Minggu, 04 Juli 2010

Yang Baru Masalah Baru

Kelahiran hal baru akan selalu sepaket dengan masalah baru juga. Paling tidak menurut saya begitu. Jelas teknologi komunikasi sekarang sudah menjadi salah satu kebutuhan primer. Potongan kue pie yang kini ukurannya sudah berubah dan bertambah. Misalnya dulu jaman kakak saya kuliah, punya HP itu bukan hal penting. Mungkin baru 10% mahasiswa yang pake HP, itu pun mungkin bawa punya bapaknya atau ibunya yang lagi nggak dipake hari itu. Tapi sekarang? Mahasiswa yang nggak punya HP seperti mahasiswa yang nggak pake alas kaki. Begitu pun laptop. Jaman saya baru masuk kuliah, yang bawa laptop ke kampus sangat jarang. Kalau pun ada, yah paling kalau emang bener-bener ada tugas yang mendesak dan sebagainya. Tapi sekarang, laptop seperti buku catatan yang umum ditenteng mahasiswa. Ya, jaman bergeser. Pola hidup ikut-ikutan geser seperti orang di angkot yang juga ikutan geser jika orang sebelahnya geser.

Yang saya maksud dengan kalimat di awal tulisan ini adalah sebenarnya masalah-masalah dulunya tidak pernah ada sekarang menjadi ada seiring perkembangan dan penemuan-penemuan terbaru. Balik lagi ke HP. Jaman dulu, kalau orang janjian misalnya. Nggak mungkin tempat janjian berubah-ubah. Misalnya janjian di depan halte warna biru jam 10. Walaupun masalah ngaret tetep ada, tapi konsep 'janjian' merupakan sebuah konsep yang sangat sederhana: "Lo dateng, gua dateng". Ketika ada yang tidak datang, berarti ada masalah besar biasanya. Tapi setelah HP menjadi satu identitas juga, konsep ‘janjian’ menjadi lebih cair. Bisa saja orang yang janjian dengan anda tiba-tiba mengirim SMS “Sori, nggak jadi datang, tiba-tiba nggak enak badan” atau orang yang sudah menunggu bilang lewat telpon “Gw tunggu di warung seberang yah”. Tempat janjian bisa diubah karena bisa segera mengabari. Jadi kini, ketika seseorang tidak ber-HP, menjadi agak bermasalah. Susah mengabari, janjian tidak fleksibel. Padahal masalah-masalah ini tidak ada sebelum HP juga ada atau lebih tepatnya menjadi sebuah identitas primer juga.

Laptop. Dulu mahasiswa cukup berpuas diri mengerjakan tugas ketak-ketik dengan PC di rumah atau rental. Paling tidak sesampai kampus, tugas sudah pasti selesai. Sekarang? Mungkin beberapa menit sebelum kelas mulai tugas masih diketik di laptop di depan kelas.

Jejaring sosial. Facebook dan Twitter. Sebelum Facebook seramai sekarang dan kicauan Twitter seberisik ini, orang tidak begitu bermasalah tanpa tahu status orang lain ataupun memberi tahu status dirinya. Tapi kini, sehari saja tidak membuka rentetan akun-akun di jejaring sosial seperti belum makan dengan nasi. Lagi-lagi masalah itu tidak pernah terlintas dan tidak pernah menjadi masalah jika tidak terpenuhi, dulunya. Baiklah, sudah umum memang hal-hal baru akan selalu menggeser pola-pola yang ada sebelumnya. Tapi kadang rasanya, saya ingin menjadi mahasiswa di jaman kakak saya yang tidak perlu membawa-bawa HP ataupun serbatahu tentang yang dikerjakan teman-temannya ketika tidak sedang bersama-sama di kampus. Tapi toh, kini sekarang saya akan sangat bermasalah jika HP tidak ada dan seperti ada yang kurang jika tidak sesekali mengintip kicauan kawan-kawan di Twitter. Jadi sebenarnya kalimat “kelahiran hal baru akan selalu sepaket dengan masalah baru juga” menjadi kurang begitu tepat, tapi saya suka dengan kalimat itu. Jadi maaf jika tulisan ini tidak memberi pencerahan apa pun. Karena memang bukan itu tujuannya.

6 komentar:

ghina mengatakan...

setuju banget, sama seperti fleksibelnya komunikasi, orang juga jadi lebih fleksibel (in negatif way) dalam ngubah waktu janjian. sigh!!!

pawartos jawa mengatakan...

Eh si kresna ampe sekarang ga mau tu bikin fb n twitter..

Penari Jari mengatakan...

@ghina: waktu jadi lebih melar yah
@pawartos jawa: iyah tuh hebat juga dia

Ramadhona Saville mengatakan...

far pandangan yg sangat menarik!apalagi tentang janjian
jejaring sosial,saya juga tidak sebegitu sering membukanya,hehe

Penari Jari mengatakan...

@ramadhona: hihiii thx, don. emang ga usah sering-sering deh biar sehar :p

Tulus Ciptadi mengatakan...

insight yang menarik.
tp tergantung sudut pandang sih.