Jumat, 27 Maret 2009

Waktu yang Angkuh dan Orde Baru

Waktu itu angkuh, paling tidak menurut saya. "Time will never wait". Waktu ga akan pernah mau menunggu kita, ga seperti bis atau pun angkot. Meskipun teman kita bersedia menunggu kita yang telat janjian, tapi waktu akan terus berjalan tanpa mau menengok ke belakang. Ia akan terus berguling-guling membuat penambahan demi penambahan untuk jumlahnya.
Detik-detik yang tergenapkan oleh menit
Menit-menit yang tergenapkan oleh jam
Jam-jam yang tergenapkan oleh hari
Hari-hari yang tergenapkan oleh bulan
Dan seterusnya.

Mungkin kita bisa belajar sedikit pada waktu dalam hal ini. Filosofi waktu mungkin. Walaupun waktu ga bisa diulang seperti mata kuliah saya yang bernilai D, tapi waktu bisa
dikenang. Hal ini membuat saya mengingat-ingat kembali kejadian-kejadian yang sudah terlewat. Anehnya, banyak hal-hal yang ga terlalu penting atau hal-hal kecil yang justru lebih saya ingat dibanding hal-hal yang besar.

Banyak hal-hal yang saya ingat kembali ketika saya masih merupakan seorang anak kecil yang hidup di jaman Orde Baru. Dulu, mama saya sangat bangga dengan anaknya yang satu ini karena hafal nama menteri-menteri yang berada di bawah kabinetnya Pak Harto. Tiap kali berkunjung ke rumah teman mama atau saudara, mereka pun akan menanyai saya nama-nama menteri tersebut yang akan saya jawab dengan tepat, biasanya (sombong dikit lah). Atau jika mama sedang agak tega, ia akan menyuruh saya menyebut satu per satu nama menteri tersebut. Lambat laun seiring berjalannya waktu, runtuhnya Orde Baru, terlontarnya ide Reformasi, mama pun ga bangga lagi dengan anaknya karena ga bisa lagi hafal nama-nama menteri (Lah menterinya dirubah terus...agak susah buat ngafal). Apalagi di awal masa Reformasi, bongkar pasang kabinet rasanya sudah seperti bongkar pasang mainan puzzle. Akhirnya saya pun menyadari bahwa kehebatan saya waktu itu (hafal semua nama menteri) dikarenakan oleh kabinet yang emang orangnya itu-itu lagi. Sekalipun ada perubahan, paling hanya satu dua menteri saja.

Lain lagi masalah uang. Pernah suatu kali ketika saya sedang ngambek, saya pun hampir merobek selembar uang kertas yang ada di tangan saya. Seketika mama pun mengancam dan menakut-nakuti saya dengan mengatakan bahwa saya akan dipenjara jika merobek uang tersebut (hah...setega itukah negara memenjarakan anak kecil tanpa niat jahat hanya karena ia mau merobek uang kertas!?). Yang belakangan ini pun saya ketahui bahwa mama memang hanya menakut-nakuti saja. Bodohnya saya percaya dan mengurungkan niat tersebut.
Selama masa Orde Baru pula, ketika itu TVRI masih menjadi corongnya bapak-bapak dan ibu-ibu yang menamai dirinya 'pemerintah'. TV-TV swasta lainnya juga terikat dengan aturan-aturan dari pemerintah. Oleh karena itulah, setiap jam 19.00 dan 21.00 seluruh stasiun televisi harus menayangkan program beritanya TVRI. Oleh karena itu juga, setiap kali menonton film lepas di TV yang dimulai jam 20.00 saya ga akan pernah nonton sampai selesai (karena pas jam 21.00 akan ada program "Dunia Dalam Berita" yang wajib tayang di semua stasiun TV, dan pada saat itulah biasanya saya akan tertidur dengan lelapnya). Pada hari-hari besar nasional, saya pun akan kesal karena program yang biasa saya tonton tidak ditayangkan dan diganti dengan pidato dari presiden atau menteri. Ironisnya, sekarang ketika aturan-aturan tersebut tidak lagi berlaku (tidak ada lagi tayangan berita wajib untuk semua TV, tidak ada lagi pidato-pidato), saya malah agak malas menonton TV karena rata-rata acara yang ditayangkannnya pun gak jauh dari judul-judul sinetron yang dibuat sangat kreatif dengan memakai nama-nama pemain utamanya.

Pada masa itu juga, saya begitu akrab dengan iklan-iklan layanan masyarakat yang memang menjadi salah satu program pembangunan pemerintah ORBA, seperti iklan KB (anak dua cukup), iklan "epilepsi tidak menular", ataupun iklan posyandu yang menampilkan seorang ibu yang berkata "anakku bisa berdiri sendiri!". Masih banyak lagi hal-hal yang saya ingat tentang masa kecil dulu yang berhubungan dengan pemerintahan Orde Baru. Merasa harus bersyukur karena hanya merasakan masa Orde Baru sampai kelas 6 SD. Sehingga pikiran saya banyak terbuka dan lepas dari doktrin-doktrin ORBA yang ternyata secara tidak langsung cukup menempel di otak ini.

Cukup lah..saya bahas memori Orde Baru. Semoga kita dapat melewati waktu yang tidak membuat kita berpikir harus kembali lagi dan memperbaiki sesuatu. Waktu memang angkuh, tapi bukan berarti kita juga boleh angkuh dengan menyia-nyiakannya.

Jumat, 20 Maret 2009

Pesakitan

Kamar ini begitu muram
kalau bukan seram
Melukis goresan-goresan hidup
dengan cahaya yang redup
Merekam pilu-pilu
suara masa yang kelu
tanpa seluloid
Mendokumentasikan data-data miris
nan magis
tak ber-hardisk
Mengetalase kenangan-kenangan klise
tanpa klise..
karena ternyata hidup itu polaroid
Meramu rasa bumi
yang tak sesedap indomie
Mengurung kisah-kisah
yang tak segagah si pitung
Mengagungkan doa-doa rakitan
Pesakitan...

Selasa, 17 Maret 2009

Digital Tidak Digital

Salah satu dosen saya bilang sudah saatnya kita beralih ke segala hal yang digital, yang elektronik. Misalnya, dimulai dari bahan-bahan kuliahnya yang semuanya berbentuk digital (non kertas). Bahkan dia juga bilang seharusnya sudah nggak ada lagi catat-mencatat di atas kertas. Digital lah! Mungkin maksud sang dosen kita nyatetnya di notebook, dll.
Sesaat saya mikir "ya..bener juga! Bisa ngurangin pemakaian kertas yang artinya juga menghemat penggunaan produk hutan."

TAPI.........

Di saat terjadi pemadamam listrik yang cukup lama di minggu UTS ini (kalo ga salah se-Jabodetabek, malah Bandung juga katanya)...

CUHHH....
Bahan-bahan kuliah saya (khususnya mata kuliah tersebut) yang berbentuk digital semua tidak bisa dibaca sebelum listrik nyala lagi. Bahkan kalo pun bisa pake laptop, tetep aja nggak lama si laptop bakal nagih di-charge, yang artinya tetep butuh listrik bukan!?
Atau kalo pun pake HP nan canggih yang ada program Word atau Adobe Reader-nya, tetep aja butuh di-charge juga, yang mana berarti...tetep butuh listrik, kawan-kawan!

Ya ya ya...
Bukannya mau nyalahin pak dosen sih. Tapi ternyata peralihan punya konsekuensi, punya syarat-syarat yang harus dipenuhi, butuh adaptasi.

Jadi toh nyatet ala konvensional (di kertas) tetep berguna kan... karena nggak harus pake aliran listrik untuk bisa dibaca...hihi!

Sabtu, 14 Maret 2009

If You Could Edit Your Life

if your life can be edited...
it would be as beautiful as a happy movie, or as great as an oscar one
you could choose the best picture, best angle, best part, best dialogue, even the best soundtrack, anything!!
if you could edit your life..
you could choose your ending, even if you wouldn't choose any endings, cause everything you want was endless.

but if you could do those things..
you'r just exist in a square-blinked-screen.

(akibat seharian ngerjain editan tugas uts produksi berita tv)
-sorry for the terrible grammar!- ;p

Rabu, 04 Maret 2009

Fantasikah?

Inikah realitas yang tidak saya sadari dan masih saya anggap fantasi? Fantasi yang cuma mampu beraksi di alam imaji. Mengkocok-kocok dalam otak mana fakta mana fiksi. Subordinasi. Mungkin saya terlalu mengsubordinasi fakta di bawah imaji. Berpikiran bahwa fakta tak bisa semembahagiakan mimpi. Bahwa fakta tak dapat semembuai khayalan yang bernarasi. Bahwa fakta tak mampu semempesona imajinasi.

Terserah kalau kamu mau sebut saya si pengkhayal. Si pemimpi yang sakit mental. Tapi saya bukan pembual. Cuma suka berkhayal. Apakah jika saya seorang penulis, saya akan membuat satu bab dengan tinta biru dan bab lainnya dengan tinta merah atau hitam atau abu-abu? Abu-abu seperti pikiran saya. Saya mungkin terlalu merendahkan fakta dan memuja fiksi. Sampai ketika menulis pun saya lupa mana fakta mana fiksi. Mana nyata mana imaji. Mana realita mana fantasi.

Salahkan saya jika menganggap semua hal menyenangkan yang saya alami itu fiksi? Semua hal membuai yang saya rasa itu khayal. Semua pesona yang saya lihat itu imajiinasi. Dan semua yang hebat itu cuma fantasi.