Minggu, 19 September 2010

Gadis Pagi

Nama aslinya Embun, sebutannya “Gadis Pagi”. Tentunya sebutan itu bukan karena dirinya hanya menggadis di pagi hari. Panggilan tersebut didapatnya sebab ia pasti akan tertidur sebelum malam tiba. Matanya akan menutup bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Seiring menyusup gantungnya matahari di barat, menyusup pula bola mata si Gadis Pagi. Selama delapan belas tahun hidupnya ia tak pernah menyaksikan malam. Baginya, malam hanyalah kata-kata yang didengarnya dari mulut orang lain, kalimat-kalimat yang dibacanya dari buku-buku, kisah-kisah romantis yang didendangkan para penyair, lirik-lirik yang dilagukan, lukisan-lukisan yang dipandangnya. Sederhananya, malam baginya adalah tidur. Dunianya adalah pagi-siang-sore. Selagi sore bergegas pamit, 1…2…3… tidurlah ia!

Bukan tanpa usaha orang tua si Gadis Pagi terhadap keadaan anak bungsunya. Puluhan tabib dari segala penjuru mata angin tak ada yang tak mengenal mereka dan si Gadis Pagi. Dari puluhan tabib tersebut tak ada yang mampu membuat mereka pulang dengan hasil berakhirnya kisah si Gadis Pagi. Embun tetap tak dapat melihat malam. Embun tak begitu mengenal gelap. Gelap baginya adalah mendung di pagi atau siang atau sore.

Gadis Pagi sering sedih. Ia begitu ingin melihat malam. Ia ingin menyaksikan yang orang-orang sebut bulan purnama, bulan sabit, bintang kejora, bintang jatuh, saling melukis dan berbangga diri menampilkan keindahan dan kekelamannya di layar pekat memikat, langit malam. Suara burung-burung hantu, krik-kriknya jangkrik, juga kelelawar. Gadis Pagi kerap menangis sebelum matahari tenggelam. Pernah suatu hari ia memaksa membuka matanya di senja hari. Berbagai cara dilakukannya, meminum kopi pekat, melotot, sampai menahan kelopak matanya dengan tongkat korek api. Lagi-lagi, tak ada satu cara pun yang berhasil. Tak ada cara yang mampu membuatnya mampu melihat, menikmati, atau sekadar melewati malam dengan tersadar.

***

Mereka menyebutnya Gadis Pagi, Embun nama aslinya. Setiap pagi hari ia akan memasang karton-karton putih yang sudah digunting bulat-bulat kecil, besar, juga sabit. Digantungnya karton-karton tadi di sudut-sudut jendela yang telah dilapisinya dengan kain hitam tebal. Sesekali ia tambahkan hasil lipat-melipatnya berbentuk burung hantu juga kelelawar. Tak lupa juga ia akan memasang rekaman suara jangkrik. Gadis Pagi kini punya malam. Malamnya sendiri. Malam artifisial yang diciptakannya di balik jendela di kala matahari mulai menggantung di timur.

Tidak ada komentar: