Rabu, 06 Januari 2010

I Need A Slap on My Face

Manusia biasanya merasa benar. Saya manusia. Saya rasa saya benar.
Manusia bisa salah. Saya manusia. Saya bisa salah.

Yang menjadi pertanyaan adalah siapkah kau dikritik oleh orang lain?
Saya tidak siap, dulunya. Sekarang saya sudah siap, semoga. Walaupun kadang gendek, tapi kritikan bagaikan vaksin imunisasi yang agak sakit saat disuntikkan namun berguna di kala mendatang. Selama 2009-an kemarin saya cukup belajar tentang hal itu. Mulai dari tulisan saya yang dirombak total dan harus tulis ulang, pemikiran-pemikiran saya yang selama ini ternyata masih sesempit kakus, sampai debat-debatan bersama kawan. Inilah yang membuat saya mulai belajar mengunyah dengan nikmat saat orang menuding saya salah, entah dengan langsung bilang 'salah' atau pun dengan menyatakan pendapat yang menentang pendapat dan perbuatan saya. Entah saya yang memang salah atau dia yang lebih salah.

Masalah debat, saya memang salah satu orang yang suka debat-debatan (tapi saya tidak jago debat, cuma suka saja panas-panasan, haha). Dari kecil sepertinya kebiasaan 'buruk' ini sudah tumbuh. Seperti sering bertanya ini itu dan sering nyela ini itu. Setelah saya pikir-pikir, tujuan saya mendebat adalah karena saya tidak merasa satu pendapat atau bingung dan si orang itu membuka peluang untuk berdebat. Kalo saya tidak sependapat saja titik, masalah pun berakhir pada urusan toleransi. Tapi ketika si orang itu membuka peluang, dan kadang saya juga memulainya, maka jadilah.

Di sini lagi-lagi saya belajar masalah 'salah'. Karena debat di sini bukan layaknya debat yang ada di lomba-lomba itu, dimana kita harus mempertahankan pendapat saja titik, tapi tidak sampai pada masalah pemuaian. Peleburan. Yang ada hanya menang dan kalah. Siapa yang terlihat lebih yakin dan siapa yang tidak. Siapa yang terlihat lebih rasional dan siapa yang tidak. Siapa yang bermuntah-muntahan argumen siapa yang hanya ngeces. Siapa yang alfa dan yang bukan. Di lomba debat tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Tidak pula seperti debat-debat di ruang dewan perwakilan kita. Karena jika debat di sana memang mencari mana benar atau salah, saya rasa tak mungkin Camry-nya menteri-menteri lolos 'disulap' jadi Royal Saloon.

Sedangkan debat yang saya maksud mungkin tidak semewah yang kau bayangkan. Tampak seperti obrol-obrol biasa. Tapi justru di sini tempat saya harus siap menerima ketika saya memang salah. Bukan siapa yang paling menor argumennya. Bukan pula siapa yang paling dewa bahasanya. Karena saya butuh sebuah tamparan.
Yes, I need a slap on my face.


Bagaimana dengan kamu?

4 komentar:

raisaraisa mengatakan...

hahaha.. tau bgt gw yg kaya begitu..
kalo gw misalnya debat sm org sambil ngobrol2 gt suka liat2 orngnya pan, kalo dianya ngotot tp ngeselin ya gw lawan hehehe..
tp kalo dianya ngotot tp pas didenger2in punya pegangan teori yg jelas ya.. bisa jadi a slap on my face jg sih.. ujungnya? ya toleransi bener.. kan sm 'temen'

Ramadhona Saville mengatakan...

saya juga suka debat debat fan
sama kaya mba diatas saya itu*hehe.debat tergantung dengan siapanya

Febi Purnamasari mengatakan...

saya juga suka 'panas-panasan' hahahah

Penari Jari mengatakan...

@raisa+rama: suit suittt, hehe yess sama yah kita

@febi: nah kan, ntar item loh kayak saya