Sabtu, 17 Oktober 2009

Kembang Api dan Biji Kopi

Aku ingin meluncur pesat ke langit
dan "duarrrrrrrrrr" membuncah warna-warni, kembang api
Aku ingin larut dalam pekat melebur
mendidih di tengah cangkir sebelum diseruput, biji kopi


Si kembang api menari-nari
di angkasa berkabaret
atau hanya bergoyang dombret!?
Juga bernyanyi!
Berirama postpunk
atau mungkin Dangdut Kerawang!?

Si biji kopi tak mau kalah
ia pun turut berpolah
Tariannya berputar-putar-putar
ikuti pusaran seiring keluhan gitar
Mungkin kamu pikir si kopi bermusik gothic
padahal tidak, musiknya romantik tanpa lirik

Malam ini pun...
Aku hanya duduk tontoni opera si kembang api
sembari seruput-seruput kecil lewat ujung cangkir kopi

Senin, 12 Oktober 2009

Kita Butuh Bank Kaum Miskin

Miris sekali rasanya membaca berita-berita mengenai pembagian zakat yang ricuh di berbagai daerah nusantara sampai menelan korban jiwa (dari data sebagian besar perempuan). Sebabnya adalah para mustahik (orang yang berhak diberi zakat) yang sedang mengantre ricuh saling mendahului untuk mendapatkan zakat sehingga terjadi kesesakan dan sebagian orang terinjak-injak. Hal ini dikarenakan massa yang datang membludak, melebihi perkiraan si pemberi zakat dan kapasitas tempat pemberian zakat.

Negara kita memang menampung begitu banyak kaum miskin. Bahkan saking banyaknya, istilah 'miskin' pun cukup sering diperdebatkan mengenai siapa dan apa saja karakteristiknya sehingga seseorang dapat dikatakan 'miskin'. Dalam Islam, ada perbedaan antara yang disebut dengan 'miskin' dan 'fakir miskin'. Istilah 'miskin' artinya merujuk pada 'orang yang memiliki pekerjaan, akan tetapi pekerjaannya tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhannya'. Sedangkan 'fakir miskin' digunakan bagi 'orang yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya'.

Kewajiban memberi zakat maupun sedekah bagi orang-orang ini pun memang sudah sewajarnya. Akan tetapi umumnya bantuan semacam ini tidaklah kontinuitas. Karena istilahnya 'hanya memberi ikan, bukan pancingannya'. Jika kita memberi ikan, kita hanya membantu pada saat itu saja. Betul memang kita membantu mengurangi kesusahannya, tapi bukankah setelah bantuan dari kita habis orang tersebut akan tetap menghadapi kesusahan yang sama? Bantuan yang didapat orang-orang tersebut tidaklah terus-menerus. Paling hanya saat bulan puasa, menjelang Idul Fitri, atau Idul Adha. Jadi selain di waktu-waktu tersebut, orang-orang 'miskin' dan 'fakir miskin' itu pun akan tetap susah.

Mungkin sudah saatnya para orang kaya dermawan, seperti Haji Soikhon di Pasuruan acara pembagian zakatnya menelan korban sebanyak 21 jiwa, mengubah sistem bantuannya. Jadi tidak lagi sekedar memberi bantuan yang 'menyuapi', tapi juga memberi bantuan yang bersifat kontinuitas yang disertai dengan pengarahan dalam menswadayakan masyarakat miskin tersebut untuk melakukan usaha yang berkesinambungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Barangkali kita harus berkaca pada Bangladesh, salah satu negara miskin dari negara dunia ketiga. Muhammad Yunus, salah seorang dekan fakultas ekonomi di universitas sana, gerah melihat keadaan kaum miskin di sekitarnya yang sangat mengenaskan begitu tidak sesuai dengan teori-teori ekonomi yang telah ia pelajari dan ia ajarkan kepada mahasiswa-mahasiswanya. Lantas ia pun berinisiatif untuk membuat sebuah lembaga (bank) yang khusus memberikan pinjaman-pinjaman kecil sebagai modal usaha. Pinjaman ini dikenai bunga yang sangat kecil dan harus dikembalikan dalam jangak waktu tertentu yang tidak memberatkan.

Sistem awal bank yang kemudian disebut dengan Grameen Bank ini cukup unik. Grameen Bank memfokuskan pinjamannya kepada kaum perempuan (sampai saat ini anggota Grameen lebih dari 90% adalah perempuan). Hal ini dikarenakan nasabah bank-bank di Bangladesh umumnya didominasi oleh kaum lelaki. Kaum perempuan tidak terlalu dianggap. Awalnya, Yunus pun mendapatkan pandangan pesimis dari berbagai pihak mengenai tidak akan dikembalikannya pinjaman-pinjaman tersebut. Namun pada akhirnya, Grameen Bank dapat membuktikan bahwa pinjmana-pinjaman tersebut 98% dikembalikan. Malahan pinjaman-pinjaman besar yang diberikan bank-bank lain pada orang-orang kaya lah yang sering tidak dikembalikan.

Yunus membuktikan bahwa kaum miskin (khususnya perempuan) memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar terhadap pinjamannya. Mereka menggunakan uang pinjaman tersebut untuk meneruskan usahanya atau pun memulai usahanya. Hebatnya dampak Grameen Bank yang berdiri tahun 1970-an ini terasa saat hampir semua anggotanya meningkat kehidupan ekonominya, sampai mampu memperbaiki rumahnya yang tidak layak. Ia membuktikan bahwa kaum miskin akan merasa memiliki martabat ketika tidak hanya diberi sedekah, tapi juga kepercayaan dalam bentuk pinjaman. Kini Grameen Bank telah berkembang hingga ke berbagai negara dari Amerika Serikat sampai Malaysia. Ia pun menyebut Grameen Bank sebagai 'bank kaum miskin'. Muhammad Yunus, si pendiri Grameen, mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006.

Mungkin hal inilah yang patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia. Kita sepatutunya mengangkat martabat derajat kaum miskin dengan memberinya kesempatan melakukan usaha. Bukan sekedar memberinya sedekah yang dilepas begitu saja. Seharusnya ada bank semacam Grameen di Indonesia yang fokus terhadap kaum miskin dan juga perempuan (semua yang datang ke pembagian zakat di Pasuruan adalah perempuan). Bukan sekedar bank yang memberikan pinjaman kepada para konglomerat yang mau memperluas usahanya yang akhirnya tidak pernah lagi mengembalikan uang pinjamannya.


Referensi:
- "Bank Kaum Miskin", Muhammad Yunus (thanks to inal yang udah minjemin bukunya ;P)

Sabtu, 03 Oktober 2009

Movie Trailer

It’s a movie…
But I just can watch the trailer only. I will never ever watch the movie completely.
W-h-y?
1. The movie never moves on from the ‘coming soon’ panel
2. The tickets was sold out, or worst… it never been sold!
3. The movie was showed on limited screen and it was deserved for invitation only
4. The movie didn’t get the license to be showed
5. The locket was located in a different planet, so I coudn't get the ticket

So, forever it will always just be a trailer.
t-r-a-i-l-e-r.




BUKAN TRAILER YANG INI ;P