Jumat, 20 Februari 2009

Dunia Aksara

Ini dunia aksara. Aksara yang memberi makna pada suara. Yang memberi maksud pada irama. Aksara-aksara yang tergenapkan pada kata, yang tergenapkan pada kalimat, yang tergenapkan pada paragraf, yang tergenapkan pada bab-bab, buku-buku, lagu-lagu, ayat-ayat, sajak-sajak, artikel, orasi, doa, serapah, sampai rayuan sampah.

Ini dunia aksara. Yang tak punya suara tak perlu jera. Karena aksara tak butuh perkara. Tapi aksara tak bisa sebatang kara. Di mana makna kan bermuara.

Di dunia aksara, ada vokal dan konsonan. Ada aksara hidup dan juga mati. Si vokal tak butuh konsonan untuk berbunyi. Tak juga butuh konsonan untuk terucap pasti. Meskipun akhirnya, vokal tetap butuh konsonan untuk dimengerti.

Sabtu, 07 Februari 2009

Mari Nonton Film Berbagi Suami dengan Kacamata Kajian Budaya

Film Berbagi Suami secara langsung menyindir dengan begitu cerdas praktek poligami di masyarakat Indonesia yang merupakan indikasi dari tingginya budaya patriarki di negeri ini. Yang dimaksud dengan patriarki adalah sebuah pemikiran di masyarakat yang menganggap laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada perempuan, dengan kata lain terjadi subordinasi terhadap kaum perempuan.

Pesan patriarki disampaikan dengan gaya ironi. Menyentil dan membuka mata kita semua akan kenyataan yang memang ada di sekitar kita. Ironi ini terdapat di cerita pertama. Salma (diperankan oleh Jajang C. Noor) yang merupakan gambaran dari perempuan berpendidikan tinggi (seorang dokter, sekolah di luar negeri), mandiri, sukses, berpikiran terbuka, juga modern. Di sisi lain, ketika ia mengetahui suaminya menikah lagi, meskipun berat, pada akhirnya ia pun rela untuk dipoligami. Ia merupakan representasi dari hegemoni budaya patriarki. Ini menunjukkan betapa masih sangat tingginya hegemoni patriarki. Sehingga setinggi apa pun pendidikan seorang perempuan dan sesukses apa pun kariernya, ia tetap tidak bisa lepas dari subordinasi kaum lelaki (patriarki). Sebagai wanita karier, Salma menggambarkan perempuan yang dicita-citakan oleh kaum feminis liberal, yakni telah memenuhi kebutuhan akan kesetaraan akan kesempatan perempuan di berbagai area. Sedangkan sebagai isteri, Salma merupakan gambaran dari perempuan yang hidup di bawah patriarki. Begitu juga dengan Imah, isteri ketiga Abah. Di satu sisi, ia merupakan seorang perempuan aktivis. Di sisi lain, ia juga bersedia dipoligami.

Kenyataan ini selaras dengan pemikiran feminisme. Feminisme memiliki argumentasi dasar bahwa wanita ditindas dan ditaklukan oleh pria sebagai konsekuensinya menjadi perempuan. Feminisme juga melihat adanya ketidaksetaraan dan ketidakadilan dalam pola hubungan juga posisi antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tidak lepas dengan adanya konstruksi sosial bernama ‘seks’, yang membagi manusia menjadi menjadi dua, yaitu laki-laki dan perempuan. Kemudian menempatkan laki-laki di posisi pertama dan perempuan di posisi kedua.

Budaya poligami menggambarkan laki-laki yang memiliki kekuasaan (power) atas perempuan. Sedangkan perempuan hanyalah kaum yang hanya bisa pasrah dan menerima apa yang dikehendaki oleh laki-laki.

Di cerita kedua, dapat kita lihat tindakan Siti (diperankan oleh Shanty—isteri ketiga Pak Lik) yang akhirnya kabur bersama isteri kedua dan mejadi lesbian. Ini merupakan penggambaran dari resistensi terhadap ideologi dominan. Resistensi Siti melawan dua hegemoni. Yang pertama perlawanannya terhadap hegemoni patriarki (poligami).

Gramsci mengatakan, “hegemony implies a situation where an ‘historical bloc’ of ruling-class factions exercises social authority and leadership over the subordinated classes”. Berdasarkan teori Gramsci, dalam kasus ini, laki-laki adalah ‘the ruling-class’ sedangkan perempuan adalah ‘the subordinated class’.

Sedangkan yang kedua adalah tindakan resistensi terhadap heteroseksualitas (menjadi lesbian). Di sini Siti melawan hegemoni heteroseksualitas. Gayle Rubin berpendapat, heteroseksual dianggap sebagai the good, the normal, the natural, dan the blessed sexuality, sedangkan homoseksual adalah the bad, the abnormal, the unnatural, dan the damned sexuality. Menurut Butler, ini disebabkan oleh identifikasi yang dipahami sebagai suatu afiliasi atau ekspresi ikatan emosional dengan objek yang difantasikan berada pada kondisi ideal (orang atau bagian tubuh). Yang dimaksud dengan kondisi ideal ini adalah ideal secara normatif. Sehingga hegemonik heteroseksual membuat seksualitas gay dan lesbian tidak berdaya.

Di sini juga digambarkan bahwa Siti tidak menikmati saat berhubungan intim dengan suaminya (Lukman Sardi). Hingga akhirnya ia lebih nyaman saat bersama dengan Mba Dewi (isteri kedua). Berdasarkan teori Foucault, ketika Siti melakukan hubungan intim dengan Pak Lik disebut dengan scientia sexualis. Scientia sexualis adalah kegiatan seksual yang dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan kekuatan, efisiensi, ekonomi tubuh, hubungan konjugal perkawinan, dan heteroseksual. Dilakukan dengan tujuan-tujuan pro-kreatif, bukan kesenangan. Ini merupakan seksualitas Barat modern abad XIX. Sedangkan ketika Siti melakukan hubungan intim dengan Mba Dewi disebut dengan ars erotica, yakni seksualitas yang berorientasi pada kesenangan (pleasure) atau aphrodisia.

Siti, sebagai golongan subordinat, melawan kekuasaan (power) yang mengungkung dirinya. Selain itu, penggambaran perlawanan pun disampaikan saat Siti mengajak Mba Sri (isteri pertama) secara diam-diam untuk menggunakan KB.
Keberadaan Siti dan isteri-isteri Pak Lik lainnya merupakan representasi kuat dari budaya patriarki. Yakni wanita harus melayani suaminya dan menuruti apa katanya.

Di cerita ketiga, Ming (diperankan Dominique) merupakan gambaran dari stereotip tentang representasi perempuan. Ming diidentifikasikan sebagai stereotip perempuan yang genit (secara seksual memancing laki-laki untuk mencapai tujuan tertentu), bak umpan (kelihatan lemah, padahal kuat), dan juga tamak (agresif, lajang). Sementara itu, yang dimaksud dengan stereotip adalah usaha mereduksi orang menjadi serangkaian ciri-ciri atau karakter yang dibesar-besarkan dan biasanya negatif.

(tugas akhir Mata Kuliah Media&Kajian Budaya)