Senin, 15 Desember 2008

Tanpa Konsonan (Menyawer Penyair part.1/2)

remah nasi itu menari-nari di sisi piring
hanya tak melompat, saat ku mengumpat
tandai otak-otak yang telanjang
yang tak tahu cara mengakhiri puisi
menelungkup di ujung khayal
kibar-kibar kata
kata-kata hidup
dan kamu masih hidup
seperti kata-kata yang kamu ucapkan
hidup
berhuruf vokal
garuk telingaku yang gatal
aku bukan asbak bagi debu-debu rokokmu
keranjang untuk sampah pikiranmu
kloset untuk kotoran imajimu
recycle bin bagi virus intelektualitasmu
seiring hembusan nikotin dan tar
celupkan bahasa dalam ludruk cinta buta
buta-buta cinta, cinta-cinta buta
lebih baik aku bodoh
melongo di pojok kelas
menyunduti kepala rokokmu
lalu nyanyi-nyanyi sambil berserapah
menyerapahi kamu dan argumenmu
lewat lagu cinta dungu yang kuhafal
yang kulafalkan tanpa konsonan
karena vokal tak butuh konsonan untuk berarti
tak butuh konsonan untuk terucap pasti
kamu konsonan
dan aku vokal
kita hirup bahasa yang sama
tapi aku tak butuh kamu untuk ada

Selasa, 09 Desember 2008

Anak Mas

kamu meremuk dalam jasad plastik emas
tersinergi dengan bubuk-bubuk rasa
temani masa, penanda rasa, bantu asa
di kala masa-masa
saat kakiku masih muat pakai sendal nomer 33
bajuku masih dibeli di pojok bagian bocah
masih kancingi baju hingga kancing teratas
tidur di antara mama papa
dan selalu jajan di warung pak de
sambil bilang: "anak mas nya satu, pak de!"

(terinspirasi saat klik 'become fans of anakmas' di facebook)