Senin, 21 Juli 2008

Memilih Untuk Tidak Memilih

Walaupun Pemilu Presiden masih tahun depan tapi hawanya sudah terasa. Dari mulai musyawarah partai tentang siapa yang maju untuk jadi calon sampai fitur-fitur lainnya yang berhubungan dengan 'milih'.
"Jangan golput!" dikampanyekan di sana-sini. 'Apatis' menjadi satu bahasan seru di forum-forum politik, baik tv maupun media cetak. Orang yang golput dianggap tidak bertanggung jawab dan menyia-nyiakan suaranya yang seharusnya bisa digunakan untuk menentukan arah kemana bangsa ini ke depannya.

Nyatanya orang-orang yang golput tersebut pun bukan tidak memilih. Secara de facto, mereka sudah memilih.
Memilih untuk tidak memilih.
Memilih untuk tutup mata saja dari segala urusan pemerintahan bangsa ini. Memilih untuk hanya numpang tarik dan buang nafas saja di negari ini. Memilih untuk numpang sambung nyawa saja. Memilih untuk lepas dari segala tetek bengek urusan politik. Memilih untuk tidak campur tangan dalam menentukan nama pemimpin mereka kelak.
Tentu dengan konsekuensi mereka pun tidak berhak untuk mengkritik jalannya pemerintahan yang telah terpilih kelak.

Apa pun yang kita lakukan: mencoblos saat pemilu, menjadi kader partai, kampanye, atau bahkan menjadi golput pun... pada akhirnya kita tetap memilih.

Tidak ada komentar: