Minggu, 18 April 2010

Telan Ludah

Café macam apa ini!
Minumanya tak pernah sampai
Gelasnya sering kosong
Kalaupun berisi, retak atau pecah di bibirnya
Berdarah bibirku jika kuminum

Seorang pelayan dari café sebelah menyelinap perlahan
Menyodorkan buku menu diam-diam
Ssttttt, jangan sampai ketahuan”, dia berbisik
Minuman-minumannya menggoda jika kurang pas kubilang menarik
Seolah teriak “fuck me” pada tenggorokanku yang sekering jemuran di sore hari
Minuman-minuman tanpa gelas
Aneka rasa, aneka jenis
Cukup pejamkan matamu
dan telan ludahmu

1 komentar:

Anonim mengatakan...

"umpan"

kaki kami disilangkan
kopi hitam yang dipesan memantulkan keremangan
sekali lagi, bibir menutupi otak yang kelimpungan

kita baru bertemu 3 kali
entah kenapa aku ingin membuatnya berkali-kali
waktu aku sodorkan ramalan cuaca hari ini, kamu hanya tertawa geli
jujur saja membuat aku sedikit keki

pertama kali kita ketemu di tukang sepatu
berkenalan lewat sepatu biru

lalu, kusadari kamu memandang orang itu
seseorang yang berasal dari masa laluku

tiba-tiba wajahmu pucat
kubilang ia salah satu teman satu tingkat
matamu mulai penuh minat
waktu kubilang kami pernah berbagi cerita walau tak tamat

kamu makin tertarik
kuangkat tangan pesan secangkir teh tarik
kurasa malam ini akan semakin menarik

ya, aku tahu kini umpanku
tak ada salahnya aku sedikit obral masa lalu....