Kamis, 09 Desember 2010

Dua Ribu Sepuluh

Dua ribu sepuluh

Inilah jaman di mana wajahmu dibukukan

Manusia mengalahkan burung

"Siapa bilang cuma burung yang bisa berkicau?"

Masihkan kau butuh tv untuk mengartis

Di abad saat kau bisa bernyanyi berlaga lewat tabungmu

"Like like like", bimsalabim jadi arteysss prok prok prok!

Dua ribu sepuluh

Mungkin astronot tidak lagi mengejar planet-planet

Terlalu banyak planet yang sudah ditemukan

Overload di tasnya*

Dua ribu sepuluh

Dilaporkan....

Planet-planet yang mengejar astronot**



* & ** terinspirasi dari gambar ini dari sini


Selasa, 30 November 2010

Reuni 7 Kawan Lama

Intinya adalah iseng gila gila gila gilaan. Sudah sekitar 1 tahun punya mainan ini, namanya pontiki (nggak yakin tulisannya bener kayak gini, semacam potatohead gitu). Dulu diajak beli sama anak ini, haha... iseng banget jaman pusing-pusingnya sama tugas kuliah malah coba-coba narik diri dan kembali menjadi anak-anak. Masing-masing mainan kami kasih nama dan jenis kelamin. Nah, tadi sore tiba-tiba kepikiran buat maenin lagi dan sekalian gonta-ganti bentuknya terus dikasih nama sama karakter. Juga sekalian jepret-jepret.

Inilah 7 karakter hasil kesuperisengan yang kurang sesuai usia.


1. Freddie Khan
Nama: Freddie Khan
Keturunan: Persia-Bangladesh
Karakter: Angkuh, cerdas, cerewet, penolong
Pekerjaan: Pencuri, penyanyi, penulis
Hobi: Main musik, bergosip, malas-malasan
Trivia: Sangat menyukai dan sering melontarkan kalimat "You are just like me, so pulrchitudinous!"



2. Toru Kusumah
Nama: Toru Kusumah
Keturunan: Sunda-Jepang
Karakter: Pendiam, introvert, sabar
Pekerjaan: Koki, pelayan, atlet
Hobi: Membaca, jalan-jalan, masak
Trivia: Sewaktu kecil ingin menjadi tentara, namun karena pernah kecelakaan keinginannya diurungkan



3. Peeta Bu Lath

Nama: Peeta Bu Lath
Keturunan: Swedia-Vietnam
Karakter: Pemberani, ramah, plinplan, agak licik
Pekerjaan: Dokter hewan
Hobi: Naik gunung, bersepeda
Trivia: Selalu menangis jika menyaksikan hewan apapun mati



4. Sri
Nama: Sri
Keturunan: Jawa
Karakter: Pekerja keras, pemalu, keras kepala
Pekerjaan: Petani
Hobi: Berenang, menari
Trivia: Ingin memiliki sanggar tari suatu hari nanti



5. Cleo "The Sorrow"

Nama: Cleo "The Sorrow"
Keturunan: Mesir-Eropa
Karakter: Sendu, perenung, sensitif
Pekerjaan: Pemadam kebakaran
Hobi: Meramal, melamun, mengobrol
Trivia: Meskipun pekerjaannya pemadam kebakaran, sebenarnya ia sangat kaya raya berkat warisan keluarganya yang tak habis-habis



6. Andi Morona

Nama: Andi Morona
Keturunan: Makasar-Filipina
Karakter: Lucu, lambat, penolong, ceroboh
Pekerjaan: Pedagang minyak wangi
Hobi: Menonton, sepakbola
Trivia: Tidak pernah mengetahui siapa ayah dan ibunya



7. Satumata Wayne

Nama: Satumata Wayne
Keturunan: Bali-Indian
Karakter: Kharismatik, tegas, cuek
Pekerjaan: Pemilik rumah makan, pelukis
Hobi: Mendongeng, main kartu
Trivia: Dulunya polisi, namun berhenti karena kecelakaan yang menyebabkan mata kanannya hilang

Rabu, 10 November 2010

Memburu Apostrophe

Dia memburu apostrophe
Supaya Jumat
Menjadi Jum'at
Senyumnya terselip di sudut apostrophe
Dia berbisik
Kamu adalah you're
Bukan your
Kali ini tak ada senyum terselip
Kedua matanya kontraksi
Ada yang ia tangisi
Merah-kuning-hijau
Air matanya pelangi*
Tangisannya tak butuh apostrophe
Selagi apostrophe bersengketa
Mari berpesta


*terinspirasi dari lukisan ini dari sini

Jumat, 05 November 2010

Kusut

Ada perbedaan supertipis antara menerima dan meyakinkan. Antara menerima kenyataan dan meyakinkan diri. Begitu tipisnya sampai saya sendiri kerap rancu mana yang sedang saya lakukan. Ketika badan saya terlalu lelah bertani (misalnya saya petani), lantas sakit karena kurang istirahat. Saya tetap meyakinkan diri bahwa saya sehat. Saya hanya meyakinkan diri bahwa saya baik-baik saja dan tetap pergi ke sawah untuk menanam padi. Saat keadaan semakin parah, akhirnya saya pun menerima kenyataan bahwa saya memang sakit karena toh tubuh saya pun sudah tidak mampu lagi bangun dari tempat tidur. Itu cuma satu contoh. Contoh termudah. Garis perbedaannya masih cukup tebal.

Sementara untuk beberapa keadaan lainnya, garis perbedaan ini semakin tipis. Setipis perbedaan lelah dan menyerah. Semirip Katy Perry dan Zoey Deschanel. Mirip tapi beda. Meskipun mirip, Katy kerap disandingkan dengan kata ‘naughty’, sedangkan Zoey lebih sering disebut ‘cute’. Kemiripan wajah antara keduanya dibedakan oleh perbedaan gaya berpakaian dan sikap. Begitu pun perbedaan antara ‘menerima kenyataan’ dan ‘meyakinkan diri’. Menerima kenyataan dan meyakinkan diri mempunyai perbedaan rasa, nilai, fungsi, konteks, dan hasil. Lagi-lagi ini cuma menurut saya.

Kasus lain misalnya. Saya tidak bisa mengerjakan soal-soal trigonometri. Lalu saya pun meyakinkan diri bahwa saya bisa mengerjakan trigonometri. Ini sah-sah saja. Semacam self-motivation. Lalu saya pun belajar mati-matian dengan keyakinan penuh bahwa saya pasti mampu menaklukan soal-soal sin-cos-tangen ini. Namun setelah mati-matian tadi, saya ternyata tetap tidak mampu beramah-tamah dengan trigonometri. Nah, jika saya tetap meyakinkan diri bahwa saya bisa mengerjakan trigonometri, ini bodoh. Yang paling layak dilakukan adalah menerima kenyataan bahwa otak saya memang tidak ramah terhadap soal-soal ini. Tahap terbijak selanjutnya adalah dengan mencari soal yang mampu saya kerjakan dan fokus di sana.

Jadi, menerima itu induktif, sedangkan meyakinkan itu deduktif. Menerima itu akibat, meyakinkan itu sebab. Menerima itu adalah hasil dari fakta-fakta yang telah ada. Meyakinkan itu awal dari yang mungkin (akan) terjadi. Karena saya meyakinkan diri bahwa saya pasti bisa trigonometri, maka saya pun belajar mati-matian. Setalah belajar mati-matian, mungkin saya memang akan bisa trigonometri seperti yang telah saya yakini di awal. Namun, jika tetap tidak bisa, maka saya pun menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa trigonometri.

Polanya mungkin seperti ini:

Menerima: pukul sembilan malam, makan terakhir saya pukul delapan pagi -> oleh karena itu, saya lapar.

Meyakinkan: saya tidak lapar -> karena meskipun saya tidak makan siang, saya makan satu piring penuh saat sarapan.

Jika dari uraian sok tahu di atas, menerima kenyataan lebih bersifat positif. Beralasan. Sedangkan meyakinkan diri lebih terkesan memaksa. Walaupun kondisinya bisa berbalik. Misalnya, menerima kenyataan bisa dikesankan dengan terlalu pasrah dan tidak berusaha. Sementara meyakinkan diri, seperti pada contoh trigonometri di atas, bisa menjadi self-motivation yang baik, jika kondisinya memang pas.

Semoga uraian pendapat saya mengenai perbedaan ini tidak terlalu kusut. Tulisan ini pun memang bukan kajian bahasa, tanpa data atau referensi. Hanya sekelibat pandangan di sela-sela kerancuan dan keraguan saya terhadap apa yang sedang saya lakukan saat ini. Apakah saya sedang menerima kenyataan atau hanya sedang meyakinkan diri. Entah. Sebelum tulisan ini semakin kusut lagi, di bawah ini saya salin dari Kamus Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008.

menerima v 1 menyambut; mengambil (mendapat, menampung, dsb) sesuatu yg diberikan, dikirimkan, dsb; 2 mengesahkan; membenarkan; menyutujui 3 mendapat atau menderita sesuatu

meyakinkan 1 v menyaksikan supaya yakin; memastikan; 2 v menjadikan (menyebabkan) yakin; 3 v melakukan sesuatu dgn sungguh-sungguh

Kamis, 04 November 2010

Sujud Berbayar

Empat kali tiga ditambah tiga ditambah dua

Tujuh belas dikali dua

Tiga puluh empat

Kening bertemu bumi

Tiga puluh empat kali

Maaf, ini bukan sujud berbayar

Senin, 25 Oktober 2010

Mesin Waktu Kumpulan Kata

Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang akan menemukan banyak hal tak terduga saat bebenah kamar. Dari barang-barang lama tak terpakai sampai barang yang hilang kala dibutuhkan namun seperti meledek dan muncul begitu saja ketika tak lagi dicari. Baru-baru ini saya membongkar lemari plastik di pojok kamar. Awalnya untuk mencari barang penting, tapi barang lama saat itu jauh lebih menggoda. Menggoda karena barang yang saya temukan kali ini adalah tulisan-tulisan lama saya, kira-kira dari tahun 2005 sampai tahun 2008 (pertengahan SMA-pertengahan kuliah). Menggoda sekaligus menakutkan. Menggoda untuk dibaca kembali, melihat lagi apa isi pikiran saya sepanjang waktu tersebut, kejadian-kejadian apa saja yang terjadi sampai perlu saya tulis, hal-hal yang saya suka saat itu, daftar-daftar keinginan, dan tulisan tidak jelas lainnya. Menakutkan karena biasanya saya akan jijik jika membaca ulang tulisan-tulisan lama. Bahkan yang lamanya baru setahun saja terkadang ketika dibaca kembali akan membuat saya berpikir apa yang ada di kepala saya sampai-sampai saya menuliskan hal itu. Tulisan-tulisan tersebut kebanyakan berbentuk tulisan harian (walaupun saya tidak menulis setiap hari), tidak jauh berbeda dengan tulisan di blog, cuma memang lebih terbuka karena tidak diperuntukan untuk dibaca (yang baca cuma saya dan tuhan). Ini karena saya nulisnya di sembarang buku atau kertas. Saya tidak pernah punya buku harian (terakhir jaman SD), maka buku-buku pelajaran pun menjadi korban tulisan tangan saya yang hanya sedikit lebih jelas dari resep dokter. Bukan contoh yang baik.

Alih-alih kembali mencari barang penting, saya malah keterusan membaca si tulisan lama sambil ketawa dan menahan muntah sendiri. Meskipun begitu, tulisan-tulisan lama, seperti kata beberapa teman, merupakan sebuah rekaman perkembangan diri kita. Bagaimana perkembangan gaya tulisan serta cara pikir kita dari masa ke masa. Dan benar saja, ada pemikiran saya di beberapa tulisan yang bertolak belakang dengan apa yang ada di kepala saya di masa sekarang, di samping ada juga yang tidak berubah. Ini masih senada dengan tulisan saya sebelumnya mengenai puisi. Selain itu, tulisan lama juga bisa menjadi daftar keinginan yang bisa kita centang mana saja yang sudah tercapai, mana yang tidak, atau bahkan mana yang membuat kita berpikir “Serius LO dulu pengen itu!!?”. Di salah satu tulisan lama bertahun 2005, saya menuliskan betapa inginnya saya lolos SPMB (sekarang SNMPTN) dan masuk FISIP UI. Di situ saya menuliskan bahwa saya harus tembus SPMB (ya saya pakai kata ‘tembus’ saat itu) dan meyakinkan diri kalau saya pasti bisa (semacam motivasi diri sendiri yang nggak semahal motivasinya Mario Tegur). Entah tulisan tersebut punya andil atau tidak, saya pun tembus SPMB dan masuk jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UI. Lucunya, ketika baca ulang tulisan ini, saya baru saja diwisuda. Seperti baru kemarin saya menulis keinginan tersebut. Maka kalimat klise “waktu berjalan begitu cepat” pun tampak paling pas.

Selain itu, sebenarnya tulisan tersebut juga membuat saya merasa kehilangan. Kehilangan keinginan dan motivasi diri yang sekuat itu. Keinginan yang mampu saya tuliskan tanpa ragu-ragu dan menjadi salah satu bensin serta navigator mengenai apa yang harus saya lakukan kala itu. Mungkin karena saat itu saya masih ‘siswa’, tujuannya masih jelas dan sesempit ‘menjadi mahasiswa’. Kapal saya kala itu masih berjalan di sungai-sungai sempit, yang umumnya, bermuara ke laut. Sementara sekarang, saya sudah bukan mahasiswa lagi. Saya punya jauh lebih banyak pilihan jalan yang bisa saya lalui. Bisa dibilang, kapal saya saat ini sudah memasuki lautan nan luas dan punya banyak arah. Saya butuh bensin lebih banyak dan navigator yang jauh lebih canggih lagi. Saya-lima-tahun-yang-lalu berhasil membuat saya-yang-sekarang ini sedikit iri.

Kembali ke masalah tulisan lama. Setelah menertawai diri sendiri sambil menahan muntah, akhirnya ada sedikit sisi positif juga yang saya temukan. Paling tidak sejak tahun 2005 sampai sekarang, saya konsisten menulis. Meskipun tidak sesering itu. Tidak setiap hari, bahkan setiap minggu pun belum tentu. Jika ditarik lagi ke belakang, saya mulai menulis sejak jaman SD. Waktu SD, saya menulis di buku harian superkecil sampai menulisnya pun sulit saking kecilnya. Sementara isinya kebanyakan caci maki untuk teman yang menyebalkan atau perihal hari itu saya sudah main apa saja (ini penting saat itu!). Masuk SMP, hobi menulis tersingkirkan oleh terlalu banyaknya hal baru yang saya dapat kala itu. Baru mulai menulis lagi di kelas tiga SMP. Itu pun terhenti kembali ketika mulai memasuki SMA. Sampai akhirnya dimulai kembali saat kelas dua SMA dan (untungnya) masih konsisten sampai sekarang. Selama itu, saya tak pernah membiarkan siapa pun membaca tulisan saya. Satu alasan: M-A-L-U. Tulisan hanya tersimpan di selipan buku dan folder PC. Sampai pada akhirnya di tahun 2007, saya memberanikan diri membuat blog dan mengubur paksa si rasa malu.

Karena meski sering menjijikan, namun menyenangkan juga membaca tulisan lama. Seperti bermesin waktu. Walaupun tak secanggih mesin waktunya Doraemon.

Kamis, 07 Oktober 2010

Semoga Lupa

Kamu lupa?

Aroma buku-buku lapuk

Dengan kutu-kutu buku yang mendengkur

Kelelahan menyantapi kertas-kertas kuning yang sempat putih

Berbaris menjadi garis-garis

Rak-rak basi

Membentuk punggung naga besi, ah hanya di mimpiku!

Bab pertama

Aku muda, seperti sekarang

Hanya lebih muda

Kamu lupa?

Masa lalu seperti benih yang menyerahkan dirinya kepada tanah

Tanpa harapan apa pun untuk tumbuh atau berbuah

Tinta-tinta itu

Melantai di kertas-kertas sidu

Muntahan pena itu berevolusi

Menjadi titik-titik di layar

Dari VCD sampai DVD

Dari toko rental sampai kaki lima

Lagu adalah mesin waktu termerdu yang pernah aku gunakan

Lantas kelakar adalah mesin waktu terlucu yang pernah kaubawa

Hari-hari adalah ruang tunggu pasien di klinik jiwa sehat

Sementara malam hanya menjanjikan mimpi yang tak seberapa

….dan

Semoga kamu lupa

Rabu, 29 September 2010

Dokumentasi Rasa Dalam Diksi dan Spasi

Bagi saya, puisi itu seperti foto. Sama-sama mengabadikan. Bedanya, foto mengabadikan gambar dan momen, sementara puisi mengabadikan rasa. Perasaan seseorang ketika menuliskan puisi. Rasa itu bisa bahagia, marah, sedih, bosan, malu, protes, kalah, bangga, depresi, geli. Ketika kita melihat sebuah foto diri kita, memori tentang apa, dimana, bagaimana, siapa hadir kembali. Semacam pemanggilan kembali momen yang kita alami ketika foto itu diambil.

Tak jauh berbeda halnya dengan puisi. Puisi yang dibaca kembali oleh penulisnya akan kembali memanggil perasaan-perasaan yang dialami si penulis selagi memilih kata-kata, membariskannya, mempermainkannya, untuk lalu menghentikannya tiba-tiba atau pelan-pelan. Paling tidak buat saya begitu. Ketika saya membaca ulang puisi-puisi lama, akan kembali bermunculan kejadian yang mendorong saya menulisi puisi dan perasaan saya waktu menuliskannya. Jika saya membaca kembali puisi yang saya buat dalam perasaan sedih, maka akan kembali terbayang kesedihan seperti apa yang saya rasakan kala itu. Memori rasa itu seperti tersimpan dan terselip di antara diksi dan spasi. Saya pernah dengar dari seorang teman, ada seorang temannya yang bisa menganalisa alam bawah sadar si penulis dari tulisannya. Bahkan hal yang tidak disadari si penulis sendiri bisa dianalisa dari pemilihan kata yang ada. Keren!

Jadi puisi sifatnya sangat personal. Kalau teman saya bilang, puisi bentuk tulisan yang paling egois. Benar juga. Bolehlah ada puisi bertema sosial dan sebagainya, tapi toh tetap saja itu hasil interpretasi dirinya sendiri terhadap dunia sosialnya. Jadi menurut saya tetap personal. Lalu jika orang-orang berkata puisimu aneh, kacau, bodoh, polos, tidak indah, norak, dangkal, klise, atau picisan itu terserah. Itu kan pendapat mereka, bebas saja. Tapi jika seseorang memintamu mengubah puisimu, memintamu mendandani lagi puisimu karena menurutnya kurang menor dan tak mendapatkan perasaan ketika membacanya, nanti dulu. Sejauh ini saya bikin puisi bukan untuk menghasilkan efek tertentu pada yang membaca. Kalau kata seorang teman yang juga suka puisi, puisi tidak dibuat untuk memuaskan orang lain.

Egois? Memang. Tapi sejauh ini fungsi puisi buat saya yah itu. Mendokumentasikan rasa dalam diksi dan spasi.

Minggu, 26 September 2010

Mutilasi Kata

Aku menyimakmu

Bukan untuk mengerti

Tapi untuk memutilasi kata-katamu

Menjadi huruf-huruf, lalu garis-garis, lalu-titik-titik

Kemudian menguburkannya terpisah-pisah

Rabu, 22 September 2010

Nggak Pengen Bisa Juga

Suatu sore di sebuah percetakan digital daerah Cikini. Ada seorang bapak berbaju safari sedang mencetak flyers pertunjukan berbagai benda pustaka (berpetuah) yang sepertinya akan diadakan dekat-dekat ini. Kami berempat (saya dan teman saya yang juga sedang mencetak serta dua orang pekerja percetakan; laki-laki dan perempuan) sedang merapikan poster yang baru dicetak. Tiba-tiba si bapak-safari melakukan pertunjukan mini di depan kami dengan menekukan paku dengan kedua tangannya sampai melengkung dan meluruskannya kembali. Saya sih nggak terkesima, sudah sering lihat yang macam itu di televisi, bahkan yang lebih dari itu. Lagipula si bapak-safari memakai kedua tangan, jadi saya pikir cuma butuh mengerahkan tenaga lebih saja. Coba dia pakai satu tangan atau satu jari!

Kemudian setelah aksi singkat tersebut, si pekerja lelaki pun berkata, "Kalo pakunya dari kita, bisa nggak, Pak?". Kami berempat sedikit tertawa dalam hati (karena kurang berani tertawa depan si bapak-berpetuah). Si Bapak terdiam dengan muka tak enak tanda tersinggung. Sejenak kemudian melemparkan paku tadi ke arah meja kami berempat sambil berkata "Coba sendiri! Bisa nggak!!?". Oh ya, lemparannya cukup keras, nggak sopan. Si pekerja lelaki pun menahan tawa sambil memegang paku yang tampaknya memang normal-normal saja. Saya juga menahan tawa. Si bapak-safari tampak puas setengah emosi. Saya pun berbisik ke teman saya, "Nggak pengen bisa juga sih..". Lalu teman saya bilang, "Don't care yah!".

Minggu, 19 September 2010

Gadis Pagi

Nama aslinya Embun, sebutannya “Gadis Pagi”. Tentunya sebutan itu bukan karena dirinya hanya menggadis di pagi hari. Panggilan tersebut didapatnya sebab ia pasti akan tertidur sebelum malam tiba. Matanya akan menutup bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Seiring menyusup gantungnya matahari di barat, menyusup pula bola mata si Gadis Pagi. Selama delapan belas tahun hidupnya ia tak pernah menyaksikan malam. Baginya, malam hanyalah kata-kata yang didengarnya dari mulut orang lain, kalimat-kalimat yang dibacanya dari buku-buku, kisah-kisah romantis yang didendangkan para penyair, lirik-lirik yang dilagukan, lukisan-lukisan yang dipandangnya. Sederhananya, malam baginya adalah tidur. Dunianya adalah pagi-siang-sore. Selagi sore bergegas pamit, 1…2…3… tidurlah ia!

Bukan tanpa usaha orang tua si Gadis Pagi terhadap keadaan anak bungsunya. Puluhan tabib dari segala penjuru mata angin tak ada yang tak mengenal mereka dan si Gadis Pagi. Dari puluhan tabib tersebut tak ada yang mampu membuat mereka pulang dengan hasil berakhirnya kisah si Gadis Pagi. Embun tetap tak dapat melihat malam. Embun tak begitu mengenal gelap. Gelap baginya adalah mendung di pagi atau siang atau sore.

Gadis Pagi sering sedih. Ia begitu ingin melihat malam. Ia ingin menyaksikan yang orang-orang sebut bulan purnama, bulan sabit, bintang kejora, bintang jatuh, saling melukis dan berbangga diri menampilkan keindahan dan kekelamannya di layar pekat memikat, langit malam. Suara burung-burung hantu, krik-kriknya jangkrik, juga kelelawar. Gadis Pagi kerap menangis sebelum matahari tenggelam. Pernah suatu hari ia memaksa membuka matanya di senja hari. Berbagai cara dilakukannya, meminum kopi pekat, melotot, sampai menahan kelopak matanya dengan tongkat korek api. Lagi-lagi, tak ada satu cara pun yang berhasil. Tak ada cara yang mampu membuatnya mampu melihat, menikmati, atau sekadar melewati malam dengan tersadar.

***

Mereka menyebutnya Gadis Pagi, Embun nama aslinya. Setiap pagi hari ia akan memasang karton-karton putih yang sudah digunting bulat-bulat kecil, besar, juga sabit. Digantungnya karton-karton tadi di sudut-sudut jendela yang telah dilapisinya dengan kain hitam tebal. Sesekali ia tambahkan hasil lipat-melipatnya berbentuk burung hantu juga kelelawar. Tak lupa juga ia akan memasang rekaman suara jangkrik. Gadis Pagi kini punya malam. Malamnya sendiri. Malam artifisial yang diciptakannya di balik jendela di kala matahari mulai menggantung di timur.

Jumat, 27 Agustus 2010

Rubah Misterius

Setahun yang lalu aku berburu. Mencari seekor rubah yang entah pernah terlihat di taman seberang sungai atau hanya di pojokan mimpi. Rubah yang terlalu misterius untuk ditinggalkan begitu saja di empat bulan pertemuan yang tak tentu. Kumulai pencarian ke taman seberang sungai dimana ia biasa muncul tiba-tiba. Kutanyai seekor burung yang sedang mencuri roti nyaris basi milik seorang gelandangan perihal si rubah misterius. Kabar yang kudapat darinya hanya lepehan roti yang ternyata bukan nyaris basi, tapi memang basi. Pantang menyerah kucari terus apapun kabar seputar rubah dari taman itu. Dari pohon beringin tua yang meneduhi pojokan taman, dari kupu-kupu manja yang ingin hinggap namun kembali terbang saat hendak dipotret, dari rumput harum yang terpaksa harus terinjak, dari cacing tanah yang bermunculan sehabis hujan. Dari semua itu, tak juga kudapati sedikit pun kisah tentang rubah. Pencarianku hari itu terhenti oleh lelah dan cuaca yang akan kembali hujan.

Aku berjalan ke sisi beringin tempat kuikat sepedaku pada tiang lampu taman. Sebelum kulepas sepedaku dari tiang lampu, kuputuskan untuk bertanya pada lampu taman yang baru menyala tanpa berharap terlalu banyak. Telinga yang tak kupasang begitu tajam pun tidak langsung kupercaya ketika kudengar si lampu berkata, “Oh rubah yang berkakakan seekor kucing itu!”. Kuminta lampu mengulangi jawabannya dan masih kalimat yang sama. Kugali terus kabar apa pun tentang si rubah namun tak ada lagi yang diketahui si lampu. Setelah berterimakasih, aku pun segera mengayuh sepeda menuju rumah, lebih tepatnya menuju kasur untuk segera terlelap. Pencarian berikutnya segera dimulai: di pojokan mimpi.

Kumulai tidurku dengan begitu semangat. Adakah tidur yang dimulai dengan semangat? Setahuku semangat biasanya membuat orang tak dapat tidur. Benar saja! Semalaman aku tak tidur. Sehingga aku tak dapat sampai ke pojokan mimpi dimana kurasa mungkin rubah misterius tinggal di sana. Malam berikutnya, tak mungkin aku tak dapat tidur setelah semalaman penuh mata ini melotot. Terlelaplah aku sampai di siang hari berikutnya. Tak ada apa pun yang kutemukan di pojokan mimpi, di berandanya pun tak ada. Yang muncul di mimpiku hanya adegan si lampu yang berulang-ulang mengatakan “Oh rubah yang berkakakan seekor kucing itu!”. Ini membuatku semakin yakin memang si rubah tidak pernah hadir di mimpiku. Ia memang benar-benar nyata ada di taman seberang sungai.

Keesokan paginya kumulai lagi pencarian ke taman. Kuulangi ritual baruku ini selama empat bulan. Kabar yang kudapat tak pernah utuh. Seperti puzzle butut yang kepingan-kepingannya alih-alih melengkapi, malah semakin membingungkan dan misterius. Selama empat bulan itu juga aku tersihir oleh kepingan puzzle tentang si rubah yang semakin membuatku terpesona. Pencarianku akan si rubah pun mengantarkanku pada pencarian akan kakaknya, si kucing. Kebetulan si kucing lebih sering muncul dan berkeliaran di sekitar gang yang dipenuhi warung makan. Mempermudah pencarianku. Ketika kutemui si kucing sedang asik melahap makanan mewahnya di warung masakan padang. Kabar yang kudapat dari si kucing pun tak begitu dapat diandalkan. Sudah lama juga ia tak berjumpa dengan si rubah, adiknya. Payah.

Frustasi, taman seberang sungai itu digusur! Empat bulan pencarianku terhenti dan rasa ingin tahuku terkubur oleh waktu bersama-sama dengan pondasi-pondasi mall yang terpancang dengan pongahnya di bekas taman itu. Perasaanku saat itu lebih tepat disebut jemu daripada kecewa. Bukan jemu pada pencarian, namun pada kegagalan. Aku selalu yakin setelah aku gagal mencari, saat itulah pencarian baru akan kumulai kembali. Saat itu pula, episode perburuan si rubah misterius telah sampai pada adegan terakhir.

Kupikir begitu, awalnya.

***

Selain taman di seberang sungai, ada taman lain di kota. Taman ini terletak di tengah kota. Tak seperti taman di seberang sungai, taman ini lebih pantas disebut pasar kue. Setiap hari berjejer para pedagang yang menjajakan berbagai jenis kue di seputar taman. Singkatnya, taman itu terlalu ramai. Jauh lebih ramai daripada taman di seberang sungai dahulu. Enam bulan sekali di taman pasar kue diadakan festival. Festival penyambutan penduduk baru sekaligus pesta selamat tinggal penduduk yang pindah ke kota lain.

Tahun ini aku akan pindah. Keluar dari kota ini menuju kota lain yang lebih besar dan lebih ramai. Festival pun diadakan, perut laparku tak tertahankan sambil memilih kue yang hendak kubeli. Kue basah, kue kering, sampai es buah. Wajar saja jika pasar kue ini tak pernah mati, kue-kue yang dijual di sini tak ada yang tak lezat. Kue basah kulahap tanpa ampun sambil bercengkerama dengan sesama penduduk kota yang juga akan pindah. Berlanjut ke kue kering rasa kelapa yang tak ada duanya. Di tengah kunyahan-kunyahan khusyuk tersebut, melintas sekelibat sosok kecil, sangat kecil. Bukan manusia. Ketukan jantungku meningkat. Kue kering kelapa tak lagi nikmat. Untuk kedua kalinya aku terpikat. Rubah misterius muncul kembali setelah setahun tak hadir, bahkan tak juga dalam mimpi atau sekedar pikiranku. Rubah misterius kembali hadir dan tetap sekelibat tanpa ampun atau pun memberiku jeda untuk sekedar mendekatinya dan melihatnya lebih lekat.

Setelah hari itu, pencarianku kembali dimulai. Jejaknya semakin sulit kucari. Tak ada tanda, tak ada papan petunjuk, tak juga ada lampu merah yang akan menyala dan memperingatkanku untuk berhenti mencari. Tak ada cara lagi untuk mencari dan menemui si rubah misterius karena aku harus segera pindah dari kota ini. Tak ada satupun jalan yang memungkinkan. Satu-satunya yang kulakukan hanya menjaga ingatan visualku tentangnya. Untunglah aku sempat mendapatkan potretnya walau tak sejelas kemungkinan bahwa aku takkan pernah lagi melihatnya.


Bogor, 270810, 22.30 WIB

Jumat, 23 Juli 2010

Ambisi dan Sol Sepatu yang Terlalu Tipis

am·bi·si n keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (spt pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu: ia mempunyai -- untuk menjadi duta besar; pengabdiannya penuh dedikasi, tanpa -- pribadi;

Saya sedikit punya masalah dengan kata ini. Entah kenapa saya sering merasa tidak berambisi.

ber·am·bi·si
v berkeinginan keras mencapai sesuatu (cita-cita dsb); mempunyai ambisi: regu bulu tangkis lawan merupakan tim yg sangat ~ dan perlu diperhitungkan

Topik ini sedang asyik-asyiknya nangkring di kepala saya. Mungkin penyakit pasca jadi sarjana yang baru beberapa minggu. Masalahnya sekarang adalah saya ngerasa nggak punya cita-cita yang spesifik. Waktu kecil sih punya, arsitek dan psikiater. Seiring perjalanan akademis yang tanpa tekanan dari orangtua, waktu membuktikan dengan bijaknya bahwa otak saya kurang IPA, oke, tidak IPA sama sekali. Satu-satunya pelajaran IPA yang saya kuasai hanya biologi (karena tidak mengandung angka ataupun rumus yang entah kenapa tidak pernah ramah bagi otak saya). Jadilah cita-cita menjadi arsitek dan psikiater yang brengseknya harus lewat jalur IPA sudah saya teriaki "adios!" sejak dulu. Untuk arsitek diperkuat dengan kemampuan gambar saya yang jongkok. Kenapa nggak psikologi yang bisa lewat jalur IPS? Hmm...entah kenapa saya lebih tertarik psikiatri, padahal nggak ngerti-ngerti amat juga dua-duanya.


Akhirnya sejak SMP, cita-cita saya blur. Seperti es skrim lezat yang meleleh dan tidak menarik untuk dinikmati kembali. Untungnya, meskipun nggak ada cita-cita spesifik, saya tahu apa yang saya suka, tulis-menulis. Akhirnya jurnalis menjadi cita-cita yang lain, karena berhubungan dengan tulis-tulisan, agak dangkal sih alasannya. Dengan pemikiran tersebut, terdamparlah saya di jurusan komunikasi dengan peminatan jurnalisme. Mejik pun terjadi lagi, semakin saya belajar jurnalisme, semakin nggak terlalu ingin jadi jurnalis. Bukan nggak ingin sama sekali sih, keinginan masih sangat ada. Cuma passion-nya nggak sebesar dulu. Jadilah saya nggak punya bentuk karier spesifik yang dikejar.

Pemikiran paling oke yang pernah saya baca di blog ini, cari satu hobi atau minatmu, lalu jadikan hal tersebut pekerjaanmu. Menulis. Ya, ini yang paling dekat dengan saya. Konkritnya? Bisa kerja di majalah, dan sebagainya. Tapi lagi-lagi, tiba-tiba ada passion yang sedikit pudar. Mungkin seperti nafsu makan yang menggebu-gebu di bulan puasa yang menyusut ketika hendak berbuka. Tapi, menulis tetap akan menjadi aktivitas favorit jari-jari saya, berhubungan atau tidaknya itu dengan pekerjaan saya kelak. Blog ini salah satu buktinya.

Sampailah di beberapa hari yang lalu ketika mengobrol agak serius (ini superjarang terjadi) dengan seorang teman lewat YM. Dia yang sedang jenuh dengan pekerjaannya yang menurut saya sangat menjadi passion-nya. Intinya, obrolan tersebut mengingatkan saya kembali pada keinginan saya, yang menurut saya sih cukup tinggi dan sempat terlupakan karena tertimbun pikiran-pikiran sok ruwet lain. Kami menemukan benang merah tebal tentang keinginan yang paling menyenangkan bagi kami, yaitu: suatu saat ingin punya sekolah alternatif gratis. Terdengar terlalu idealis dan sok mulia? Haha...biarin!



Obrolan pun berlanjut kepada karier apa yang paling menyenangkan. Akhirnya sampailah pada kesimpulan (ini kesimpulan saya sih), pekerjaan paling menyenangkan, selain yang sangat sesuai dengan minat kita, adalah pekerjaan yang masih memungkinkan kita mengerjakan banyak hal kesukaan kita. Buat saya: menonton film, baca buku, ngobrol dengan teman, nikmatin musik, menulis (yang satu ini syukur-syukur kalau bisa jadi kerjaan sambilan). Ternyata hidup memang lebih menyenangkan jika kita punya sesuatu yang membuat kita ingin meneruskan perjalanan meski kaki sudah lecet ataupun sol sepatu terlalu tipis.

gambar:
http://www.explodingdog.com/
http://photo.net/

Minggu, 04 Juli 2010

Yang Baru Masalah Baru

Kelahiran hal baru akan selalu sepaket dengan masalah baru juga. Paling tidak menurut saya begitu. Jelas teknologi komunikasi sekarang sudah menjadi salah satu kebutuhan primer. Potongan kue pie yang kini ukurannya sudah berubah dan bertambah. Misalnya dulu jaman kakak saya kuliah, punya HP itu bukan hal penting. Mungkin baru 10% mahasiswa yang pake HP, itu pun mungkin bawa punya bapaknya atau ibunya yang lagi nggak dipake hari itu. Tapi sekarang? Mahasiswa yang nggak punya HP seperti mahasiswa yang nggak pake alas kaki. Begitu pun laptop. Jaman saya baru masuk kuliah, yang bawa laptop ke kampus sangat jarang. Kalau pun ada, yah paling kalau emang bener-bener ada tugas yang mendesak dan sebagainya. Tapi sekarang, laptop seperti buku catatan yang umum ditenteng mahasiswa. Ya, jaman bergeser. Pola hidup ikut-ikutan geser seperti orang di angkot yang juga ikutan geser jika orang sebelahnya geser.

Yang saya maksud dengan kalimat di awal tulisan ini adalah sebenarnya masalah-masalah dulunya tidak pernah ada sekarang menjadi ada seiring perkembangan dan penemuan-penemuan terbaru. Balik lagi ke HP. Jaman dulu, kalau orang janjian misalnya. Nggak mungkin tempat janjian berubah-ubah. Misalnya janjian di depan halte warna biru jam 10. Walaupun masalah ngaret tetep ada, tapi konsep 'janjian' merupakan sebuah konsep yang sangat sederhana: "Lo dateng, gua dateng". Ketika ada yang tidak datang, berarti ada masalah besar biasanya. Tapi setelah HP menjadi satu identitas juga, konsep ‘janjian’ menjadi lebih cair. Bisa saja orang yang janjian dengan anda tiba-tiba mengirim SMS “Sori, nggak jadi datang, tiba-tiba nggak enak badan” atau orang yang sudah menunggu bilang lewat telpon “Gw tunggu di warung seberang yah”. Tempat janjian bisa diubah karena bisa segera mengabari. Jadi kini, ketika seseorang tidak ber-HP, menjadi agak bermasalah. Susah mengabari, janjian tidak fleksibel. Padahal masalah-masalah ini tidak ada sebelum HP juga ada atau lebih tepatnya menjadi sebuah identitas primer juga.

Laptop. Dulu mahasiswa cukup berpuas diri mengerjakan tugas ketak-ketik dengan PC di rumah atau rental. Paling tidak sesampai kampus, tugas sudah pasti selesai. Sekarang? Mungkin beberapa menit sebelum kelas mulai tugas masih diketik di laptop di depan kelas.

Jejaring sosial. Facebook dan Twitter. Sebelum Facebook seramai sekarang dan kicauan Twitter seberisik ini, orang tidak begitu bermasalah tanpa tahu status orang lain ataupun memberi tahu status dirinya. Tapi kini, sehari saja tidak membuka rentetan akun-akun di jejaring sosial seperti belum makan dengan nasi. Lagi-lagi masalah itu tidak pernah terlintas dan tidak pernah menjadi masalah jika tidak terpenuhi, dulunya. Baiklah, sudah umum memang hal-hal baru akan selalu menggeser pola-pola yang ada sebelumnya. Tapi kadang rasanya, saya ingin menjadi mahasiswa di jaman kakak saya yang tidak perlu membawa-bawa HP ataupun serbatahu tentang yang dikerjakan teman-temannya ketika tidak sedang bersama-sama di kampus. Tapi toh, kini sekarang saya akan sangat bermasalah jika HP tidak ada dan seperti ada yang kurang jika tidak sesekali mengintip kicauan kawan-kawan di Twitter. Jadi sebenarnya kalimat “kelahiran hal baru akan selalu sepaket dengan masalah baru juga” menjadi kurang begitu tepat, tapi saya suka dengan kalimat itu. Jadi maaf jika tulisan ini tidak memberi pencerahan apa pun. Karena memang bukan itu tujuannya.

Senin, 10 Mei 2010

Monolog Racun

Aku mulai berkata-kata sejak aku bosan menangis. Dulu kata-kataku susu bubuk yang diseduh tanpa gula. Tawar dan hangat. Euphoria kembang api saat lidah yang menabrak-nabrak gigi dan dinding mulut juga bibir yang saling tepuk berakhir kata. Lalu kata-kata itu kamu rebut lagi dari lidah dan telingaku. Kamu rebut lalu kamu lempar ke lembar kertas yang kamu bawa sepulang kerja. Kamu pindahkan kata yang kudapat dari tabrakan lidah, gigi, dan bibirku ke mata. Aku tak lagi berkata sebelum mata bekerja. Otak mengeja. Kata-kata itu menjadi susu bubuk dengan tanggal expired bertahun-tahun lalu. Yang tak lagi larut saat diseduh dan diaduk. Yang tak lagi tawar saat kau seruput. Memang masih hangat. Tapi kata-kataku sekejap mengucap menjadi racun. Kini aku mulai bernyanyi sejak aku muak berkata-kata.

Kamis, 29 April 2010

Tak Perlu Membunuh

Ternyata dia sudah lama mati jauh sebelum aku berniat membunuhnya. Sebelum aku memutuskan untuk menebas lehernya dengan pedang atau menembak saja dada kirinya dengan senapan. Sebelum aku memutuskan untuk menguburkannya sendiri di belakang sekolah lamaku atau menghanyutkannya di sungai pinggiran kota waktu dini hari. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa dia memang telah pensiun hidup, lama. Mayatnya tidak dikubur atau hanyut di sungai, tapi dibakar lalu mengabu dan mengasap. Terkadang aku masih bicara dengannya seolah-olah ia masih hidup. Padahal saat itu mungkin jenazahnya sudah habis terbakar dan abunya tersebar di kali-kali penuh sampah dan abunya menguap di udara sesak karbonmonoksida. Banyak orang yang lupa kalau dia pernah hidup. Mungkin mereka hanya pura-pura lupa. Atau memang dia tak pernah dianggap hidup. Atau lebih tololnya, memang dia tak pernah hidup. Mungkin dia hanya rekaan benang-benang imajiku yang menjelma dan memanipulasi kewarasanku sendiri. Mereka mungkin hanya pura-pura percaya saat aku menceritakan tentangnya. Mendengarkan sambil senyum-senyum nakal, padahal hati mereka penuh sangkal. Mungkin tak sampai dalam hati, cuma sampai daun telinga untuk kemudian dengan rapi dihapus perlahan dengan bersih dari otak mereka. Memindahkan cerita yang dengan susah payah kubagi ke recycle bin, memuntahkannya ke kloset-kloset, mematikan puntungnya di asbak-asbak, membuang air sisa rebusannya ke selokan, menyapu daki-dakinya ke tempat sampah, mengalirkan limbahnya ke sungai yang digunakan orang sekitar untuk mandi-cuci-kakus. Hingga kini pun mereka selalu bertingkah seperti dia tak pernah hidup. Atau memang tak ada. Atau kewarasanku yang mulai menyublim diam-diam. Sehingga tak sanggup aku mengajak mereka untuk sedikit berkabung. Tak ada yang bisa kuajak berziarah. Jika tahu ini akan terjadi, aku sudah membunuhnya jauh sebelum ia lahir, atau paling tidak, sebelum menceritakannya kepada mereka. Dengan begitu, aku tak perlu berziarah seorang diri sambil diteriaki Radiohead seperti sekarang. Maaf, aku tak pilih lagu-lagu Jamiroquai. Sebenarnya memang aku tak pernah tahu cara berkabung.

Minggu, 25 April 2010

uɐʞılɐqǝʞ ıɹɐɥ ʇɐɯɐlǝs

ısɐʇıʌɐɹƃ ɐɯɐs ʇnɹnʇ uɐsoq ɐʎɐs
ɥɐʎ ɐdɐ-ɐdɐ ʞɐƃƃu ısɐʇıʌɐɹƃ uɐʍɐl ılɐʞǝs-ılɐʞǝs
uɐʞılɐqǝʞ ɥɐɹɐ ıɹɐp nʇɐnsǝs ʇɐɥılǝɯ ʞnʇun ɐpuɐ ıɹıp ɥıʇɐl ɐqoɔ
lɐɥ ɐlɐƃǝs ıɹɐp uıɐl ısıs ʇɐɥılǝɯ ɐsıq ɐƃoɯǝs
ɯnʎuǝsɹǝʇ nlɐl
¡uɐʞılɐqǝʞ ıɹɐɥ ʇɐɯɐlǝs

Terimakasih pada Awe yang ngasih skripnya :)

Minggu, 18 April 2010

Telan Ludah

Café macam apa ini!
Minumanya tak pernah sampai
Gelasnya sering kosong
Kalaupun berisi, retak atau pecah di bibirnya
Berdarah bibirku jika kuminum

Seorang pelayan dari café sebelah menyelinap perlahan
Menyodorkan buku menu diam-diam
Ssttttt, jangan sampai ketahuan”, dia berbisik
Minuman-minumannya menggoda jika kurang pas kubilang menarik
Seolah teriak “fuck me” pada tenggorokanku yang sekering jemuran di sore hari
Minuman-minuman tanpa gelas
Aneka rasa, aneka jenis
Cukup pejamkan matamu
dan telan ludahmu

Sengaja Tenggelam

Aku terlalu sering gagal menembus kepalamu
Seperti pasar malam yang tiba-tiba riuh, tiba-tiba senyap
Juga sekolahan yang ramai di siang hari dan sepi di malam hari
Hanya bedanya, tak ada waktu yang pasti
Tak ada bel sekolah yang menandakan datang dan pulang
Tak ada gerbang pasar malam yang membatasi riuh dan senyap
Cair…
Mungkin itu mengapa aku yang tak jago renang ini bisa renang begitu saja di kepalamu
Terkadang aku mengambang sempurna bersama kata sapaan basi
Kerap pula menyelam dalam panci yang dibawahnya api biru kompor elpiji
Diaduk-aduk bersama bumbu-bumbu yang kadang kurang match
Tapi seringnya aku ikut arus, sampai terbius
Tidak berusaha mengambang atau menyelam
Sengaja tenggelam
Tak mampu menembus, lantas tenggelam

Senin, 12 April 2010

Diskotek Dua Ribuan

Sedak-seduk terdengar tidak lebih dari satu meter. Macam suara yang tidak hanya terasa di telinga tapi juga jantung. Mungkin kamu tahu bass yang terlampau tinggi, musik tidak lagi penting selama mampu menampar-nampar dada. Perlahan masuki kotak roti tawar raksasa. Lampu kerlap-kerlip menyambut. Biru, lalu hijau, biru lagi, hijau lagi. Yang kecil-kecil lebih beragam: merah, ungu, kuning. Udara malam seolah meneriaki untuk segera sampai rumah dan menarik selimut sambil memeluk guling menghadap sebelah kanan dan masuki studio satu bioskop bawah sadar. Lagu berganti. Tanpa lirik pasti. Hanya dug stak dug stak, bedebum-debum, ting ting ting yang diulang-ulang. Beberapa botol minuman terpajang rapi. Dua di belakang berbeling hijau. Tiga di depan merah, biru, hijau. Sepertinya bukan untuk diminum atau dijual, hanya pajangan. Ada yang masuk lagi setelah sebelumnya ada yang keluar. Masih bedebum-debum. Ketika sampai pada saatnya giliranku untuk keluar dari kapsul jedag-jedug-kelap-kelip sambil mengulurkan lima ribu rupiahan berkata “Satu, Bang!”, lalu mengambil kembaliannya tiga lembar rupiah Kapitan Pattimura. Akhirnya aku pun menyeberangi jalan menuju rumah sambil tersenyum meninggalkan roda empat hijau terang bernomer 13.

Rabu, 31 Maret 2010

Nyebur, Melebur, Kabur, dan Terkubur

nyebur, melebur, kabur, dan terkubur

empat opsi di samping autopsi

sebab mereka bilang rumah sakit sudah terlalu sakit

dan klinik 24 jam sudah lama terpejam

sedangkan puskesmas terlalu banyak cemas

sekolah disesaki orang-orang yang kalah

kampus dipenuhi oleh otak-otak yang arogan mampus

dan kata-kata yang penuh dempul dan mudah-mudahan tidak tumpul

menyedihkan…


Orang-orang mendandani diri. Poles sana sini. Melupakan penyakit. Mungkin ini salah satu teknik paling mutakhir dalam dunia kedokteran. Bukan lagi placebo. Tebalkan make up-mu sementara penyakit menjangkiti tubuhmu, juga lingkunganmu. Taburi sebanyak mungkin vetsin pada kalimat-kalimatmu. Biar menarik, walaupun berpenyakit dan bikin mual. Alat ukurmu yang terlalu rendahan. Mistar yang centiannya salah. 2 cm yang sebenarnya 4 cm.

Sebenarnya aku pun terlalu sempit. Sebenarnya masih banyak orang-orang tulus di luar sana. Yang mampu membuat roti tawar berasa penuh keju, cokelat, stroberi, kacang. Dan air putih berasa soda, susu, teh, kopi.

Dan yang paling membuat terharu adalah ketika orang lain yang jauh lebih menderita darimu masih menyempatkan waktu dan tenaga untuk menghubungimu dan bertanya, "Apa kabarmu? sehat? sudah sembuh?" :')

Senin, 08 Maret 2010

Menghapus Label Tebal Di Luar Kotak

Minggu lalu saya menonton My Name is Khan. Ada satu kalimat yang tampaknya menjadi pesan utama di film itu. Kira-kira seperti ini: "There are two different peoples, a bad people and good people".

Kutipan tersebut membekas di pikiran saya. "Bener banget!", pikir saya. Kalimat tersebut meruntuhkan kotak-kotak yang ada. Kotak-kotak yang dibuat manusia sendiri untuk melabeli manusia lain dan dirinya sendiri. Mulai ras, agama, bangsa, juga segala isme-isme dari yang megah sampai yang dicemooh. Contoh paling sederhana adalah siapa pun yang membunuh anak kecil tak bersalah dengan sengaja, dia adalah orang jahat. Tak peduli Islam atau Nasrani, kulit putih atau berwarna, sosialis atau kapitalis. Hanya satu label: bad people. Begitu pun sebaliknya.

Nyatanya selama ini kebanyakan dari kita terjebak. Terjebak dalam kotak-kotak tadi. Terjebak pada label ber-font tebal di permukaan kotak-kotak tersebut. Ada yang merasa kotaknya paling hebat, sedangkan kotak-kotak lainnya tidak lebih pantas dari kotaknya. Tidak mau mengintip keadaan sebenarnya di kotak-kotak lain. Cuma puas pada label yang ada di permukaannya dan berkicau-kicau sampah seolah paling tahu tentang suatu kotak. Menyerah pada stigma. Menyedihkan.

Lompat pada pengalaman saya minggu lalu berbincang dengan seorang teman. Ia mengaku tidak lagi menyukai seorang musisi karena ternyata si musisi tersebut seorang gay. Pernyataan dengan kalimat-kalimat yang cukup tegas tersebut awalnya berusaha saya acuhkan, nyatanya memancing lidah usil saya untuk berkomentar. Ada satu kalimat spontan yang jelas saya ingat keluar dari mulutnya ketika saya berkomentar bahwa ia seorang homophobia yang berpikiran sempit, ia bilang "kalo perlu dibakar sih dibakar orang kayak gitu (maksudnya gay)!". Jujur saya agak kecewa, atau mungkin saya yang berharap terlalu tinggi terhadap si teman tersebut yang saya anggap cukup cerdas. Ia menjalankan agamanya dengan baik, cukup baik di antara teman-teman lainnya, dan yang paling ironis adalah jurusan kuliahnya yang pasti mempelajari tentang homoseksualitas (hmm kira-kira jurusan apa yah). Saya tidak bermaksud menyerang teman saya tersebut, apalagi ia salah satu teman baik saya. Pikiran saya saat itu adalah tidak ada hubungannya orientasi seksual seseorang dengan kualitas musiknya dan kita tidak berhak sama sekali membenci seseorang hanya karena ia gay. Jika ia memiliki keyakinan bahwa menjadi gay bukan hal yang baik, tetap saja ia tidak berhak untuk membenci.

Mana yang lebih baik: seorang heteroseksual yang korupsi dan seorang gay yang membuat sekolah-sekolah untuk desa miskin? Jika Anda masih menjawab pilihan pertama, semoga anak Anda kelak seorang heteroseksual.

..dan semoga kita tidak menjadi orang angkuh dalam kotak yang menyerah pada tulisan tebal di luar kotak-kotak orang lain. Sehingga sebelum menilai seseorang, kita mau berendah hati menghapus label-label tebal di luar kotak dan melihat dengan kepala terbuka. Karena seperti yang dikatakan ibu Rizvan Khan dalam film My Name is Khan, "There are two different peoples, a bad people and good people".

Sabtu, 20 Februari 2010

Pelangi Ngintip

Barang klasik, pelangi. Lama tidak muncul, walaupun di kota yang namanya kota hujan (apa saya yang lama nggak merhatiin?).

Beruntungnya saya nggak dapat badainya di siang hari itu, pas saya pulang badainya sudah selesai.
..dan, saya dapat pelanginya!
Perasaan kanak-kanak saya sesaat kembali muncul, si ujung bibir pun tak dapat menolak untuk menekuk. :D


Burung, kabel listrik, kabel telepon, antena, pohon sama-sama udik nonton pelangi yang jarang-jarang datang.


Tiang listrik juga mau ikutan.


Pelangi ngintip dari belakang atap.

Sabtu, 30 Januari 2010

Mary and Max, Lolipop yang Tidak Semanis Itu

Memang bukan film baru, tapi setelah menonton film ini di DVD yang saya beli tanpa baca-baca dulu, saya bertekad harus menulis sesuatu tentang film ini. Menonton animasi yang satu ini seperti membeli permen lolipop yang ternyata tidak warna-warni dan rasanya mulai dari manis, asam, tapi kebanyakan pahitnya. Tapi walaupun begitu, saya tidak kecewa membeli lolipop tadi karena rasa-rasanya mampu membuat kita tertawa sambil menangis tapi tidak lupa juga menyetrum otak. Jangan harapkan animasi penuh warna nan ceria layaknya milik Disney, Pixar, atau Dreamworks. Buang jauh-jauh bayangan akan tokoh-tokoh cantik atau lucu seperti di Toy Story, Monster Inc., Up atau Shrek. 'Cuaca' yang dibangun di dalam kartun yang satu ini memang rasanya tidak seperti kebanyakan kartun lain yang diperuntukan bagi anak-anak. Terasa mendung.

Mary dan Max sekitar belasan tahun menjadi sahabat pena yang berada di benua berbeda tapi untungnya punya bahasa yang sama. Mary di Australia, Max di Amerika (Serikat). Kedua sahabat ini dipersatukan oleh satu persamaan (selain bahasa tadi :P), yaitu sama-sama tidak punya teman. Tidak aneh buat Max yang seorang Aspie (sindrom asperger, silahkan di-google kalau nggak tahu) dan Mary dengan kepercayaan diri rendahnya berkat keluarganya sendiri. Selain sajian lika-liku balas-balasan surat (dan juga barang) antara Mary dan Max, menonton film buatan Australia ini seolah dilempari kata-kata cerdas yang tidak sok cerdas, malah terkesan lucu. Sangat wajar jika animasi ini menang di Sundance Film Festival 2009.

..dan Saya malas untuk mengetik lebih banyak huruf tentang film ini. Satu kata: tontonlah! :)




Max Jerry Horrowitz. Si Jewish-American penfriend. Berumur 40 tahunan. Mengidap Asperger Syndrome. Memakan hotdog cokelat.







Marry Daisy Dinkle. Si anak Australia. Penyendiri. Meminum susu kental.







Vera Dinkle. Ibu Mary. Suka mengutil barang. Penyuka Sherry.











"Unfortunately, in America, babies are not found in cola cans. I asked my mother when I was four and she said they came from eggs laid by rabbis. If you aren't Jewish, they're laid by Catholic nuns. If you're an atheist, they're laid by dirty, lonely prostitutes." -Max Jerry Horrowitz

Rabu, 06 Januari 2010

I Need A Slap on My Face

Manusia biasanya merasa benar. Saya manusia. Saya rasa saya benar.
Manusia bisa salah. Saya manusia. Saya bisa salah.

Yang menjadi pertanyaan adalah siapkah kau dikritik oleh orang lain?
Saya tidak siap, dulunya. Sekarang saya sudah siap, semoga. Walaupun kadang gendek, tapi kritikan bagaikan vaksin imunisasi yang agak sakit saat disuntikkan namun berguna di kala mendatang. Selama 2009-an kemarin saya cukup belajar tentang hal itu. Mulai dari tulisan saya yang dirombak total dan harus tulis ulang, pemikiran-pemikiran saya yang selama ini ternyata masih sesempit kakus, sampai debat-debatan bersama kawan. Inilah yang membuat saya mulai belajar mengunyah dengan nikmat saat orang menuding saya salah, entah dengan langsung bilang 'salah' atau pun dengan menyatakan pendapat yang menentang pendapat dan perbuatan saya. Entah saya yang memang salah atau dia yang lebih salah.

Masalah debat, saya memang salah satu orang yang suka debat-debatan (tapi saya tidak jago debat, cuma suka saja panas-panasan, haha). Dari kecil sepertinya kebiasaan 'buruk' ini sudah tumbuh. Seperti sering bertanya ini itu dan sering nyela ini itu. Setelah saya pikir-pikir, tujuan saya mendebat adalah karena saya tidak merasa satu pendapat atau bingung dan si orang itu membuka peluang untuk berdebat. Kalo saya tidak sependapat saja titik, masalah pun berakhir pada urusan toleransi. Tapi ketika si orang itu membuka peluang, dan kadang saya juga memulainya, maka jadilah.

Di sini lagi-lagi saya belajar masalah 'salah'. Karena debat di sini bukan layaknya debat yang ada di lomba-lomba itu, dimana kita harus mempertahankan pendapat saja titik, tapi tidak sampai pada masalah pemuaian. Peleburan. Yang ada hanya menang dan kalah. Siapa yang terlihat lebih yakin dan siapa yang tidak. Siapa yang terlihat lebih rasional dan siapa yang tidak. Siapa yang bermuntah-muntahan argumen siapa yang hanya ngeces. Siapa yang alfa dan yang bukan. Di lomba debat tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Tidak pula seperti debat-debat di ruang dewan perwakilan kita. Karena jika debat di sana memang mencari mana benar atau salah, saya rasa tak mungkin Camry-nya menteri-menteri lolos 'disulap' jadi Royal Saloon.

Sedangkan debat yang saya maksud mungkin tidak semewah yang kau bayangkan. Tampak seperti obrol-obrol biasa. Tapi justru di sini tempat saya harus siap menerima ketika saya memang salah. Bukan siapa yang paling menor argumennya. Bukan pula siapa yang paling dewa bahasanya. Karena saya butuh sebuah tamparan.
Yes, I need a slap on my face.


Bagaimana dengan kamu?