Jumat, 24 Oktober 2008

Sejenis

Tempo itu kamu masih bocah
Kalau ngobrol masih penuh ludah
Ada realita yang buat kamu gundah
Cukup buat kamu terlihat gelisah

Kemarin kamu masih bermanipulasi
Ikuti norma atur fiksi
Gairah muda debum-debum bak perkusi
Penuh obsesi

Tadi pagi kamu masih ingusan
Atur suhu atur kesan
Bukan yang bukan-bukan
Otak penuh khayalan

Tiba-tiba ada pemuda manis
Yang kamu rasai tanpa permisif
Semua orang pun mendesis
Benar kamu suka sejenis

Senin, 20 Oktober 2008

Balada Warung Remang

bertengkarlah hingga subuh melerai kita
di ujung lagu disko dangdut di pagi buta
tak butuh otak di sini
yang ada hanya dengkuran lelah bersembunyi
bungkus-bungkus mini teriak "fiesta!!!"
tapi kalah oleh kencangnya suara kereta

adakah kain-kain itu pakaian?
yang bapak beli karena berlabel donna karan
wangi parfum itu terlalu kuat untuk kalahkan bau kompos
yang bapak semprot dari botol hugo boss
sebelah anting kamu di karpet
sebelahnya lagi jatuh saat kamu joget
dan si supir mabok mendumel "kampret!"
saat kamu lari-lari hampir terpeleset

tadi malam hujan geledek seperti perang
bukan salah bapak kalau tidak pulang
terjebak pula di warung remang
ada marni...
si rambut pendek yang ngomongnya berani
ada bunga...
dengan baju merah dan tampang senga
yang itu vita...
nama aslinya siti tapi diganti biar lebih kota
yang ini mia...
asli tegal pernah jadi mahasiswa
yang paling nyantol ya aida...
kayak indo tapi berlogat sunda

bapak pun mainkan apa yang kamu sebut 'lepis'
sebelum kamu bilang ini tidak gratis
"halah...itu biasa!" kata bapak yang sok kekar
seni hidup itu seni tukar menukar
ada uang ada barang
habis tarik nafas saja harus buang nafas
biar semuanya impas!

Sabtu, 11 Oktober 2008

'...Couldn't he have just smelled an onion...?'

Satu potongan kalimat dari buku yg sebenernya udah lumayan lama gw baca. Tapi entah kenapa menurut gw ini oke banget...

"Well, if I may ask, why did the man kill his wife? In fact, why did he ever have to feel sad to shed tears? Couldn't he have just smelled an onion?"

Ini kata-katanya Hassan ke Ali di The Kite Runner. Hassan ngomentarin ceritanya Ali tentang seorang yang kalo nangis airmatanya itu berlian (kalo ga salah).

Sebuah ironi yang sederhana tapi kena. Keren ya..

Senin, 06 Oktober 2008

Huruf-Huruf Patah

Aku baca kamu
Dari pojok dunia yang tak pernah kamu tahu
Dari rasa yang tak pernah kamu rasa
Bubuhi akalku dengan akalmu
Kamu itu bulir-bulir imajiku yang basahi sebagian detikku
Bahasamu layaknya gumaman bayi yang lekukan senyumku
Menodong sembari menari riang di sela-sela modernitas dan tradisi
Sisi gila di balik kepulan asap yang belokkan khayalanku di setiap gesekan nafas
Suara-suara ganjil yang lengahkanku atas rutinitas
Pemandangan yang tak pernah tak pantas
Aku tulis kamu
Dari pangkal mimpi yang akan kudaki
Dari kotaku yang bukan kotamu
Dari serpihan alam yang kamu sudahi sebelum kamu mulai
Dengan tinta di layar kosmik
Bersama huruf-huruf patah yang kutempel dengan lem basah