Senin, 25 Oktober 2010

Mesin Waktu Kumpulan Kata

Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang akan menemukan banyak hal tak terduga saat bebenah kamar. Dari barang-barang lama tak terpakai sampai barang yang hilang kala dibutuhkan namun seperti meledek dan muncul begitu saja ketika tak lagi dicari. Baru-baru ini saya membongkar lemari plastik di pojok kamar. Awalnya untuk mencari barang penting, tapi barang lama saat itu jauh lebih menggoda. Menggoda karena barang yang saya temukan kali ini adalah tulisan-tulisan lama saya, kira-kira dari tahun 2005 sampai tahun 2008 (pertengahan SMA-pertengahan kuliah). Menggoda sekaligus menakutkan. Menggoda untuk dibaca kembali, melihat lagi apa isi pikiran saya sepanjang waktu tersebut, kejadian-kejadian apa saja yang terjadi sampai perlu saya tulis, hal-hal yang saya suka saat itu, daftar-daftar keinginan, dan tulisan tidak jelas lainnya. Menakutkan karena biasanya saya akan jijik jika membaca ulang tulisan-tulisan lama. Bahkan yang lamanya baru setahun saja terkadang ketika dibaca kembali akan membuat saya berpikir apa yang ada di kepala saya sampai-sampai saya menuliskan hal itu. Tulisan-tulisan tersebut kebanyakan berbentuk tulisan harian (walaupun saya tidak menulis setiap hari), tidak jauh berbeda dengan tulisan di blog, cuma memang lebih terbuka karena tidak diperuntukan untuk dibaca (yang baca cuma saya dan tuhan). Ini karena saya nulisnya di sembarang buku atau kertas. Saya tidak pernah punya buku harian (terakhir jaman SD), maka buku-buku pelajaran pun menjadi korban tulisan tangan saya yang hanya sedikit lebih jelas dari resep dokter. Bukan contoh yang baik.

Alih-alih kembali mencari barang penting, saya malah keterusan membaca si tulisan lama sambil ketawa dan menahan muntah sendiri. Meskipun begitu, tulisan-tulisan lama, seperti kata beberapa teman, merupakan sebuah rekaman perkembangan diri kita. Bagaimana perkembangan gaya tulisan serta cara pikir kita dari masa ke masa. Dan benar saja, ada pemikiran saya di beberapa tulisan yang bertolak belakang dengan apa yang ada di kepala saya di masa sekarang, di samping ada juga yang tidak berubah. Ini masih senada dengan tulisan saya sebelumnya mengenai puisi. Selain itu, tulisan lama juga bisa menjadi daftar keinginan yang bisa kita centang mana saja yang sudah tercapai, mana yang tidak, atau bahkan mana yang membuat kita berpikir “Serius LO dulu pengen itu!!?”. Di salah satu tulisan lama bertahun 2005, saya menuliskan betapa inginnya saya lolos SPMB (sekarang SNMPTN) dan masuk FISIP UI. Di situ saya menuliskan bahwa saya harus tembus SPMB (ya saya pakai kata ‘tembus’ saat itu) dan meyakinkan diri kalau saya pasti bisa (semacam motivasi diri sendiri yang nggak semahal motivasinya Mario Tegur). Entah tulisan tersebut punya andil atau tidak, saya pun tembus SPMB dan masuk jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UI. Lucunya, ketika baca ulang tulisan ini, saya baru saja diwisuda. Seperti baru kemarin saya menulis keinginan tersebut. Maka kalimat klise “waktu berjalan begitu cepat” pun tampak paling pas.

Selain itu, sebenarnya tulisan tersebut juga membuat saya merasa kehilangan. Kehilangan keinginan dan motivasi diri yang sekuat itu. Keinginan yang mampu saya tuliskan tanpa ragu-ragu dan menjadi salah satu bensin serta navigator mengenai apa yang harus saya lakukan kala itu. Mungkin karena saat itu saya masih ‘siswa’, tujuannya masih jelas dan sesempit ‘menjadi mahasiswa’. Kapal saya kala itu masih berjalan di sungai-sungai sempit, yang umumnya, bermuara ke laut. Sementara sekarang, saya sudah bukan mahasiswa lagi. Saya punya jauh lebih banyak pilihan jalan yang bisa saya lalui. Bisa dibilang, kapal saya saat ini sudah memasuki lautan nan luas dan punya banyak arah. Saya butuh bensin lebih banyak dan navigator yang jauh lebih canggih lagi. Saya-lima-tahun-yang-lalu berhasil membuat saya-yang-sekarang ini sedikit iri.

Kembali ke masalah tulisan lama. Setelah menertawai diri sendiri sambil menahan muntah, akhirnya ada sedikit sisi positif juga yang saya temukan. Paling tidak sejak tahun 2005 sampai sekarang, saya konsisten menulis. Meskipun tidak sesering itu. Tidak setiap hari, bahkan setiap minggu pun belum tentu. Jika ditarik lagi ke belakang, saya mulai menulis sejak jaman SD. Waktu SD, saya menulis di buku harian superkecil sampai menulisnya pun sulit saking kecilnya. Sementara isinya kebanyakan caci maki untuk teman yang menyebalkan atau perihal hari itu saya sudah main apa saja (ini penting saat itu!). Masuk SMP, hobi menulis tersingkirkan oleh terlalu banyaknya hal baru yang saya dapat kala itu. Baru mulai menulis lagi di kelas tiga SMP. Itu pun terhenti kembali ketika mulai memasuki SMA. Sampai akhirnya dimulai kembali saat kelas dua SMA dan (untungnya) masih konsisten sampai sekarang. Selama itu, saya tak pernah membiarkan siapa pun membaca tulisan saya. Satu alasan: M-A-L-U. Tulisan hanya tersimpan di selipan buku dan folder PC. Sampai pada akhirnya di tahun 2007, saya memberanikan diri membuat blog dan mengubur paksa si rasa malu.

Karena meski sering menjijikan, namun menyenangkan juga membaca tulisan lama. Seperti bermesin waktu. Walaupun tak secanggih mesin waktunya Doraemon.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

IMHO, this is briliant

farhanah mengatakan...

Thank u, anonim :)