Rabu, 04 Maret 2009

Fantasikah?

Inikah realitas yang tidak saya sadari dan masih saya anggap fantasi? Fantasi yang cuma mampu beraksi di alam imaji. Mengkocok-kocok dalam otak mana fakta mana fiksi. Subordinasi. Mungkin saya terlalu mengsubordinasi fakta di bawah imaji. Berpikiran bahwa fakta tak bisa semembahagiakan mimpi. Bahwa fakta tak dapat semembuai khayalan yang bernarasi. Bahwa fakta tak mampu semempesona imajinasi.

Terserah kalau kamu mau sebut saya si pengkhayal. Si pemimpi yang sakit mental. Tapi saya bukan pembual. Cuma suka berkhayal. Apakah jika saya seorang penulis, saya akan membuat satu bab dengan tinta biru dan bab lainnya dengan tinta merah atau hitam atau abu-abu? Abu-abu seperti pikiran saya. Saya mungkin terlalu merendahkan fakta dan memuja fiksi. Sampai ketika menulis pun saya lupa mana fakta mana fiksi. Mana nyata mana imaji. Mana realita mana fantasi.

Salahkan saya jika menganggap semua hal menyenangkan yang saya alami itu fiksi? Semua hal membuai yang saya rasa itu khayal. Semua pesona yang saya lihat itu imajiinasi. Dan semua yang hebat itu cuma fantasi.

3 komentar:

rinaldi mengatakan...

kita tinggal di dunia imaji, dimana batas antara realita dan citra telah hilang dalam pusaran simulakra. tapi jangan kau takut terbawa pusaran, selama konstruksi imajinasi masih berada di pikiran kita dan tidak kita bagi itu menjadi harta karun di tengah sampah citra. ahhhhh menyebalkan persepsi kita dijejali dengan realita semu

Penari Jari mengatakan...

emang lo paling top lah nal masalah beginian... sip!

rinaldi mengatakan...

huhuhuhu, emang paling paling deh lu