Jumat, 27 Agustus 2010

Rubah Misterius

Setahun yang lalu aku berburu. Mencari seekor rubah yang entah pernah terlihat di taman seberang sungai atau hanya di pojokan mimpi. Rubah yang terlalu misterius untuk ditinggalkan begitu saja di empat bulan pertemuan yang tak tentu. Kumulai pencarian ke taman seberang sungai dimana ia biasa muncul tiba-tiba. Kutanyai seekor burung yang sedang mencuri roti nyaris basi milik seorang gelandangan perihal si rubah misterius. Kabar yang kudapat darinya hanya lepehan roti yang ternyata bukan nyaris basi, tapi memang basi. Pantang menyerah kucari terus apapun kabar seputar rubah dari taman itu. Dari pohon beringin tua yang meneduhi pojokan taman, dari kupu-kupu manja yang ingin hinggap namun kembali terbang saat hendak dipotret, dari rumput harum yang terpaksa harus terinjak, dari cacing tanah yang bermunculan sehabis hujan. Dari semua itu, tak juga kudapati sedikit pun kisah tentang rubah. Pencarianku hari itu terhenti oleh lelah dan cuaca yang akan kembali hujan.

Aku berjalan ke sisi beringin tempat kuikat sepedaku pada tiang lampu taman. Sebelum kulepas sepedaku dari tiang lampu, kuputuskan untuk bertanya pada lampu taman yang baru menyala tanpa berharap terlalu banyak. Telinga yang tak kupasang begitu tajam pun tidak langsung kupercaya ketika kudengar si lampu berkata, “Oh rubah yang berkakakan seekor kucing itu!”. Kuminta lampu mengulangi jawabannya dan masih kalimat yang sama. Kugali terus kabar apa pun tentang si rubah namun tak ada lagi yang diketahui si lampu. Setelah berterimakasih, aku pun segera mengayuh sepeda menuju rumah, lebih tepatnya menuju kasur untuk segera terlelap. Pencarian berikutnya segera dimulai: di pojokan mimpi.

Kumulai tidurku dengan begitu semangat. Adakah tidur yang dimulai dengan semangat? Setahuku semangat biasanya membuat orang tak dapat tidur. Benar saja! Semalaman aku tak tidur. Sehingga aku tak dapat sampai ke pojokan mimpi dimana kurasa mungkin rubah misterius tinggal di sana. Malam berikutnya, tak mungkin aku tak dapat tidur setelah semalaman penuh mata ini melotot. Terlelaplah aku sampai di siang hari berikutnya. Tak ada apa pun yang kutemukan di pojokan mimpi, di berandanya pun tak ada. Yang muncul di mimpiku hanya adegan si lampu yang berulang-ulang mengatakan “Oh rubah yang berkakakan seekor kucing itu!”. Ini membuatku semakin yakin memang si rubah tidak pernah hadir di mimpiku. Ia memang benar-benar nyata ada di taman seberang sungai.

Keesokan paginya kumulai lagi pencarian ke taman. Kuulangi ritual baruku ini selama empat bulan. Kabar yang kudapat tak pernah utuh. Seperti puzzle butut yang kepingan-kepingannya alih-alih melengkapi, malah semakin membingungkan dan misterius. Selama empat bulan itu juga aku tersihir oleh kepingan puzzle tentang si rubah yang semakin membuatku terpesona. Pencarianku akan si rubah pun mengantarkanku pada pencarian akan kakaknya, si kucing. Kebetulan si kucing lebih sering muncul dan berkeliaran di sekitar gang yang dipenuhi warung makan. Mempermudah pencarianku. Ketika kutemui si kucing sedang asik melahap makanan mewahnya di warung masakan padang. Kabar yang kudapat dari si kucing pun tak begitu dapat diandalkan. Sudah lama juga ia tak berjumpa dengan si rubah, adiknya. Payah.

Frustasi, taman seberang sungai itu digusur! Empat bulan pencarianku terhenti dan rasa ingin tahuku terkubur oleh waktu bersama-sama dengan pondasi-pondasi mall yang terpancang dengan pongahnya di bekas taman itu. Perasaanku saat itu lebih tepat disebut jemu daripada kecewa. Bukan jemu pada pencarian, namun pada kegagalan. Aku selalu yakin setelah aku gagal mencari, saat itulah pencarian baru akan kumulai kembali. Saat itu pula, episode perburuan si rubah misterius telah sampai pada adegan terakhir.

Kupikir begitu, awalnya.

***

Selain taman di seberang sungai, ada taman lain di kota. Taman ini terletak di tengah kota. Tak seperti taman di seberang sungai, taman ini lebih pantas disebut pasar kue. Setiap hari berjejer para pedagang yang menjajakan berbagai jenis kue di seputar taman. Singkatnya, taman itu terlalu ramai. Jauh lebih ramai daripada taman di seberang sungai dahulu. Enam bulan sekali di taman pasar kue diadakan festival. Festival penyambutan penduduk baru sekaligus pesta selamat tinggal penduduk yang pindah ke kota lain.

Tahun ini aku akan pindah. Keluar dari kota ini menuju kota lain yang lebih besar dan lebih ramai. Festival pun diadakan, perut laparku tak tertahankan sambil memilih kue yang hendak kubeli. Kue basah, kue kering, sampai es buah. Wajar saja jika pasar kue ini tak pernah mati, kue-kue yang dijual di sini tak ada yang tak lezat. Kue basah kulahap tanpa ampun sambil bercengkerama dengan sesama penduduk kota yang juga akan pindah. Berlanjut ke kue kering rasa kelapa yang tak ada duanya. Di tengah kunyahan-kunyahan khusyuk tersebut, melintas sekelibat sosok kecil, sangat kecil. Bukan manusia. Ketukan jantungku meningkat. Kue kering kelapa tak lagi nikmat. Untuk kedua kalinya aku terpikat. Rubah misterius muncul kembali setelah setahun tak hadir, bahkan tak juga dalam mimpi atau sekedar pikiranku. Rubah misterius kembali hadir dan tetap sekelibat tanpa ampun atau pun memberiku jeda untuk sekedar mendekatinya dan melihatnya lebih lekat.

Setelah hari itu, pencarianku kembali dimulai. Jejaknya semakin sulit kucari. Tak ada tanda, tak ada papan petunjuk, tak juga ada lampu merah yang akan menyala dan memperingatkanku untuk berhenti mencari. Tak ada cara lagi untuk mencari dan menemui si rubah misterius karena aku harus segera pindah dari kota ini. Tak ada satupun jalan yang memungkinkan. Satu-satunya yang kulakukan hanya menjaga ingatan visualku tentangnya. Untunglah aku sempat mendapatkan potretnya walau tak sejelas kemungkinan bahwa aku takkan pernah lagi melihatnya.


Bogor, 270810, 22.30 WIB

Tidak ada komentar: