Senin, 08 Maret 2010

Menghapus Label Tebal Di Luar Kotak

Minggu lalu saya menonton My Name is Khan. Ada satu kalimat yang tampaknya menjadi pesan utama di film itu. Kira-kira seperti ini: "There are two different peoples, a bad people and good people".

Kutipan tersebut membekas di pikiran saya. "Bener banget!", pikir saya. Kalimat tersebut meruntuhkan kotak-kotak yang ada. Kotak-kotak yang dibuat manusia sendiri untuk melabeli manusia lain dan dirinya sendiri. Mulai ras, agama, bangsa, juga segala isme-isme dari yang megah sampai yang dicemooh. Contoh paling sederhana adalah siapa pun yang membunuh anak kecil tak bersalah dengan sengaja, dia adalah orang jahat. Tak peduli Islam atau Nasrani, kulit putih atau berwarna, sosialis atau kapitalis. Hanya satu label: bad people. Begitu pun sebaliknya.

Nyatanya selama ini kebanyakan dari kita terjebak. Terjebak dalam kotak-kotak tadi. Terjebak pada label ber-font tebal di permukaan kotak-kotak tersebut. Ada yang merasa kotaknya paling hebat, sedangkan kotak-kotak lainnya tidak lebih pantas dari kotaknya. Tidak mau mengintip keadaan sebenarnya di kotak-kotak lain. Cuma puas pada label yang ada di permukaannya dan berkicau-kicau sampah seolah paling tahu tentang suatu kotak. Menyerah pada stigma. Menyedihkan.

Lompat pada pengalaman saya minggu lalu berbincang dengan seorang teman. Ia mengaku tidak lagi menyukai seorang musisi karena ternyata si musisi tersebut seorang gay. Pernyataan dengan kalimat-kalimat yang cukup tegas tersebut awalnya berusaha saya acuhkan, nyatanya memancing lidah usil saya untuk berkomentar. Ada satu kalimat spontan yang jelas saya ingat keluar dari mulutnya ketika saya berkomentar bahwa ia seorang homophobia yang berpikiran sempit, ia bilang "kalo perlu dibakar sih dibakar orang kayak gitu (maksudnya gay)!". Jujur saya agak kecewa, atau mungkin saya yang berharap terlalu tinggi terhadap si teman tersebut yang saya anggap cukup cerdas. Ia menjalankan agamanya dengan baik, cukup baik di antara teman-teman lainnya, dan yang paling ironis adalah jurusan kuliahnya yang pasti mempelajari tentang homoseksualitas (hmm kira-kira jurusan apa yah). Saya tidak bermaksud menyerang teman saya tersebut, apalagi ia salah satu teman baik saya. Pikiran saya saat itu adalah tidak ada hubungannya orientasi seksual seseorang dengan kualitas musiknya dan kita tidak berhak sama sekali membenci seseorang hanya karena ia gay. Jika ia memiliki keyakinan bahwa menjadi gay bukan hal yang baik, tetap saja ia tidak berhak untuk membenci.

Mana yang lebih baik: seorang heteroseksual yang korupsi dan seorang gay yang membuat sekolah-sekolah untuk desa miskin? Jika Anda masih menjawab pilihan pertama, semoga anak Anda kelak seorang heteroseksual.

..dan semoga kita tidak menjadi orang angkuh dalam kotak yang menyerah pada tulisan tebal di luar kotak-kotak orang lain. Sehingga sebelum menilai seseorang, kita mau berendah hati menghapus label-label tebal di luar kotak dan melihat dengan kepala terbuka. Karena seperti yang dikatakan ibu Rizvan Khan dalam film My Name is Khan, "There are two different peoples, a bad people and good people".

4 komentar:

mas awe mengatakan...

wah ntar sore rencananya gw mo nonton my name is khan fan,,
"Sehingga sebelum menilai seseorang, kita mau berendah hati menghapus label-label tebal di luar kotak dan melihat dengan kepala terbuka" nice..

Penari Jari mengatakan...

gmana we udah nontonnya?
hehee, makasih :D

mas awe mengatakan...

udah fan, lg demem india nih kemarenan jg nonton 3 Idiots..

My name is Awe, I'm not a terrorist..xp
btw lagu we shall overcome yg di wilhemina keren, jd inget waktu sarasehan fisip pernah diajarin lagunya.. mantap dah pilemnya..

dinikopi mengatakan...

waah bene banget..
gw sedang menjalani hidup dg prinsip NO LABELLING
tapi masih belajar, cuz terkadang langsung otomatis meng-underestimate-kan sebuah label, maklum, sudah mendarah daging rupanya budaya ini di masyarakat, termasuk saya korbannya :)