Jumat, 25 Desember 2009

Rain: Pain Into Plain


If I could, I don't wanna stop the rain
'Cause it's pouring my brain
Healing the pain
Turning it into plain
Thanks God it rains

Jumat, 20 November 2009

Balada Warung Remang on location

Perjalanan saya ke sebuah lokalisasi di Tanjung Priok seolah melempar ingatan saya ke satu tahun yang lalu. Melempar saya ke tulisan yang saya buat dengan judul Balada Warung Remang.

Tulisan itu saya buat tanpa pengalaman langsung apa pun. Hanya meraba-raba dari berbagai gambaran umum yang saya dapat. Perasaan saya saat menuliskannya pun datar-datar saja, malah cenderung konyol. Akhirnya setelah sebuah kunjungan langsung dalam rangka field trip masalah penjualan anak dan perempuan, saya pun mendapat sebagian gambaran nyata mengenai kehidupan di lokalisasi.

Kunjungan kami (saya dan teman-teman dalam sebuah kursus singkat tentang feminisme) sebenarnya ke sebuah yayasan pendampingan anak dan perempuan. Awalnya kami ingin berbincang-bincang dengan beberapa anak di kantor yayasan, namun karena kedatangan kami yang terlalu sore keadaan pun tidak mendukung. Akhirnya sebagai solusi dadakan, hanya beberapa dari kami lah yang mendapatkan kesempatan untuk ikut ke lokasi. Saya berdua dengan teman saya pergi ke lokasi RM bersama pendamping dari yayasan, teman saya yang lain ke lokasi lainnya lagi di wilayah yang sama.

Kami naik motor bertiga (ya, bertiga!) dalam keadaan gerimis. Hingga akhirnya sampai di lokasi RM, kami pun masuk ke gang-gang kecil. Nah di gang kecil itulah terletak kafe-kafe (istilah 'kafe' mereka gunakan untuk menyebut yang mungkin kita sebut 'warung remang'), berupa tempat makan yang di dalamnya lagi terletak kamar-kamar seperti di kos-kosan. Di kamar-kamar inilah para perempuan yang 'dijual' tersebut tinggal sekaligus menyelesaikan pekerjaannya tiap malam. Kamarnya berukuran sedang berisi satu tempat tidur ukuran double dan satu meja rias.

Beruntung pendamping saya dari yayasan memiliki akses cukup luas di lokasi tersebut hingga saya dan teman saya pun dapat masuk ke sebuah kamar untuk berbincang-bincang dengan seorang pekerja. Sayangnya kami datang terlalu sore sehingga ketika kami masuk kamarnya, L si pemilik kamar sedang berias siap-siap untuk melayani tamu. Namun L begitu ramahnya dan kami mendapat sambutan yang cukup hangat (teh botoh dan rokok). Mengikuti saran dari fasilitator kami, yaitu untuk tidak memberikan pertanyaan-pertanyaan yang intimidatif dan berat, kami pun mengobrol-ngobrol layaknya orang yang baru berkenalan.Dikarenakan waktu yang terlalu sempit, agak menyesal memang pertanyaan-pertanyaan penting pun tidak sempat tersampaikan.

L berumur enam belas tahun. Sudah setahun bekerja di tempat tersebut karena diajak oleh kerabatnya sendiri yang dulunya juga pernah bekerja di situ. Perlu diketahui ia kerja di situ karena pekerjaan sebelumnya bergaji sangat kecil. Tidak perlu tanyakan masalah sekolah, biaya masuk SMA terlalu mahal bagi keluarga L saat itu.

Selebihnya mungkin serupa dengan berbagai kasus prostitusi yang mungkin pernah kita tahu. Satu kata yang menggambarkan perasaan saya saat itu: Miris.

Bukan hanya karena L diprostitusikan dalam usia masih semuda itu. Tapi juga karena ternyata ketika pendamping kami membuka-buka sebuah buku di samping tempat tidurnya, ia langsung merebutnya sambil berkata "ah jangan dibaca! ini mah keluhan semua isinya". Ternyata L menuliskan keluhannya di sebuah buku, entah dalam bentuk apa. Terlihat bahwa meskipun ia cukup ceria saat itu, L tidak suka melakukan pekerjaannya. Kenyataan yang cukup menyegarkan sebenarnya. Paling tidak ia mampu melampiaskan keluhannya.

Akhirnya kami pun pamit dan berterimakasih karena waktu dandannya yang kami curi untuk ngobrol-ngobrol. Saya pulang dengan sejuta "wow" sana dan "wow" sini karena fakta-fakta di lokasi yang terlalu banyak untuk saya jelaskan saat ini. Saya pun berakhir pada kesimpulan kecil, yaitu jangan pernah menutup mata pada masalah-masalah yang ada di sekitar kita, terutama masalah-masalah kemanusiaan.

"bertengkarlah hingga subuh melerai kita
di ujung lagu disko dangdut di pagi buta"
-Balada Warung Remang

Sabtu, 17 Oktober 2009

Kembang Api dan Biji Kopi

Aku ingin meluncur pesat ke langit
dan "duarrrrrrrrrr" membuncah warna-warni, kembang api
Aku ingin larut dalam pekat melebur
mendidih di tengah cangkir sebelum diseruput, biji kopi


Si kembang api menari-nari
di angkasa berkabaret
atau hanya bergoyang dombret!?
Juga bernyanyi!
Berirama postpunk
atau mungkin Dangdut Kerawang!?

Si biji kopi tak mau kalah
ia pun turut berpolah
Tariannya berputar-putar-putar
ikuti pusaran seiring keluhan gitar
Mungkin kamu pikir si kopi bermusik gothic
padahal tidak, musiknya romantik tanpa lirik

Malam ini pun...
Aku hanya duduk tontoni opera si kembang api
sembari seruput-seruput kecil lewat ujung cangkir kopi

Senin, 12 Oktober 2009

Kita Butuh Bank Kaum Miskin

Miris sekali rasanya membaca berita-berita mengenai pembagian zakat yang ricuh di berbagai daerah nusantara sampai menelan korban jiwa (dari data sebagian besar perempuan). Sebabnya adalah para mustahik (orang yang berhak diberi zakat) yang sedang mengantre ricuh saling mendahului untuk mendapatkan zakat sehingga terjadi kesesakan dan sebagian orang terinjak-injak. Hal ini dikarenakan massa yang datang membludak, melebihi perkiraan si pemberi zakat dan kapasitas tempat pemberian zakat.

Negara kita memang menampung begitu banyak kaum miskin. Bahkan saking banyaknya, istilah 'miskin' pun cukup sering diperdebatkan mengenai siapa dan apa saja karakteristiknya sehingga seseorang dapat dikatakan 'miskin'. Dalam Islam, ada perbedaan antara yang disebut dengan 'miskin' dan 'fakir miskin'. Istilah 'miskin' artinya merujuk pada 'orang yang memiliki pekerjaan, akan tetapi pekerjaannya tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhannya'. Sedangkan 'fakir miskin' digunakan bagi 'orang yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya'.

Kewajiban memberi zakat maupun sedekah bagi orang-orang ini pun memang sudah sewajarnya. Akan tetapi umumnya bantuan semacam ini tidaklah kontinuitas. Karena istilahnya 'hanya memberi ikan, bukan pancingannya'. Jika kita memberi ikan, kita hanya membantu pada saat itu saja. Betul memang kita membantu mengurangi kesusahannya, tapi bukankah setelah bantuan dari kita habis orang tersebut akan tetap menghadapi kesusahan yang sama? Bantuan yang didapat orang-orang tersebut tidaklah terus-menerus. Paling hanya saat bulan puasa, menjelang Idul Fitri, atau Idul Adha. Jadi selain di waktu-waktu tersebut, orang-orang 'miskin' dan 'fakir miskin' itu pun akan tetap susah.

Mungkin sudah saatnya para orang kaya dermawan, seperti Haji Soikhon di Pasuruan acara pembagian zakatnya menelan korban sebanyak 21 jiwa, mengubah sistem bantuannya. Jadi tidak lagi sekedar memberi bantuan yang 'menyuapi', tapi juga memberi bantuan yang bersifat kontinuitas yang disertai dengan pengarahan dalam menswadayakan masyarakat miskin tersebut untuk melakukan usaha yang berkesinambungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Barangkali kita harus berkaca pada Bangladesh, salah satu negara miskin dari negara dunia ketiga. Muhammad Yunus, salah seorang dekan fakultas ekonomi di universitas sana, gerah melihat keadaan kaum miskin di sekitarnya yang sangat mengenaskan begitu tidak sesuai dengan teori-teori ekonomi yang telah ia pelajari dan ia ajarkan kepada mahasiswa-mahasiswanya. Lantas ia pun berinisiatif untuk membuat sebuah lembaga (bank) yang khusus memberikan pinjaman-pinjaman kecil sebagai modal usaha. Pinjaman ini dikenai bunga yang sangat kecil dan harus dikembalikan dalam jangak waktu tertentu yang tidak memberatkan.

Sistem awal bank yang kemudian disebut dengan Grameen Bank ini cukup unik. Grameen Bank memfokuskan pinjamannya kepada kaum perempuan (sampai saat ini anggota Grameen lebih dari 90% adalah perempuan). Hal ini dikarenakan nasabah bank-bank di Bangladesh umumnya didominasi oleh kaum lelaki. Kaum perempuan tidak terlalu dianggap. Awalnya, Yunus pun mendapatkan pandangan pesimis dari berbagai pihak mengenai tidak akan dikembalikannya pinjaman-pinjaman tersebut. Namun pada akhirnya, Grameen Bank dapat membuktikan bahwa pinjmana-pinjaman tersebut 98% dikembalikan. Malahan pinjaman-pinjaman besar yang diberikan bank-bank lain pada orang-orang kaya lah yang sering tidak dikembalikan.

Yunus membuktikan bahwa kaum miskin (khususnya perempuan) memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar terhadap pinjamannya. Mereka menggunakan uang pinjaman tersebut untuk meneruskan usahanya atau pun memulai usahanya. Hebatnya dampak Grameen Bank yang berdiri tahun 1970-an ini terasa saat hampir semua anggotanya meningkat kehidupan ekonominya, sampai mampu memperbaiki rumahnya yang tidak layak. Ia membuktikan bahwa kaum miskin akan merasa memiliki martabat ketika tidak hanya diberi sedekah, tapi juga kepercayaan dalam bentuk pinjaman. Kini Grameen Bank telah berkembang hingga ke berbagai negara dari Amerika Serikat sampai Malaysia. Ia pun menyebut Grameen Bank sebagai 'bank kaum miskin'. Muhammad Yunus, si pendiri Grameen, mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006.

Mungkin hal inilah yang patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia. Kita sepatutunya mengangkat martabat derajat kaum miskin dengan memberinya kesempatan melakukan usaha. Bukan sekedar memberinya sedekah yang dilepas begitu saja. Seharusnya ada bank semacam Grameen di Indonesia yang fokus terhadap kaum miskin dan juga perempuan (semua yang datang ke pembagian zakat di Pasuruan adalah perempuan). Bukan sekedar bank yang memberikan pinjaman kepada para konglomerat yang mau memperluas usahanya yang akhirnya tidak pernah lagi mengembalikan uang pinjamannya.


Referensi:
- "Bank Kaum Miskin", Muhammad Yunus (thanks to inal yang udah minjemin bukunya ;P)

Sabtu, 03 Oktober 2009

Movie Trailer

It’s a movie…
But I just can watch the trailer only. I will never ever watch the movie completely.
W-h-y?
1. The movie never moves on from the ‘coming soon’ panel
2. The tickets was sold out, or worst… it never been sold!
3. The movie was showed on limited screen and it was deserved for invitation only
4. The movie didn’t get the license to be showed
5. The locket was located in a different planet, so I coudn't get the ticket

So, forever it will always just be a trailer.
t-r-a-i-l-e-r.




BUKAN TRAILER YANG INI ;P

Kamis, 24 September 2009

Why So Serious?

Should I jump to the next one million years
or maybe I just simply step to some different frequencies?
Where the technology of these civilization got its scary though excellent record!

Jump
Jump
Jump


step-step-step


to
the
age...


When all the diseases will be cureless. Cz it's already diseaseless.
When all the demon has no angel. Cz it's already demonless.
When all the pain no need to be healed. Cz it's already painless.
And the first thing of all, I will castrate all the feelings that seems will killing.

Oh that's why i do love joker!
Why so serious?

Minggu, 06 September 2009

Basa

dan aku masih saja menari-nari di alam rasa
beropera di panggung rasa yang basa
cicipi ramuan penuh busa
tidak manis, tidak pahit
hanya basa, dengan kata berbait-bait

Sabtu, 05 September 2009

Itu Semua Bohong

tertahan sejenak sistem respirasi
rentetan fakta kusunting jadi fiksi
lidah menari-nari bernarasi
buat mereka percaya
hingga anggukkan kepala

banyak orang yg lupa bahasa mata
hanya tertarik pada kata
akupun tergoda acak realita
berorasi tanpa terbata-bata
mereka yg bodoh
dengarkanku berseloroh

kukubur rasa, turuti kaidah
hempas ego, sedikit resah
kubuat sesuai falsafah
seolah mencolok mata yg menuding salah
kupakai jaket meski gerah
kalian yg menuntut
aku hanya turut

ketika aku berbohong,
fikiranku selalu kosong
entah apa yg mampu membuatku terdorong
untuk teriak kalau itu semua bohong!

Jumat, 04 September 2009

Not A Competiton At All

It's not a competition at all
eventhough you always count the score
It's not a competition at all
even you think you'r the winner
It's not a competition at all
even u put yourself at the red side and me at the blue one
It's not a competition at all
even you label this place as an arena
It's not a competition at all
cz i have no pretension nor a passion
at all...

Menyublim Saja!

Aku mencair
tapi bukannya hilang
aku malah mengalir ke berbagai liang

Aku membeku
tapi bukannya kaku
aku malah banyak terpaku

Aku menguap
tapi bukannya lenyap
aku malah melayang-layang dalam gelap

Aku ingin menyublim saja
menyusut susut sampai kurus
seperti kapur barus

Jumat, 14 Agustus 2009

Karena Dunia Tak Hanya Selebar Layar dan Bahasa Tak Sebatas Tombol-Tombol Qwerty

Kawan, mari bermain masak-masakan
Bukan kawan, bukan dengan tombol-tombol itu
Bukan pula dengan nasi-nasi digital yang mirip bantal
Bukan pula roti-roti animasi tanpa komposisi
Bukan soda-soda raster yang tampak encer

Kawan, mari bermain bola tendang
Bukan kawan, bukan bola yang kamu gelinding dengan jari-jari
Bukan gawang yang kamu jaga dengan joystick
Bukan bola maya yang dikejar oleh kesebelasan 3 dimensi
Bukan pula score yang kamu cetak dengan listrik

Kawan, mari bercakap-cakap dan tertawa
Bukan kawan, bukan dengan tombol qwerty yang tampak mati
Bukan kata-kata rapi Arial 12
Bukan senyum kuning bulat bentukan titik dua dan kurung tutup
Atau sedihnya titik dua dan kurung buka

Mari kawan...
Kita bermain masak-masakan dengan kuku penuh tanah
Lalu bermain bola dengan lutut berdarah
Dan bercakap-cakap sampai tawa pecah!

Jumat, 31 Juli 2009

Dengar Saja

dan aku hanya cerita pada sisa makanan terakhir di piringku
mungkin karena mereka tak bertelinga
mungkin juga karena mereka takkan pernah mengerti
karena aku tak ingin dimengerti
lalu aku berkisah panjang lebar
tentang gula dan kopi yang tak pernah ingin bersatu
tentang aspal-aspal yang terlalu panas untuk dipijak dengan hanya beralaskan sendal jepit yang kau beli dengan gaji tanggung yang tak juga kau syukuri
tentang bakiak-bakiak yang hatam jalan bolak-balik menuju masjid dan berbunyi tok-tok-tok sembari mengintip sajadah-sajadah yang tak tersujudi
tentang mangkuk-mangkuk bubur ayam yang selalu bersih kecuali batang-batang seledri bodoh yang tak pernah kau sentuh
bisa juga tentang garpu-garpu pengangguran yang hanya kau gunakan untuk melengkapi tugas si tangan kiri padahal makananmu hanya kuah
jangan lupakan tentang tetangga sebelah yang kisahnya tumpah ruah namun sok berpetuah

semoga lain kali aku bisa bercerita pada kalian yang bertelinga dan yang tak buta aksara

Senin, 13 Juli 2009

Tagihan Pulsa

Seberapa banyak sel-sel otakku yang kamu minta?
Andai saja bisa aku masukkan pemakaian sel otak ini atas kamu ke dalam suatu bill tagihan, mungkin aku sudah masuk daftar salah satu orang terkaya di dunia versi majalah ternama. Mungkin Mister Buffet pun lewat. Ah tapi tak mungkin pula kamu mau bayar tagihannya!? Selain pasti mahal--otakku ini mahal loh hahaa, kamu juga tak pernah mau untuk pakai sel-sel otak ini. Bahkan parahnya, kamu tak pernah tau. Yang ada kamu hanya akan merasa seolah mendapat tagihan pulsa tanpa pernah merasa menggunakan telepon.

Jadi aku putuskan untuk kali ini menggratiskan saja penggunaan sel-sel otak ini. Semacam paket promosi. Kamu boleh pakai gratis tis tis! Lihat betapa dermawannya aku!?

Hahahaaaa...

Padahal jika ini pulsa telepon, mungkin kamu sudah dapat peringatan dari si provider seluler
"Your telephone cannot be used. Pay it first!"

Selasa, 07 Juli 2009

Blog Awards from Queendom

My first blog awards are as follows:





Thank you to Queendom for sharing these awards. And I’m giving these to 15 fellow bloggers who also deserve such wonderful awards:

01. cogito ergo sum
02. raisa's journal
03. lolipop ganja
04. indieschmindie
05. dhea karlina irwanto
06. smitsus circus
07. house of melancholy jokes
08. kata-kata digital
09. crackpot & esoteric
10. la la land
11. brokoli sehat
12. idup semangat!!
13. think.take.tell
14. R
15. floccinaucinihilipilification

The rules for these awards are:

1) Accept the award, post it on your blog together with the name of the person who has granted the award and his or her blog link.
2) Pass the award to 15 other blogs that you’ve discovered. Remember to contact the bloggers to let them know they have been chosen for this award.

Have fun!

Senin, 06 Juli 2009

Tak Apalah

tak apalah saya kunyah permen white rabbit bermelamin bulat-bulat
sambil dengar kamu oceh-oceh sampe kuping ini berkarat


tak apa jugalah saya dengar kamu nyanyi-nyanyi high tone
asal bisa bedain intronya dewa sama rolling stones






tak apalah saya dipaksa baca-baca kamu sambil minum coca-cola
padahal buat saya teh botol sosro tetep idola

Sabtu, 27 Juni 2009

Terapi Kata

Ada banyak cara untuk terapi. Anda berhak untuk memilih cara mana yang paling tepat. Bagi sebagian orang, mengobrol dapat menjadi satu cara yang tepat. Mengobrol tanpa arah pasti, hanya mengikuti kemana otak menggapai kata, dan kata satu menyambut kata lain, dan dibalas oleh kata oleh si lawan bicara, menunggu balas, dan begitu terus-menerus. Tak ada topik pasti yang ditentukan di sini, tak ada panduan bicara, apalagi mana yang pantas dan tidak. Hanya bicara, menanggapi, mendengar, dan begitu seterusnya.

Hal ini terjadi juga dalam sebuah percakapan digital. Seperti sebuah obrolan digital tanpa arah di bawah ini. Antara si rata dan si labirin.

si labirin: i wished that i am a robot with one metal heart
si rata: sumtimes i am. it's just so flat. flat as a fart with no smell or even sound.
si labirin: flat as the most silence fart
si rata: flat more than a flat plate in my kitchen
si labirin: flat as flat as my stomach without any fat

Lalu kami pun hanya tertawa dungu dan melanjutkan obrolan tanpa sadar bahwa kami telah terterapi oleh kata yang tergapai otak, oleh kata yang terbalas lawan, oleh kata-kata yang terus-terus-dan-terus.

Saya menamainya: TERAPI KATA

Senin, 22 Juni 2009

Pirated Song

you're a song that i sing everyday and you'll never know how hard i try to sing it loudly and wonderfully
you're a genreless song
you're a rock song, blues one, jazz sometimes, lil bit pop, too much disco, even dangdut, classically punk, instrumental lately, what else?
you're sung by Queen, Led Zeppelin, The Cardigans, Janis Joplin, Nirvana, The Beatles, Tupac Shakur, Eminem, Jamiroquai, Earth Wind and Fire, Offspring, The Cure, Alicia Keys, Lily Allen, Shakira, who else?
you're in no label
and that's what make me so insatiable
so i can pirate you anytime
download you anytime
copy you anywhere

Sabtu, 20 Juni 2009

Balada Pasar

pasar tak mampu sembunyikan baladanya
tandaskan haus penikmatnya
karena hanya dalam pasar
aku dapat saksikan keringat-keringat gusar
yang menjamah sebelum subuh dan lunglai selagi ashar
menangkapi keluh-keluh yang terlempar
suguhan menyentuh hingga tampar-menampar
teriringi dangdut layu hingga yang gelegar

seni dasar hidup hadir dengan elegan
ada uang ada barang
barang hilang abang berang
habis tarik nafas saja harus buang nafas
biar semuanya impas!


di pojok kanan pedagang beras
menakar hidup lewat cemas
di ujung tangga penjual bawang
membumbu rasa, meramu terang
di tengah kiri tukang buah
menimbang kelu, membuncah kesah
di emper-emper penjaja sayur
memanja usia, mengikat tempur
paling belakang penjual ikan
menyuguh amis, mengolah kesan
di sela-selanya warung penyedap rasa
memalsu palsu, membajak asa

dan aku rela melangkahi becek
jika dapat kumelahap
sebuah drama balada hidup yang paling nyata
dalam sebuah panggung tanpa omongkosong intelektualitas
memadu dengan cantiknya sebuah pelajaran hidup penuh ambiguitas

dan yang terpenting...
kamu masih bisa menawar di sini

Coretan-Coretan Alter Ego

An alter ego (Latin, "the other I") is a second self, a second personality or persona within a person. It was coined in the early nineteenth century when schizophrenia was first described by early psychologists.[1] A person with an alter ego is said to lead a double life.
The term alter ego is commonly used in literature analysis and comparison to describe characters who are psychologically identical, or sometimes to describe a character as an alter ego of the author, a fictional character whose behavior, speech or thoughts intentionally represent those of the author. (http://en.wikipedia.org/wiki/Alter_ego)


Memang definisi di atas tidak sepenuhnya sesuai dengan 'alter ego' yang dimaksud oleh sekoloni manusia-manusia nyaris labil di The Shout of Alter Ego.

Tapi paling tidak mereka memiliki alasan-alasan kecil nan rapuh sekaligus nyata sebagai berikut...

1. Karena mereka percaya setiap orang punya sisi lain dalam dirinya
2. Karena mereka hanyalah sisi-sisi lain yang butuh diteriakan
3. Karena dunia ini panggung sandiwara dan mereka lelah bersembunyi pada peran-peran protagonis
4. Karena mereka hanya ingin ada tanpa mengada-ada
5. Karena mereka percaya 'dark' tidak selalu berarti gulita dan membutakan, karena terkadang di dalam gelap kita dapat berpikir lebih jernih dan menemukan sesuatu yang tidak dapat kita temukan dalam terang

Just enjoy the darkness!

Senin, 15 Juni 2009

Lamunan

Aku tidak kosong.

Hanya saja selalu seperti ada yang tertinggal di beberapa detik yang lalu, beberapa menit yang lalu, beberapa jam yang lalu, beberapa hari yang lalu, beberapa bulan yang lalu, beberapa jaman yang lalu..

Khayalan-khayalan seperti terus mengejarku untuk melanjutkan bab demi bab, paragraf demi paragraf, kalimat demi kalimat..

yang hanya mampu eksis dalam satu dunia bernama

l.a.m.u.n.a.n.

Jumat, 12 Juni 2009

Hilang Aksara

dimana para aksara
ketika aku ingin berkendara
menjahit huruf-huruf sambil terbang ke utara
meludahi ini itu perkara
karena seketika aku hilang
di pojok masa yang bertualang
dan aku tak pernah memohon terang
karena benderang hanya membuatku makin hilang
dan gelap tidak selalu membutakan
karena gelap slalu memberiku kesempatan

Rabu, 27 Mei 2009

Oralit

aku ingin membuncah di ujung kopi pahit

mencacah diri pada belasan aliran parit

mengurai manis-pedas-asam-pahit yang membelit

menyembuhkan alirannya bagai oralit

Senin, 11 Mei 2009

Rasa Bumi

aku meragu pada gula-gula di lidahku
berprasangka pada rasa manis di ujungnya
mencuriga pada butir-butirnya
karena terkadang
kurasa bumi terlalu dipenuhi ilmu-ilmu gombal
dengan bumbu-bumbu intelektual



sedangkan aku cuma ingin cicipi permen
permen-permen di toples merah muda
merah muda yang lembut
bukan merah muda yang naas
yang selalu berakhir pada kartu-kartu cinta
yang harum dan lembut kertasnya

dan bumi lagi-lagi menggombal

padahal aku cuma haus
haus yang tinggal ditandaskan oleh air
di dalam gelas warna putih
yang ditaruh di atas meja setinggi dua kali tinggi tubuhku
dan bumi selalu meramuku dalam panci logika palsu
jika tidak menjadikanku rempah, maka sampah!

dan aku sudah cukup dengan gula-gula imitasi
yang aku icip bersama bumbu-bumbu penyedap
dan intelektualitas rasa monosodium glutamat

Jumat, 08 Mei 2009

Muka-Muka Terserah

dan aku menulisi kamu lewat tarian patah

mengutuki jari yang lengket oleh lem basah

berdansa di ujung otak tanpa lelah

meracuni segala tatapan gerah

serapahi muka-muka terserah


maaf, ini cuma terapi mental

yang kuhaturkan lewat konsonan dan vokal

Senin, 04 Mei 2009

Dempul

kian menyesap
omongan kakap
harus terlihat cakap
kejar-kejar cap
bahasa abad cerah
padahal sampah
tumpukan serapah
cuma bikin gerah
nyaris muntah
korek-korek ingus
memang genius
bakar ego sampai angus
mendengus-dengus
situ tampak mendesis
bagai ujung keris
volume full
make it meaningful
penuh dempul
padahal tumpul

Sabtu, 02 Mei 2009

A Little Piece of Nasruddin Hoja

Nasrudin is with his cronies drinking coffee:
They are discussing death, "When you are in your casket and friends and family are mourning upon you, what would you like to hear them say about you?"

The first crony says, "I would like to hear them say that I was a great doctor of my time, and a great family man."

The second says, " I would like to hear that I was a wonderful husband and school teacher which made a huge difference in our children of tomorrow."

Nasrudin says, " I would like to hear them say... LOOK!! HE'S MOVING!!!"



Ini salah satu kisah Nasruddin Hoja atau biasa juga disebut dengan Mulla Nasruddin. Kecerdasannya selalu muncul bersamaan dengan kelucuannya.
Yapp, saya sangat menyukai cerita-cerita Nasruddin sejak kecil, lupa tepatnya kapan.
Yang pasti awal mula saya tahu tentang Nasruddin adalah dari buku yang dipinjamkan seorang teman kakak. Bukunya berisi kumpulan kisah-kisah Nasruddin Hoja dan dari situ lah saya mulai penasaran sama sosok satu ini.



Kisah-kisahnya dikenal dampir di seluruh dunia. Dari Soviet, Asia Tengah, Perancis, sampai Amerika Serikat. Namun tidak ada seorang pun yang tahu dengan persis siapa Nasruddin, di mana tinggalnya, kapan dia hidup. Kisah-kisahnya menampilkan dirinya sebagai sosok yang multikarakter dan tak berjaman. Yang pasti, di antara banyak pendapat tentang tokoh ini, Nasruddin adalah tokoh yang benar-benar ada, seperti Abu Nawas.

Kisah-kisahnya selalu universal dan tidak kenal waktu, jaman, bahasa maupun batas-batas geografis, dan mengandung kritik-kritik sosial. Bahkan UNESCO pernah menetapkan tahun 1996 sebagai tahun Nasruddin Hoja. Disebut-sebut bahwa ia tinggal di Turki. Namun itu tadi tak ada yang tahu tepat keberadaannya. Nasruddin lahir di Anatolia pada abad ke-13.



Mulla was once boasting about his ageless strength.
"I am as strong as I was when I was a young man."

"How can that be?" asked people.

"There is a big rock outside my house. I couldn't move it then and I can't move it now!" said Mulla.



Referensi:
- Buku "360 Cerita Jenaka Nasruddin Hoja"
- http://www.sysindia.com/emagazine/mulla/mulla.html
- http://media.isnet.org/v01/sufi/Nasrudin/toc.html
- http://en.wikipedia.org/wiki/Nasreddin
- http://www.geocities.com/photo_photo3030/nasrudin-stories.html
- http://www.afghan-network.net/Funny/1.html

Should I delete it or just cut it

"Should I delete it or just cut it so I can paste it again anytime???"

some people told me to copy and paste it, some other told to just undo it..

ctrl+x? ctrl+v? ctrl+c? ctrl+z?

sumtimes i wish this was a computer world..

Jumat, 17 April 2009

Placebo Screen

It's so theatrically psycothic
imaginary sadistic
an opera of the pathetic
automatically tragic
pseudo-romantic!

Rabu, 15 April 2009

Dengar Saja, Tak Perlu Dimengerti

dan aku hanya cerita pada sisa makanan terakhir di piringku
mungkin karena mereka tak bertelinga
mungkin juga karena mereka takkan pernah mengerti
karena aku tak ingin dimengerti
lalu aku berkisah panjang lebar
tentang gula dan kopi yang tak pernah ingin bersatu
tentang aspal-aspal yang terlalu panas untuk dipijak dengan hanya beralaskan sendal jepit yang kau beli dengan gaji tanggung yang tak juga kau syukuri
tentang bakiak-bakiak yang hatam jalan bolak-balik menuju masjid dan berbunyi tok-tok-tok sembari mengintip sajadah-sajadah yang tak tersujudi
tentang mangkuk-mangkuk bubur ayam yang selalu bersih kecuali batang-batang seledri bodoh yang tak pernah kau sentuh
bisa juga tentang garpu-garpu pengangguran yang hanya kau gunakan untuk melengkapi tugas si tangan kiri padahal makananmu hanya kuah
jangan lupakan tentang tetangga sebelah yang kisahnya tumpah ruah namun sok berpetuah

semoga lain kali aku bisa bercerita pada kalian yang bertelinga dan yang tak buta aksara

Senin, 13 April 2009

Kesenjangan Digital

Masyarakat di jaman ini, khususnya generasi muda, tentunya sudah tak lagi asing mendengar istilah ‘browse’, ‘explore’, ‘www’, ‘email’, 'facebook', 'youtube', 'blog' dan sebagainya. Anak-anak begitu akrab bermain dengan mouse, laptop, dan ‘berjalan-jalan’ menjelajahi dunia lewat layar komputer. Tak terhindarkan lagi kemajuan yang begitu pesat di bidang internet ini. Hanya dalam hitungan beberapa menit, atau bahkan detik, peristiwa yang terjadi di belahan dunia yang lain dapat kita ketahui semudah menekan tombol ‘enter’ di keyboard komputer kita.

Kehidupan social pun telah tergeser oleh cara baru bersosialisasi yang ditawarkan oleh internet. Tidak perlu lagi taman kota, balai desa, atau bar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Facebook, friendster, myspace, atau apa pun itu yang berbentuk situs jejaring sosial merupakan tempat di dunia internet yang memungkinkan kita untuk bersosialisasi dengan orang lain yang berada entah di mana secara maya. Pertemanan secara maya ini memang bukan merupakan kegiatan sosialisasi yang bersifat fisik. Akan tetapi secara psikologis pertemanan di dunia maya mampu menciptakan hubungan parasosial antara satu individu dan individu lainnya.

Internet merupakan suatu teknologi yang tidak pandang umur, ras, ataupun, tempat. Anak berumur 12 tahun saja mampu membuat situs pribadinya sendiri. Sepulang sekolah dan setelah makan siang, ia menyalakan komputernya dan ia pun dapat ‘mengitari’ seluruh dunia dan mencari tahu hal-hal yang ia tidak tahu. Kemudian ia juga mengobrol dengan teman-temannya dengan YM atau yang lainnya. Tak perlu lagi pergi ke perpustakaan untuk mengenal dunia. Tak perlu lagi pergi keluar rumah untuk bercengkerama dengan kawan. Inilah bukti dari besarnya efek internet. Tak hanya berpengaruh pada fungsinya yang dapat mempermudah pekerjaan (seperti pencarian informasi), tapi juga mempengaruhi aspek sosial masyarakat yang cukup dapat diprediksi di tahun-tahun berikutnya.

Internet tidak saja berdampak positif bagi peradaban kita. Banyak kriminalitas yang terjadi di balik pemanfaatan internet. Cyber crime. Meskipun sampai sekarang di Indonesia hukum mengenai ini belum juga rampung dan direalisasikan.

Selain itu, secara global, perkembangan yang semakin pesat ini memiliki dampak berupa kesenjangan digital antara negara maju dan negara berkembang. Mengulas contoh anak 12 tahun di Amerika yang mampu membuat situsnya sendiri. Keadaan yang ironis dapat ditemukan di Indonesia. Seorang anak 12 tahun di Desa Ciumbuleuit, Bandung, bahkan tidak pernah memegang komputer sekali pun. Inilah yang dinamakan ‘kesenjangan digital’. Oleh karena itulah, sebutan internet sebagai teknologi yang dapat dipakai untuk menjelajahi dunia agaknya kurang adil bagi mereka-mereka yang tidak seberuntung kita yang dapat mengakses dan membudidayakn teknologi yang satu ini. Ada beberapa masyarakat yang dapat terjelajahi oleh internet tanpa mampu atau berkesempatan untuk menjelajahi dengan internet.

Untuk mengatasi kesenjangan digital ini, setiap pemerintah di negara-negara berkembang seharusnya menyediakan akses internet alternatif yang ekonomis namun tidak ‘tipis’ secara guna. Agar seluruh masyarakat dapat merasakan dampak positif internet secara mendunia.

Sehingga dengan begitu, tidak hanya anak-anak di negara-negara maju yang mampu bercengkerama dengan istilah-istilah ‘http’, ‘html’, dan ‘www’. Anak-anak di pedalaman Indonesia pun harus dapat merasakan kompleksitas dunia melalui jendela informasi yang tidak lagi hanya berbentuk lembaran-lembaran bernama 'buku', tapi juga melalui layar komputer setelah mereka menekan tombol ‘enter’ di komputernya.

Rabu, 08 April 2009

Balada Nyontreng

Si kertas suara yang lebar banget
Bikin saya greget
Pasti harganya mahal banget






Eh saya malah bingung
Mana si perut lapar ngiung-ngiung














Tapi tampaknya si bapak ini sudah punya pilihan pasti




Nggak kayak saya yang malah terpesona ama ukuran si kertas suara
Pulang dari TPS pun pasang tampang bingung kura-kura


Senin, 06 April 2009

Ocehan Bungkus Rokok

Si bungkus Marlboro, hmm...lagi-lagi Marlboro
Yang penyok di bawahnya menatapku seperi coro
Menyapaku dengan kotak merahnya
Mengintip-intip si kertas aluminiumnya
Isinya kosong
Si kotak rokok tertawa ompong

Aku ingin ngobrol-ngobrol bersama kamu
Bukannya main-main asap si batangan di dalammu
Aku kan nggak punya korek
Lagipula aku suka sesek
Aku ingin lari-lari denganmu diguyur hujan
Biar hujan asam, yang penting aku tak bosan

Mari kita menari di pinggir asbak
Dengan iringan suara kecipak-kecipak
Lepaskan limbah-limbah otak
Lewat tarian nikotin
Sampai akhirnya si bungkus rokok pun pamitan sambil ucapkan salam
"Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin"



-INI BUKAN IKLAN ROKOK ATAUPUN KAMPANYE ANTIROKOK- ;p

Jumat, 27 Maret 2009

Waktu yang Angkuh dan Orde Baru

Waktu itu angkuh, paling tidak menurut saya. "Time will never wait". Waktu ga akan pernah mau menunggu kita, ga seperti bis atau pun angkot. Meskipun teman kita bersedia menunggu kita yang telat janjian, tapi waktu akan terus berjalan tanpa mau menengok ke belakang. Ia akan terus berguling-guling membuat penambahan demi penambahan untuk jumlahnya.
Detik-detik yang tergenapkan oleh menit
Menit-menit yang tergenapkan oleh jam
Jam-jam yang tergenapkan oleh hari
Hari-hari yang tergenapkan oleh bulan
Dan seterusnya.

Mungkin kita bisa belajar sedikit pada waktu dalam hal ini. Filosofi waktu mungkin. Walaupun waktu ga bisa diulang seperti mata kuliah saya yang bernilai D, tapi waktu bisa
dikenang. Hal ini membuat saya mengingat-ingat kembali kejadian-kejadian yang sudah terlewat. Anehnya, banyak hal-hal yang ga terlalu penting atau hal-hal kecil yang justru lebih saya ingat dibanding hal-hal yang besar.

Banyak hal-hal yang saya ingat kembali ketika saya masih merupakan seorang anak kecil yang hidup di jaman Orde Baru. Dulu, mama saya sangat bangga dengan anaknya yang satu ini karena hafal nama menteri-menteri yang berada di bawah kabinetnya Pak Harto. Tiap kali berkunjung ke rumah teman mama atau saudara, mereka pun akan menanyai saya nama-nama menteri tersebut yang akan saya jawab dengan tepat, biasanya (sombong dikit lah). Atau jika mama sedang agak tega, ia akan menyuruh saya menyebut satu per satu nama menteri tersebut. Lambat laun seiring berjalannya waktu, runtuhnya Orde Baru, terlontarnya ide Reformasi, mama pun ga bangga lagi dengan anaknya karena ga bisa lagi hafal nama-nama menteri (Lah menterinya dirubah terus...agak susah buat ngafal). Apalagi di awal masa Reformasi, bongkar pasang kabinet rasanya sudah seperti bongkar pasang mainan puzzle. Akhirnya saya pun menyadari bahwa kehebatan saya waktu itu (hafal semua nama menteri) dikarenakan oleh kabinet yang emang orangnya itu-itu lagi. Sekalipun ada perubahan, paling hanya satu dua menteri saja.

Lain lagi masalah uang. Pernah suatu kali ketika saya sedang ngambek, saya pun hampir merobek selembar uang kertas yang ada di tangan saya. Seketika mama pun mengancam dan menakut-nakuti saya dengan mengatakan bahwa saya akan dipenjara jika merobek uang tersebut (hah...setega itukah negara memenjarakan anak kecil tanpa niat jahat hanya karena ia mau merobek uang kertas!?). Yang belakangan ini pun saya ketahui bahwa mama memang hanya menakut-nakuti saja. Bodohnya saya percaya dan mengurungkan niat tersebut.
Selama masa Orde Baru pula, ketika itu TVRI masih menjadi corongnya bapak-bapak dan ibu-ibu yang menamai dirinya 'pemerintah'. TV-TV swasta lainnya juga terikat dengan aturan-aturan dari pemerintah. Oleh karena itulah, setiap jam 19.00 dan 21.00 seluruh stasiun televisi harus menayangkan program beritanya TVRI. Oleh karena itu juga, setiap kali menonton film lepas di TV yang dimulai jam 20.00 saya ga akan pernah nonton sampai selesai (karena pas jam 21.00 akan ada program "Dunia Dalam Berita" yang wajib tayang di semua stasiun TV, dan pada saat itulah biasanya saya akan tertidur dengan lelapnya). Pada hari-hari besar nasional, saya pun akan kesal karena program yang biasa saya tonton tidak ditayangkan dan diganti dengan pidato dari presiden atau menteri. Ironisnya, sekarang ketika aturan-aturan tersebut tidak lagi berlaku (tidak ada lagi tayangan berita wajib untuk semua TV, tidak ada lagi pidato-pidato), saya malah agak malas menonton TV karena rata-rata acara yang ditayangkannnya pun gak jauh dari judul-judul sinetron yang dibuat sangat kreatif dengan memakai nama-nama pemain utamanya.

Pada masa itu juga, saya begitu akrab dengan iklan-iklan layanan masyarakat yang memang menjadi salah satu program pembangunan pemerintah ORBA, seperti iklan KB (anak dua cukup), iklan "epilepsi tidak menular", ataupun iklan posyandu yang menampilkan seorang ibu yang berkata "anakku bisa berdiri sendiri!". Masih banyak lagi hal-hal yang saya ingat tentang masa kecil dulu yang berhubungan dengan pemerintahan Orde Baru. Merasa harus bersyukur karena hanya merasakan masa Orde Baru sampai kelas 6 SD. Sehingga pikiran saya banyak terbuka dan lepas dari doktrin-doktrin ORBA yang ternyata secara tidak langsung cukup menempel di otak ini.

Cukup lah..saya bahas memori Orde Baru. Semoga kita dapat melewati waktu yang tidak membuat kita berpikir harus kembali lagi dan memperbaiki sesuatu. Waktu memang angkuh, tapi bukan berarti kita juga boleh angkuh dengan menyia-nyiakannya.

Jumat, 20 Maret 2009

Pesakitan

Kamar ini begitu muram
kalau bukan seram
Melukis goresan-goresan hidup
dengan cahaya yang redup
Merekam pilu-pilu
suara masa yang kelu
tanpa seluloid
Mendokumentasikan data-data miris
nan magis
tak ber-hardisk
Mengetalase kenangan-kenangan klise
tanpa klise..
karena ternyata hidup itu polaroid
Meramu rasa bumi
yang tak sesedap indomie
Mengurung kisah-kisah
yang tak segagah si pitung
Mengagungkan doa-doa rakitan
Pesakitan...

Selasa, 17 Maret 2009

Digital Tidak Digital

Salah satu dosen saya bilang sudah saatnya kita beralih ke segala hal yang digital, yang elektronik. Misalnya, dimulai dari bahan-bahan kuliahnya yang semuanya berbentuk digital (non kertas). Bahkan dia juga bilang seharusnya sudah nggak ada lagi catat-mencatat di atas kertas. Digital lah! Mungkin maksud sang dosen kita nyatetnya di notebook, dll.
Sesaat saya mikir "ya..bener juga! Bisa ngurangin pemakaian kertas yang artinya juga menghemat penggunaan produk hutan."

TAPI.........

Di saat terjadi pemadamam listrik yang cukup lama di minggu UTS ini (kalo ga salah se-Jabodetabek, malah Bandung juga katanya)...

CUHHH....
Bahan-bahan kuliah saya (khususnya mata kuliah tersebut) yang berbentuk digital semua tidak bisa dibaca sebelum listrik nyala lagi. Bahkan kalo pun bisa pake laptop, tetep aja nggak lama si laptop bakal nagih di-charge, yang artinya tetep butuh listrik bukan!?
Atau kalo pun pake HP nan canggih yang ada program Word atau Adobe Reader-nya, tetep aja butuh di-charge juga, yang mana berarti...tetep butuh listrik, kawan-kawan!

Ya ya ya...
Bukannya mau nyalahin pak dosen sih. Tapi ternyata peralihan punya konsekuensi, punya syarat-syarat yang harus dipenuhi, butuh adaptasi.

Jadi toh nyatet ala konvensional (di kertas) tetep berguna kan... karena nggak harus pake aliran listrik untuk bisa dibaca...hihi!

Sabtu, 14 Maret 2009

If You Could Edit Your Life

if your life can be edited...
it would be as beautiful as a happy movie, or as great as an oscar one
you could choose the best picture, best angle, best part, best dialogue, even the best soundtrack, anything!!
if you could edit your life..
you could choose your ending, even if you wouldn't choose any endings, cause everything you want was endless.

but if you could do those things..
you'r just exist in a square-blinked-screen.

(akibat seharian ngerjain editan tugas uts produksi berita tv)
-sorry for the terrible grammar!- ;p

Rabu, 04 Maret 2009

Fantasikah?

Inikah realitas yang tidak saya sadari dan masih saya anggap fantasi? Fantasi yang cuma mampu beraksi di alam imaji. Mengkocok-kocok dalam otak mana fakta mana fiksi. Subordinasi. Mungkin saya terlalu mengsubordinasi fakta di bawah imaji. Berpikiran bahwa fakta tak bisa semembahagiakan mimpi. Bahwa fakta tak dapat semembuai khayalan yang bernarasi. Bahwa fakta tak mampu semempesona imajinasi.

Terserah kalau kamu mau sebut saya si pengkhayal. Si pemimpi yang sakit mental. Tapi saya bukan pembual. Cuma suka berkhayal. Apakah jika saya seorang penulis, saya akan membuat satu bab dengan tinta biru dan bab lainnya dengan tinta merah atau hitam atau abu-abu? Abu-abu seperti pikiran saya. Saya mungkin terlalu merendahkan fakta dan memuja fiksi. Sampai ketika menulis pun saya lupa mana fakta mana fiksi. Mana nyata mana imaji. Mana realita mana fantasi.

Salahkan saya jika menganggap semua hal menyenangkan yang saya alami itu fiksi? Semua hal membuai yang saya rasa itu khayal. Semua pesona yang saya lihat itu imajiinasi. Dan semua yang hebat itu cuma fantasi.

Jumat, 20 Februari 2009

Dunia Aksara

Ini dunia aksara. Aksara yang memberi makna pada suara. Yang memberi maksud pada irama. Aksara-aksara yang tergenapkan pada kata, yang tergenapkan pada kalimat, yang tergenapkan pada paragraf, yang tergenapkan pada bab-bab, buku-buku, lagu-lagu, ayat-ayat, sajak-sajak, artikel, orasi, doa, serapah, sampai rayuan sampah.

Ini dunia aksara. Yang tak punya suara tak perlu jera. Karena aksara tak butuh perkara. Tapi aksara tak bisa sebatang kara. Di mana makna kan bermuara.

Di dunia aksara, ada vokal dan konsonan. Ada aksara hidup dan juga mati. Si vokal tak butuh konsonan untuk berbunyi. Tak juga butuh konsonan untuk terucap pasti. Meskipun akhirnya, vokal tetap butuh konsonan untuk dimengerti.

Sabtu, 07 Februari 2009

Mari Nonton Film Berbagi Suami dengan Kacamata Kajian Budaya

Film Berbagi Suami secara langsung menyindir dengan begitu cerdas praktek poligami di masyarakat Indonesia yang merupakan indikasi dari tingginya budaya patriarki di negeri ini. Yang dimaksud dengan patriarki adalah sebuah pemikiran di masyarakat yang menganggap laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada perempuan, dengan kata lain terjadi subordinasi terhadap kaum perempuan.

Pesan patriarki disampaikan dengan gaya ironi. Menyentil dan membuka mata kita semua akan kenyataan yang memang ada di sekitar kita. Ironi ini terdapat di cerita pertama. Salma (diperankan oleh Jajang C. Noor) yang merupakan gambaran dari perempuan berpendidikan tinggi (seorang dokter, sekolah di luar negeri), mandiri, sukses, berpikiran terbuka, juga modern. Di sisi lain, ketika ia mengetahui suaminya menikah lagi, meskipun berat, pada akhirnya ia pun rela untuk dipoligami. Ia merupakan representasi dari hegemoni budaya patriarki. Ini menunjukkan betapa masih sangat tingginya hegemoni patriarki. Sehingga setinggi apa pun pendidikan seorang perempuan dan sesukses apa pun kariernya, ia tetap tidak bisa lepas dari subordinasi kaum lelaki (patriarki). Sebagai wanita karier, Salma menggambarkan perempuan yang dicita-citakan oleh kaum feminis liberal, yakni telah memenuhi kebutuhan akan kesetaraan akan kesempatan perempuan di berbagai area. Sedangkan sebagai isteri, Salma merupakan gambaran dari perempuan yang hidup di bawah patriarki. Begitu juga dengan Imah, isteri ketiga Abah. Di satu sisi, ia merupakan seorang perempuan aktivis. Di sisi lain, ia juga bersedia dipoligami.

Kenyataan ini selaras dengan pemikiran feminisme. Feminisme memiliki argumentasi dasar bahwa wanita ditindas dan ditaklukan oleh pria sebagai konsekuensinya menjadi perempuan. Feminisme juga melihat adanya ketidaksetaraan dan ketidakadilan dalam pola hubungan juga posisi antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tidak lepas dengan adanya konstruksi sosial bernama ‘seks’, yang membagi manusia menjadi menjadi dua, yaitu laki-laki dan perempuan. Kemudian menempatkan laki-laki di posisi pertama dan perempuan di posisi kedua.

Budaya poligami menggambarkan laki-laki yang memiliki kekuasaan (power) atas perempuan. Sedangkan perempuan hanyalah kaum yang hanya bisa pasrah dan menerima apa yang dikehendaki oleh laki-laki.

Di cerita kedua, dapat kita lihat tindakan Siti (diperankan oleh Shanty—isteri ketiga Pak Lik) yang akhirnya kabur bersama isteri kedua dan mejadi lesbian. Ini merupakan penggambaran dari resistensi terhadap ideologi dominan. Resistensi Siti melawan dua hegemoni. Yang pertama perlawanannya terhadap hegemoni patriarki (poligami).

Gramsci mengatakan, “hegemony implies a situation where an ‘historical bloc’ of ruling-class factions exercises social authority and leadership over the subordinated classes”. Berdasarkan teori Gramsci, dalam kasus ini, laki-laki adalah ‘the ruling-class’ sedangkan perempuan adalah ‘the subordinated class’.

Sedangkan yang kedua adalah tindakan resistensi terhadap heteroseksualitas (menjadi lesbian). Di sini Siti melawan hegemoni heteroseksualitas. Gayle Rubin berpendapat, heteroseksual dianggap sebagai the good, the normal, the natural, dan the blessed sexuality, sedangkan homoseksual adalah the bad, the abnormal, the unnatural, dan the damned sexuality. Menurut Butler, ini disebabkan oleh identifikasi yang dipahami sebagai suatu afiliasi atau ekspresi ikatan emosional dengan objek yang difantasikan berada pada kondisi ideal (orang atau bagian tubuh). Yang dimaksud dengan kondisi ideal ini adalah ideal secara normatif. Sehingga hegemonik heteroseksual membuat seksualitas gay dan lesbian tidak berdaya.

Di sini juga digambarkan bahwa Siti tidak menikmati saat berhubungan intim dengan suaminya (Lukman Sardi). Hingga akhirnya ia lebih nyaman saat bersama dengan Mba Dewi (isteri kedua). Berdasarkan teori Foucault, ketika Siti melakukan hubungan intim dengan Pak Lik disebut dengan scientia sexualis. Scientia sexualis adalah kegiatan seksual yang dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan kekuatan, efisiensi, ekonomi tubuh, hubungan konjugal perkawinan, dan heteroseksual. Dilakukan dengan tujuan-tujuan pro-kreatif, bukan kesenangan. Ini merupakan seksualitas Barat modern abad XIX. Sedangkan ketika Siti melakukan hubungan intim dengan Mba Dewi disebut dengan ars erotica, yakni seksualitas yang berorientasi pada kesenangan (pleasure) atau aphrodisia.

Siti, sebagai golongan subordinat, melawan kekuasaan (power) yang mengungkung dirinya. Selain itu, penggambaran perlawanan pun disampaikan saat Siti mengajak Mba Sri (isteri pertama) secara diam-diam untuk menggunakan KB.
Keberadaan Siti dan isteri-isteri Pak Lik lainnya merupakan representasi kuat dari budaya patriarki. Yakni wanita harus melayani suaminya dan menuruti apa katanya.

Di cerita ketiga, Ming (diperankan Dominique) merupakan gambaran dari stereotip tentang representasi perempuan. Ming diidentifikasikan sebagai stereotip perempuan yang genit (secara seksual memancing laki-laki untuk mencapai tujuan tertentu), bak umpan (kelihatan lemah, padahal kuat), dan juga tamak (agresif, lajang). Sementara itu, yang dimaksud dengan stereotip adalah usaha mereduksi orang menjadi serangkaian ciri-ciri atau karakter yang dibesar-besarkan dan biasanya negatif.

(tugas akhir Mata Kuliah Media&Kajian Budaya)

Sabtu, 10 Januari 2009

Jembatan

Jembatan itu masih mendesah setiap kami lewati
Meludahi kami dengan tudingan-tudingan tanpa abjad
Dan kami hanya berjalan pura-pura tak mendengar

Karena hanya itu yang kami dapati
selama hampir separuh usia kami


Mengetuk-ngetukkan bakiak kami di rataan aspal
yang takkan pernah kami akhiri
Sebelum azan magrib, keran mengucur, dan sajadah terbentang
Abjad-abjad tanpa rupa menyeruak dan menggema
Mengucur yang tak terwudhui
Terbentang yang tak tersujudi

Karena senja terlalu singkat untuk dimengerti
dan terlalu merah untuk dilewatkan


Hanya kami yang tahu tentang jembatan itu
Jembatan yang mendesahkan keluh
Jembatan yang menuding tiap kali kami injak
Memelototi bakiak-bakiak kami yang seolah memperawani masa
yang kami bunyikan dari depan pagar rumah
hingga depan pintu masjid

Karena hanya bakiak yang pisahkan
kaki-kaki kami dari misteri jalan-jalan bumi


Dan sampai kini jembatan itu hanya bisa mengeluh
menyeloroh pasti dan meneriaki kami
beserta ketukan bakiak kami