saya tidak lapar -> karena meskipun saya tidak makan siang, saya makan satu piring penuh saat sarapan.

Jika dari uraian sok tahu di atas, menerima kenyataan lebih bersifat positif. Beralasan. Sedangkan meyakinkan diri lebih terkesan memaksa. Walaupun kondisinya bisa berbalik. Misalnya, menerima kenyataan bisa dikesankan dengan terlalu pasrah dan tidak berusaha. Sementara meyakinkan diri, seperti pada contoh trigonometri di atas, bisa menjadi self-motivation yang baik, jika kondisinya memang pas.

Semoga uraian pendapat saya mengenai perbedaan ini tidak terlalu kusut. Tulisan ini pun memang bukan kajian bahasa, tanpa data atau referensi. Hanya sekelibat pandangan di sela-sela kerancuan dan keraguan saya terhadap apa yang sedang saya lakukan saat ini. Apakah saya sedang menerima kenyataan atau hanya sedang meyakinkan diri. Entah. Sebelum tulisan ini semakin kusut lagi, di bawah ini saya salin dari Kamus Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008.

menerima v 1 menyambut; mengambil (mendapat, menampung, dsb) sesuatu yg diberikan, dikirimkan, dsb; 2 mengesahkan; membenarkan; menyutujui 3 mendapat atau menderita sesuatu

meyakinkan 1 v menyaksikan supaya yakin; memastikan; 2 v menjadikan (menyebabkan) yakin; 3 v melakukan sesuatu dgn sungguh-sungguh

Tidak ada komentar: