Senin, 13 April 2009

Kesenjangan Digital

Masyarakat di jaman ini, khususnya generasi muda, tentunya sudah tak lagi asing mendengar istilah ‘browse’, ‘explore’, ‘www’, ‘email’, 'facebook', 'youtube', 'blog' dan sebagainya. Anak-anak begitu akrab bermain dengan mouse, laptop, dan ‘berjalan-jalan’ menjelajahi dunia lewat layar komputer. Tak terhindarkan lagi kemajuan yang begitu pesat di bidang internet ini. Hanya dalam hitungan beberapa menit, atau bahkan detik, peristiwa yang terjadi di belahan dunia yang lain dapat kita ketahui semudah menekan tombol ‘enter’ di keyboard komputer kita.

Kehidupan social pun telah tergeser oleh cara baru bersosialisasi yang ditawarkan oleh internet. Tidak perlu lagi taman kota, balai desa, atau bar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Facebook, friendster, myspace, atau apa pun itu yang berbentuk situs jejaring sosial merupakan tempat di dunia internet yang memungkinkan kita untuk bersosialisasi dengan orang lain yang berada entah di mana secara maya. Pertemanan secara maya ini memang bukan merupakan kegiatan sosialisasi yang bersifat fisik. Akan tetapi secara psikologis pertemanan di dunia maya mampu menciptakan hubungan parasosial antara satu individu dan individu lainnya.

Internet merupakan suatu teknologi yang tidak pandang umur, ras, ataupun, tempat. Anak berumur 12 tahun saja mampu membuat situs pribadinya sendiri. Sepulang sekolah dan setelah makan siang, ia menyalakan komputernya dan ia pun dapat ‘mengitari’ seluruh dunia dan mencari tahu hal-hal yang ia tidak tahu. Kemudian ia juga mengobrol dengan teman-temannya dengan YM atau yang lainnya. Tak perlu lagi pergi ke perpustakaan untuk mengenal dunia. Tak perlu lagi pergi keluar rumah untuk bercengkerama dengan kawan. Inilah bukti dari besarnya efek internet. Tak hanya berpengaruh pada fungsinya yang dapat mempermudah pekerjaan (seperti pencarian informasi), tapi juga mempengaruhi aspek sosial masyarakat yang cukup dapat diprediksi di tahun-tahun berikutnya.

Internet tidak saja berdampak positif bagi peradaban kita. Banyak kriminalitas yang terjadi di balik pemanfaatan internet. Cyber crime. Meskipun sampai sekarang di Indonesia hukum mengenai ini belum juga rampung dan direalisasikan.

Selain itu, secara global, perkembangan yang semakin pesat ini memiliki dampak berupa kesenjangan digital antara negara maju dan negara berkembang. Mengulas contoh anak 12 tahun di Amerika yang mampu membuat situsnya sendiri. Keadaan yang ironis dapat ditemukan di Indonesia. Seorang anak 12 tahun di Desa Ciumbuleuit, Bandung, bahkan tidak pernah memegang komputer sekali pun. Inilah yang dinamakan ‘kesenjangan digital’. Oleh karena itulah, sebutan internet sebagai teknologi yang dapat dipakai untuk menjelajahi dunia agaknya kurang adil bagi mereka-mereka yang tidak seberuntung kita yang dapat mengakses dan membudidayakn teknologi yang satu ini. Ada beberapa masyarakat yang dapat terjelajahi oleh internet tanpa mampu atau berkesempatan untuk menjelajahi dengan internet.

Untuk mengatasi kesenjangan digital ini, setiap pemerintah di negara-negara berkembang seharusnya menyediakan akses internet alternatif yang ekonomis namun tidak ‘tipis’ secara guna. Agar seluruh masyarakat dapat merasakan dampak positif internet secara mendunia.

Sehingga dengan begitu, tidak hanya anak-anak di negara-negara maju yang mampu bercengkerama dengan istilah-istilah ‘http’, ‘html’, dan ‘www’. Anak-anak di pedalaman Indonesia pun harus dapat merasakan kompleksitas dunia melalui jendela informasi yang tidak lagi hanya berbentuk lembaran-lembaran bernama 'buku', tapi juga melalui layar komputer setelah mereka menekan tombol ‘enter’ di komputernya.

Tidak ada komentar: