Jumat, 21 November 2008

Menyawer Penyair

kini marlboromu sudah tersulut
terjepit di antara bibir-bibir yang mengkerut
di wajahmu yang carut marut
yang tak pernah mau disebut pengecut
cicit-mencicit cecurut

cit....ciiiiiiiit......cittttttttttttttt....

kamu kira karena kamu nyinyir
kamu jadi mirip penyair
yang tak pernah nyisir
dengan selipan mariyuana di bibir
sambil legakan dahaga dengan bir

biar tehmu sudah diseduh
kamu tetap mengaduh
telingaku jenuh
terus-terusan dengar huruf-huruf keruh
yang tak pernah berlabuh
tapi keluhannya merdu, cair dan membeku seperti lilin
bikin aku ingat nyanyiannya janis joplin
cukup ringan walau tak seenteng lagu-lagu pink

bedebam..bam...bammm.....bammmmmm....

kopiku tinggal ampas
lagumu masih tak terhempas
andai mampu kusumpal telinga ini dengan kapas
untungnya masih dapat kubernafas
mana lagu dangdutmu!?
yang biasa kau nyanyikan sambil disawer
biar kau bilang suaramu mirip cat power
tapi cat power kan gak disawer!

Senin, 03 November 2008

Loncat-Loncat Mimpi

Malam itu kami raih waktu sambil mundur. Tak terasa hingga akhirnya hujan turun dari rintik menjelma butiran-butiran besar. Untung si teman rela bagi kamar untuk semalam. Telantarkan kantuk demi omong-omong yang berputar-putar ke kanan kiri, ke depan belakang. Di awal hari yang lengket, mata pun tak mau lagi negosiasi, bulan saja tak tahan kantuk hingga dia melekuk sabit.

Tidur akhirnya, dengan selimut capek, dan alas mimpi tari-menari dengan lagu-lagu Gipsy King.

Bamboleo...bamboleo....
Di padang rumput, tiga orang bocah lompat-lompat dan menghilang di lompatan kedua belas. Awan pun pecah dan berubah merah.Tapi bukan merah senja. Hanya merah. Merahnya gincu Marilyn Monroe. Dan padang rumput berubah jadi lapangan futsal sempit penuh esmod. Yang di luarnya terparkir Benz sampai Volks Wagen.

Tangan tarik-tarik selimut ungu muda. Adegan mimpi berjalan dengan teknik editing yang sangat buruk. Loncat-locat tanpa kontinuitas. Gipsy King tetap melaju, mengajak dansa.

Baila...baila...baila me...
Ada seorang laki-laki. Kenapa dia?? Kenal saja tidak. Cuma tahu muka, tanpa tahu nama. Kadang suka papasan di jalan menuju kantin. Dia jadi pengantin pria dengan pakaian Jawa. Pelaminannya banyak daun-daun. Kelihatannya palsu. Terlalu kaku untuk jadi daun asli. Namun tak ada pengantin wanitanya. Dan si pengantin pria tadi pun raib. Berubah jadi hajatannya Dewi Persik dan Saiful Jamil dengan adat Betawi.

Seketika panggilan alam kian memaksa. Kaki begitu lihai melangkah ke toilet. Dengan mata yang kembang kempis, ritual pun dijalani, pipis. Seolah tiada jeda, bantal kembali dihantam. Dan layar mimpi mengembang lagi. Seolah mengajak terbang.

Volare....ooh... Cantare... ooh....
Stasiun yang ramai. Tapi tak ada kereta yang lewat satu pun. Di tengah relnya, ada tukang rokok yang joget-joget sambil lipsynch lagu Volare. Lalu seorang pemulung melempar sombrero yang berubah jadi topi Partai Golkar. Tiba-tiba stasiun jadi sepi. Sepi seperti channel TVRI sebelum subuh yang hanya berisi Colour Bar. Tak ada calon penumpang, pedagang, tukang karcis, bahkan aku pun tak ada di situ. Aku ada di antara mimpi dan nyata. Di antara dalam layar dan kursi bioskop. Antara panggung dan kursi penonton. Telingaku dengar suara mimpi dan deruman AC. Mataku lihat bangku-bangku karatan stasiun dan samar-samar jam dinding kamar yang menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.

Setengah sembilan!!! Dan aku janji bertemu seseorang jam sembilan. Seketika aku pun tak lagi berada di antara. Seketika lagu-lagu Gipsy King tertelan entah oleh siapa. Seketika...
aku pun bangun. Dan si empunya kamar berkata: "Lo mandi duluan deh!"