Kamis, 29 April 2010

Tak Perlu Membunuh

Ternyata dia sudah lama mati jauh sebelum aku berniat membunuhnya. Sebelum aku memutuskan untuk menebas lehernya dengan pedang atau menembak saja dada kirinya dengan senapan. Sebelum aku memutuskan untuk menguburkannya sendiri di belakang sekolah lamaku atau menghanyutkannya di sungai pinggiran kota waktu dini hari. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa dia memang telah pensiun hidup, lama. Mayatnya tidak dikubur atau hanyut di sungai, tapi dibakar lalu mengabu dan mengasap. Terkadang aku masih bicara dengannya seolah-olah ia masih hidup. Padahal saat itu mungkin jenazahnya sudah habis terbakar dan abunya tersebar di kali-kali penuh sampah dan abunya menguap di udara sesak karbonmonoksida. Banyak orang yang lupa kalau dia pernah hidup. Mungkin mereka hanya pura-pura lupa. Atau memang dia tak pernah dianggap hidup. Atau lebih tololnya, memang dia tak pernah hidup. Mungkin dia hanya rekaan benang-benang imajiku yang menjelma dan memanipulasi kewarasanku sendiri. Mereka mungkin hanya pura-pura percaya saat aku menceritakan tentangnya. Mendengarkan sambil senyum-senyum nakal, padahal hati mereka penuh sangkal. Mungkin tak sampai dalam hati, cuma sampai daun telinga untuk kemudian dengan rapi dihapus perlahan dengan bersih dari otak mereka. Memindahkan cerita yang dengan susah payah kubagi ke recycle bin, memuntahkannya ke kloset-kloset, mematikan puntungnya di asbak-asbak, membuang air sisa rebusannya ke selokan, menyapu daki-dakinya ke tempat sampah, mengalirkan limbahnya ke sungai yang digunakan orang sekitar untuk mandi-cuci-kakus. Hingga kini pun mereka selalu bertingkah seperti dia tak pernah hidup. Atau memang tak ada. Atau kewarasanku yang mulai menyublim diam-diam. Sehingga tak sanggup aku mengajak mereka untuk sedikit berkabung. Tak ada yang bisa kuajak berziarah. Jika tahu ini akan terjadi, aku sudah membunuhnya jauh sebelum ia lahir, atau paling tidak, sebelum menceritakannya kepada mereka. Dengan begitu, aku tak perlu berziarah seorang diri sambil diteriaki Radiohead seperti sekarang. Maaf, aku tak pilih lagu-lagu Jamiroquai. Sebenarnya memang aku tak pernah tahu cara berkabung.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

masalahnya adalah karena sebenarnya dia tidak pernah merupakan diri sebagai masalah .ia selalu sangat pelan ataupun berlalu begitu hambar sampai kamu mau coba menyaringnnya di saringan mikro....

Ramadhona Saville mengatakan...

fan,beraaaaat

Penari Jari mengatakan...

@anonim: haha komen menarik :)
@ramadhona: badan gw mksd lo?? sial! :p