Sabtu, 10 Januari 2009

Jembatan

Jembatan itu masih mendesah setiap kami lewati
Meludahi kami dengan tudingan-tudingan tanpa abjad
Dan kami hanya berjalan pura-pura tak mendengar

Karena hanya itu yang kami dapati
selama hampir separuh usia kami


Mengetuk-ngetukkan bakiak kami di rataan aspal
yang takkan pernah kami akhiri
Sebelum azan magrib, keran mengucur, dan sajadah terbentang
Abjad-abjad tanpa rupa menyeruak dan menggema
Mengucur yang tak terwudhui
Terbentang yang tak tersujudi

Karena senja terlalu singkat untuk dimengerti
dan terlalu merah untuk dilewatkan


Hanya kami yang tahu tentang jembatan itu
Jembatan yang mendesahkan keluh
Jembatan yang menuding tiap kali kami injak
Memelototi bakiak-bakiak kami yang seolah memperawani masa
yang kami bunyikan dari depan pagar rumah
hingga depan pintu masjid

Karena hanya bakiak yang pisahkan
kaki-kaki kami dari misteri jalan-jalan bumi


Dan sampai kini jembatan itu hanya bisa mengeluh
menyeloroh pasti dan meneriaki kami
beserta ketukan bakiak kami