Senin, 21 Juli 2008

Memilih Untuk Tidak Memilih

Walaupun Pemilu Presiden masih tahun depan tapi hawanya sudah terasa. Dari mulai musyawarah partai tentang siapa yang maju untuk jadi calon sampai fitur-fitur lainnya yang berhubungan dengan 'milih'.
"Jangan golput!" dikampanyekan di sana-sini. 'Apatis' menjadi satu bahasan seru di forum-forum politik, baik tv maupun media cetak. Orang yang golput dianggap tidak bertanggung jawab dan menyia-nyiakan suaranya yang seharusnya bisa digunakan untuk menentukan arah kemana bangsa ini ke depannya.

Nyatanya orang-orang yang golput tersebut pun bukan tidak memilih. Secara de facto, mereka sudah memilih.
Memilih untuk tidak memilih.
Memilih untuk tutup mata saja dari segala urusan pemerintahan bangsa ini. Memilih untuk hanya numpang tarik dan buang nafas saja di negari ini. Memilih untuk numpang sambung nyawa saja. Memilih untuk lepas dari segala tetek bengek urusan politik. Memilih untuk tidak campur tangan dalam menentukan nama pemimpin mereka kelak.
Tentu dengan konsekuensi mereka pun tidak berhak untuk mengkritik jalannya pemerintahan yang telah terpilih kelak.

Apa pun yang kita lakukan: mencoblos saat pemilu, menjadi kader partai, kampanye, atau bahkan menjadi golput pun... pada akhirnya kita tetap memilih.

Kamis, 03 Juli 2008

We Call it "Jazz" (Be Your Self Even In Your Music List!)

Dari kafe-kafe pojok yang penuh kepulan nikotin dan bergelas-gelas bir sampai ke hotel-hotel berbintang lima.

Dari piringan hitam sampai ke compact disc juga i-pod.

Dari tempat kelahirannya di New Orleans sampai ke segala titik dunia.

Dari Al Jolson, Chaka Khan, Diana Krall sampai Jamiroquai.

Dari Ermy Kulit sampai Tompi.




Yepp..."Jazz"!!!

J

A

Z

Z

Bukan merk mobil keluaran Honda itu! Tapi salah satu aliran musik yang masih sodaranya blues.



Awalnya musik ini ga begitu populer di Indonesia. Genre-nya ga menjadi mainstream seperti musik pop atau pun dangdut. Jazz punya kesan eksklusif (padahal awalnya merupakan musik yang biasa dibawakan di kafe-kafe murahan yang penuh kepulan asap rokok dan aroma bir). Jazz juga punya kesan rumit yang ga bisa dinikmati (padahal jazz ga cuma punya satu varian yang berat-heavy jazz, seperti jazz a la Diana Krall saja, ada juga light jazz ato acid jazz). Meskipun jazz tetap coba dihidupkan lewat album-albumnya Ermy Kulit, Benny Likumahua, Indra Lesmana, Iga Mawarni atau Krakatau Band, saat itu popularitasnya masih kalah dibanding dengan musik-musiknya Krisdayanti, Dewa 19, Kahitna, dan Andre Hehanusa, bahkan Rhoma Irama. Jelas, saat itu jazz ga menjadi pilihan musik mayoritas masyarakat, hanya segelintir.



Lalu, di tahun-tahun awal milenium ketiga (kalo ga salah 2004 ato 2005), jazz mulai menjadi salah satu musik yang digemari anak-anak muda. Mulai populer atau entah hanya sekedar menjadi tren agar dibilang keren. Maliq&d'Essentials dan Tompi menandai kebangkitan awal jazz sebagai musik yang juga bisa dinikmati oleh anak muda. Jazz mulai masuk menjadi mainstream di kalangan anak muda. Maka acara-acara jazz rutin pun mulai dilirik dan ga cuma didatangi kalangan yang itu-itu saja. Java Jazz, Jak Jazz, sampai acara kampus tahunan Jazz Goes To Campus di UI. Acara-acara semacam itu pun menjadi satu pilihan keren untuk didatangi (walopun kadang yang ditonton cuma Maliq ato Tompi). Jazz pun udah ga berkesan seberat dulu lagi. Ribuan anak muda pun akan menjawab dengan bangganya ketika ditanyai jenis musik favoritnya, "Jazz dong...asik gitu!".



Saya sendiri juga suka jazz. Musik-musik semacam Celebrate-nya Lake, Baby You're Mine, Laura Fygi, Selena Jones, Earth Wind and Fire, Incognito, Diana Krall, atau James Brown akrab di kuping ini dari kecil berkat jasa kakak saya yang saban pagi nyetel lagu-lagu tersebut (dari jaman kaset sampe CD). Akrab sekaligus suka, padahal waktu itu saya sendiri ga tahu musik-musik macam itu bernama "jazz" (masih kecil). Tapi jazz ga jadi satu-satunya jenis musik di daftar should-be-listened saya. Blues, soul, rock, hip hop, R n B, pop atau apapun ga pernah jadi pengecualian buat saya. Kalo saya bilang ga suka rock, tapi saya suka Come Out and Play dan Pretty Fly-nya The Offspring, Jaded atau I Don't Wanna Miss A Thing-nya Aerosmith, sampe semua lagunya Queen, hits-hitsnya Franz Ferdinand, Serieus, My Chemical Romance, dan Panic At The Disco. Kalo saya bilang ga suka hip hop, RnB, atau pop...

boong abisss!!! Jelas-jelas sangat tergila-gila dengan kakak Alicia Keys, pernah hafal lagu-lagunya Pink sampe mati-matian ngikutin ngerap-nya Eminem, Black Eyed Peas, sampe Missy Elliot, dan termehek-mehek dengan lagunya Kahitna.

Music is being so unlimited for me. With no genre limit.

Ok..balik lagi ke masalah jazz. Ya, jazz udah bukan lagi musik orang tua yang ga bisa dinikmati oleh anak-anak muda. Pertanyannya...apakah jazz di Indonesia cuma sekedar jadi tren sesaat, baik di sisi musik maupun industrinya? Hanya euphoria pasca suksesnya Maliq&d'Essentials dan Tompi yang diikuti juga oleh Ecoutez juga Parkdrive? Ga beda dengan hebohnya hip hop dan R n B di awal tahun 2000-an (Tofu, T Five, Shania, dsb) yang sekarang kok tampak sepi? Atau ska yang populer waktu saya SD oleh Tipe-X yang sekarang entah kemana?

Budaya latah bukan hal baru bagi masyarakat kita, khususnya di bidang showbiz. Apa yang lagi in saat itu (dalam arti yang masuk ke "arus utama") dianggap yang paling keren. Teringat satu peristiwa yang menurut saya sangat lucu tentang budaya latah. Mungkin kita yang lahir sekitar tahun '90 ke bawah masih ingat ketika para artis (dari yang terkenal sampai yang setengah terkenal) beramai-ramai buka warung makan tenda. Di sekitar jalan Semanggi saat itu dipenuhi oleh warung tenda milik artis. Lalu...abrakadabra!!! Seketika warung tersebut pun satu per satu menghilang...mungkin udah ga tren.hehe...

Semoga saja fenomena latah ini ga terjadi dalam perkembangan musik jazz di Indonesia. Jadi ga cuma in beberapa saat, trus ngilang kayak musik ska tempo itu. Semoga saja jazz di Indonesia semakin berkembang dan diapresiasi lebih dalam, tidak cuma sampai Maliq&d'Essentials titik. Nyatanya suatu perkembangan yang menyenangkan melihat kehadiran musisi-musisi jazz tersebut. Tidak cuma di major label, di antaranya SORE dan White Shoes and The Couples Company membuktikan jazz bisa berjalan pula di jalur indie.


So...let me say: Just be yourself even in your music list!! ; )