Rabu, 29 September 2010

Dokumentasi Rasa Dalam Diksi dan Spasi

Bagi saya, puisi itu seperti foto. Sama-sama mengabadikan. Bedanya, foto mengabadikan gambar dan momen, sementara puisi mengabadikan rasa. Perasaan seseorang ketika menuliskan puisi. Rasa itu bisa bahagia, marah, sedih, bosan, malu, protes, kalah, bangga, depresi, geli. Ketika kita melihat sebuah foto diri kita, memori tentang apa, dimana, bagaimana, siapa hadir kembali. Semacam pemanggilan kembali momen yang kita alami ketika foto itu diambil.

Tak jauh berbeda halnya dengan puisi. Puisi yang dibaca kembali oleh penulisnya akan kembali memanggil perasaan-perasaan yang dialami si penulis selagi memilih kata-kata, membariskannya, mempermainkannya, untuk lalu menghentikannya tiba-tiba atau pelan-pelan. Paling tidak buat saya begitu. Ketika saya membaca ulang puisi-puisi lama, akan kembali bermunculan kejadian yang mendorong saya menulisi puisi dan perasaan saya waktu menuliskannya. Jika saya membaca kembali puisi yang saya buat dalam perasaan sedih, maka akan kembali terbayang kesedihan seperti apa yang saya rasakan kala itu. Memori rasa itu seperti tersimpan dan terselip di antara diksi dan spasi. Saya pernah dengar dari seorang teman, ada seorang temannya yang bisa menganalisa alam bawah sadar si penulis dari tulisannya. Bahkan hal yang tidak disadari si penulis sendiri bisa dianalisa dari pemilihan kata yang ada. Keren!

Jadi puisi sifatnya sangat personal. Kalau teman saya bilang, puisi bentuk tulisan yang paling egois. Benar juga. Bolehlah ada puisi bertema sosial dan sebagainya, tapi toh tetap saja itu hasil interpretasi dirinya sendiri terhadap dunia sosialnya. Jadi menurut saya tetap personal. Lalu jika orang-orang berkata puisimu aneh, kacau, bodoh, polos, tidak indah, norak, dangkal, klise, atau picisan itu terserah. Itu kan pendapat mereka, bebas saja. Tapi jika seseorang memintamu mengubah puisimu, memintamu mendandani lagi puisimu karena menurutnya kurang menor dan tak mendapatkan perasaan ketika membacanya, nanti dulu. Sejauh ini saya bikin puisi bukan untuk menghasilkan efek tertentu pada yang membaca. Kalau kata seorang teman yang juga suka puisi, puisi tidak dibuat untuk memuaskan orang lain.

Egois? Memang. Tapi sejauh ini fungsi puisi buat saya yah itu. Mendokumentasikan rasa dalam diksi dan spasi.

3 komentar:

Wahidini Nur Aflah mengatakan...

hahaa, setuju fan!
itu kan perasaan kita, menulis puisi gak perlu minta komentar dari orang lain. udah nyelesain puisi aja bisa buat hati plong. Itu kan yg terpenting :p

zarathezara mengatakan...

Saya pernah dengar dari seorang teman, ada seorang temannya yang bisa menganalisa alam bawah sadar si penulis dari tulisannya. Bahkan hal yang tidak disadari si penulis sendiri bisa dianalisa dari pemilihan kata yang ada. Keren! >>>siapa nih orang? want to meet her/him.

farhanah mengatakan...

@zara: Temennya Edo pacarnya Ninin, Zar. Gw jg nggak tau orangnya. Coba tanya Ninin deh.