Senin, 12 April 2010

Diskotek Dua Ribuan

Sedak-seduk terdengar tidak lebih dari satu meter. Macam suara yang tidak hanya terasa di telinga tapi juga jantung. Mungkin kamu tahu bass yang terlampau tinggi, musik tidak lagi penting selama mampu menampar-nampar dada. Perlahan masuki kotak roti tawar raksasa. Lampu kerlap-kerlip menyambut. Biru, lalu hijau, biru lagi, hijau lagi. Yang kecil-kecil lebih beragam: merah, ungu, kuning. Udara malam seolah meneriaki untuk segera sampai rumah dan menarik selimut sambil memeluk guling menghadap sebelah kanan dan masuki studio satu bioskop bawah sadar. Lagu berganti. Tanpa lirik pasti. Hanya dug stak dug stak, bedebum-debum, ting ting ting yang diulang-ulang. Beberapa botol minuman terpajang rapi. Dua di belakang berbeling hijau. Tiga di depan merah, biru, hijau. Sepertinya bukan untuk diminum atau dijual, hanya pajangan. Ada yang masuk lagi setelah sebelumnya ada yang keluar. Masih bedebum-debum. Ketika sampai pada saatnya giliranku untuk keluar dari kapsul jedag-jedug-kelap-kelip sambil mengulurkan lima ribu rupiahan berkata “Satu, Bang!”, lalu mengambil kembaliannya tiga lembar rupiah Kapitan Pattimura. Akhirnya aku pun menyeberangi jalan menuju rumah sambil tersenyum meninggalkan roda empat hijau terang bernomer 13.

2 komentar:

nininditya mengatakan...

keren cun! angkot bogor emang gak ada duanya deh (eh ini di bogor kan?)

Penari Jari mengatakan...

haha iyah nin, angkot bogor.
dahsyat nin emg, apalagi bagian botol2nya.